Berasal dari Langit Oleh Zulkarnaen

Berasal dari Langit Oleh Zulkarnaen

Idul Adha, lalu soal kurban. Kurban secara otomatis muncul dalam benak kita semua, setelah menyebut kata idul adha. Kedua hal tersebut, idul adha & kurban, mungkin karena sudah terlalu biasa bagi kita, kita tak mempunyai jawaban atas pertanyaan “lalu ada apa dengan idul adha & kurban?”. Sepertinya memang, karena sudah terlalu biasa kita dengar, kemudian yang muncul adalah sapi dan sholat idul Adha, lalu tak ada hal lain yang muncul dalam benak kita.
Dalam tulisan ini, penulis (pemula) akan mengetengahkan soal syariat-kurban yang merupakan manifestasi kebenaran Tuhan atau ia memang berasal dari Tuhan. Pendekatan untuk menjelaskan hal ini tidak menggunakan pendekatan wahyu atau tafsir ayat, akan tetapi berdasarkan pendekatan akal-rasional. Kata kebenaran merupakan kata yang cukup kompleks menimbang ada banyak teori soal kebenaran. Misalnya adalah teori korespondensi, sesuatu itu benar, jika sesuai dengan realitas. Ada teori koherensi, sesuatu itu benar, jika ia sesuai dengan hukum logika. Ada teori pragmatis, sesuatu itu benar, jika ia mempunyai manfaat, dan ada banyak lagi teori-teori kebenaran.

Lalu pada dasarnya, manusia mencari yang namanya kebenaran. Dalam konteks ini, filosof Yunani adalah satu contoh yang pas, atau Nabi Ibrahim yang mencari tuhan. Kedua contoh tersebut cukup mewakilkan contoh-contoh lain soal fitrah manusia akan kebenaran. Secara sederhana, kebenaran tak sesimpel apakah ia sesuai dengan realitas atau sesuai logika kita, ia bukanlah apa yang dibela power ranger, bukanlah apa yang dibela Superman atau Batman dan lain-lain. Kebenaran adalah sesuatu kompleks.
Hal yang paling purba kita tahu untuk memahami atau mengetahui yang namanya kebenaran, adalah dengan akal. Bahwa untuk menguji kebenaran akan sesuatu, kita hanya punya akal untuk mengujinya. Termasuk dalam konteks menguji kebenaran Nabi Muhammad atau Al-Qur’an. Entah mengujinya dengan pendekatan sederhana, semisal logika orang awam maupun kompleks, dengan pendekatan metodologi penelitian.

Dalam sejarahnya, para sahabat, sebagai lawan bicara pertama Nabi Muhammad SAW kemudian melakukan pengujian akan kebenaran yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Ada banyak kisah tentang hal ini, salah satunya adalah dialog Nabi dan orang-orang saat itu ketika mengatakan “wahai kaum Quraisy, bagaimanakah pendapatmu bila aku memberikan kabar bahwa musuh akan datang besok pagi atau besok petang. Adakah kamu mempercayainya?. Potongan dialog tersebut, bagi penulis (pemula) cukup mewakilkan soal pendekatan untuk membuktikan apa yang Nabi bawa adalah sesuatu kebenaran yang sedang diuji.
Ada banyak kemudian pendekatan Nabi dalam membuktikan kebenaran yang ia bawa. Tak hanya pendekatan koherensi seperti dalam kisah di atas, namun juga dengan pendekatan yang lain semisal pendekatan pragmatis, benar-bermanfaat. Dalam hal ini tercermin ketika narasi Nabi di awal-awal Islam yang pro akan kemanusiaan. Banyak kemudian pemeluk Islam di awal-awal dari mereka yang lemah, kaum budak. Karena kaum budak akan mendapatkan manfaat dari apa yang dibawa Nabi, minimal pengakuan yang lebih baik dibanding para tuan mereka.
Bahwa kebenaran yang dibawa Nabi adalah sesuatu yang sesuai dengan realitas, sesuai dengan logika, ada manfaatnya. Lalu kemudian para sahabat masuk ke dalam Islam. Di dalam Islam sendiri, mereka diperkenalkan kemudian dengan syariat, baik syariat-kurban dan yang lainnya yang merupakan perintah lanjutan setelah perintah untuk meyakini-percaya akan adanya tuhan dan hal-hal metafisis yang lain.

Salah satu ukuran akal bahwa apa yang dibawa Nabi, dalam hal ini syariat adalah berasal dari tuhan, adalah dengan cara mencari adakah di dalam syari’at yang tak sesuai dengan kemanusian atau bahkan adakah syariat yang sifatnya mendehumanisasi atau bahasa kasarnya malah membunuh kemanusiaan kita.
Syariat adalah bentuk materil dari kebenaran tuhan, karena tak ada sama sekali syariat tuhan yang membunuh manusia. Kesemua syariat bahkan mengandung kebaikan untuk manusia, baik untuk personal maupun sosial. Hal yang paling sederhana yang kita tahu bahwa di dalam syarat terdapat nilai penjagaan, ada penjagaan kehormatan, akal, pengembangan harta, tolong-menolong dan lain-lain.
Tulisan ini tentu bagi penulis (pemula), sangatlah pendek untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya yang namanya syariat-keimanan. Ada banyak karya tulis yang panjang lebar menjelaskan soal ini, namun bagi penulis (pemula), semoga ini cukup sebagai satu tetes air yang dirasakan dalam kehausan kita dalam mencari pengetahuan. Terima kasih

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA