Buramnya Konsep Muslimah oleh Zulkarnaen

Buramnya Konsep Muslimah oleh Zulkarnaen

Siapakah nama muslimah yang menjadi representasi perempuan Islam hari ini ? Apakah siti Aisyah ? Saya pikir anda tidak setuju. Terahir, beliau dideskripsikan oleh sebuah lagu yang sempat viral. Anda tentu tahu, minimal nadanya. Namun lagu tersebut hanya menyebut sisi ia di rumah tangga, tidak menyebut sisi publiknya. Beberapa orang juga menanyakan soal ini, sosok muslimah yang representatif seideal Islam. Untuk orang-orang tertentu, perempuan dalam Islam sama sekali tak memiliki dokumentasi dalam perjalanan masa lalu. Siapa ? Sebutkan jika ada! Hatta zaman keemasan Islampun, perempuan sama sekali tak terlihat.  Muslimah yang banyak kita saksikan kemudian adalah muslimah yang bermode siti Aisyah–referensinya langsung ke zaman-konteks Nabi!–yang seperti disebut di awal masi buram bagaimana ia di publik. Muslimah hari ini sepertinya hanya memiliki konsep yang jelas soal bagaimana menjadi istri. Ketiadaan referensi soal ini secara pasti diisi oleh referensi yang sudah ada.

Mereka tentu mengambil referensi dari luar–terlebih zaman arus informasi ini–yang sebenarnya mereka yakin itu bukan luar sekali, namun mereka tak yakin 100% itu Islam–keadaannya tak ada referensi yang jelas sebagai platform ataupun worldview. Kalaupun ada, sosok itu adalah sosok siti Aisyah yang sama sekali tak mengkontstruksi pikiran orang soal perempuan yang diinginkan di tulisan ini.

Atau jika boleh bertanya, adakah pikiran lain soal siti Aisyah selain apa yang muncul di benak kita ? Saya pikir tidak ada dan tidak bijak anda mengatakan saya tidak banyak membaca supaya mendapatkan jawaban. Bagi saya, seharusnya bagaimana muslimah itu tak perlu memaksa kita untuk lebih banyak membaca dan lebih dalam untuk sekedar tahu bagaimana seharusnya. Seharusnya ia sudah menjadi common sense layaknya potret perempuan barat di kepala kita. Islam masih kalah mensosialisasikan soal citra perempuannya di publik.

Kajian gender-nya Islampun hadir belakangan sebagai respon terhadap barat. Masa lalu ummat Islam menunjukkan sejarah patriarki meskipun kata mereka perempuan itu mulia–mungkin itu hanya strategi dakwah. Perempuan pada masa awal dakwah diposisikan sebagai manusia sebagai respon atas pandangan perempuan yang tak ada gunanya–mereka dikubur hidup-hidup. Setelah itu, narasi perempuan dalam Islam tenggelam. Sebenarnya pernah sesekali disebut, namun hanya soal istri dan janda saja. Sehingga tak aneh kemudian wacana gender dalam Islam terkesan hanya mencari ayat-ayat yang sesuai dengan gendernya orang barat pada gerakan awal, tentang kesetaraan mendapatkan akses publik. Sampai di sini, soal perempuan dalam Islam tak begitu jelas. Barat sendiri yang masuk dan memberikan deskripsi kepada kita dan kita menyutujui deskripsi itu.

Kita terkesan menginginkan perempuan Islam menjadi perempuan ala barat. Dalam konteks ini soal akses publik. Dunia barat memang kental sekali dengan kesetaraan gender. Baik laki dan perempuan tak ada yang lebih utama, tak ada yang lebih berhak menjadi pemimpin–mereka setara. Perempuan di dunia barat bebas berekspresi dan tak ada kesan tertutup layaknya kesan perempuan muslimah yang tertutup–saya tak bermaksud menjadikan perempuan Islam bak perempuan barat, hanya menguraikan saja. Bahkan kajian gender kita, mirip dengan kajian gender feminis awal.

Pertanyaannya kemudian, tidakah versi gender kita bias barat ? Saya tak bermaksud menolak total bangunan pengetahuan barat, hanya saja menegaskan bagaimana barat mengkonstruksi deskripsi kita tentang hal yang fundamental dalam internal kita sendiri. Hal inilah agaknya yang membuat kelompok Islam kanan kekeh dengan deskripsi perempuan Islam. Bagi mereka, banyak ummat Islam yang ajarannya campur dengan luar Islam–dalam hal ini barat–sehingga wacana mereka ke arah Islam salafussolih, siti Aisyah, kembali ke Qur’an. Kelompok kanan ini dalam perkembangannya tercatat cukup besar populasinya dalam internal Islam. Gerakan mereka masif, terstruktur dan tersistematis–saya yakin, anda mudah menemukan kelompok manusia yang berpikir seperti yang disebut di atas, karena memang masif–terlebih dengan semakin kuatnya pengaruh barat terhadap dunia Islam.

Seakan memang merupakan hal yang harus dilakukan ummat Islam dalam merespon pengaruh barat yang bahkan semakin besar menuju paruh abad 21 ini. Kelompok ini diklaim sebagai Islam “original”  dengan segala pandangan di bawahnya termasuk soal perempuan Islam. Sampai di sini, persepektif perempuan Islam terbagi menjadi versi “original” dan tercampur pengaruh “barat”. Versi pertama agak tertutup, sedang versi kedua agak terbuka.

Atas dasar ini, sulit memutuskan perempuan yang mana yamg menjadi representasi Islam yang pas dalam konteks publik. Jika mengambil versi pertama, perempuan barat pasti mengalahkan perempuan Islam karena ketertutupannya. Sedang jika versi kedua, dilema campuran versi barat.

BACA JUGA  Dandim 1615/Lotim, Rotasi Danramil Dan Perwira Staf Kodim

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA

BACA JUGA  Langgar Aturan PPKM, Hajatan Warga Dibubarkan