Memasuki Tahun Baru: Antara sedih dan senang
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Tuhan semesta alam, yang hingga detik ini masih memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan dan kesempatan hidup. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan kini kita telah sampai di gerbang tahun baru, tahun 2026. Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, tetapi sesungguhnya adalah pengingat yang sangat dalam bagi setiap insan. Di balik ucapan “selamat tahun baru”, tersimpan dua perasaan yang saling bertemu dalam hati seorang mukmin: rasa sedih dan rasa senang.
Mengapa kita bersedih, hadirin sekalian?
Karena setiap kali tahun berganti, sesungguhnya umur kita berkurang. Satu tahun dari jatah usia yang Allah titipkan telah berlalu. Waktu yang telah pergi tidak akan pernah kembali. Setiap detik yang terlewat adalah saksi atas apa yang telah kita lakukan: apakah ia terisi dengan kebaikan, atau justru terbuang dalam kelalaian. Inilah kesedihan orang beriman, bukan karena bertambah tua semata, tetapi karena khawatir apakah usia yang berkurang itu telah diisi dengan amal yang cukup untuk menghadap Allah kelak.
Betapa banyak saudara, kerabat, dan sahabat kita yang tahun lalu masih bersama, kini telah dipanggil menghadap-Nya. Selengkapnya disini 👇


