Bela Nabi, Bersatu Lawan Radikalisasi Agama

banner post atas

 

Oleh : Indrawan Nur Fuadi
Ketua HIMMAH NW Komisariat Unram

Untuk memulai tulisan ini, penulis mengajak kita semua untuk mengucapkan “Allahummashollia’ala Muhammad waala alisayyidina Muhammad”. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan kelak mendapat syafaat dari baginda Rasullullah Muhammad SAW. Aamiin

Iklan

Baru-baru ini umat islam dihebohkan oleh pernyataan Presiden Prancis Emanuel Macron yang telah melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Sebagaian besar pandangan dari berbagai Negara diseluruh dunia khususnya negara muslim menyebut tindakan Presiden Prancis ini adalah bentuk pelecehan terhadap umat Islam diseluruh dunia. Pernyataan Presiden Prancis ini pun langsung mendapat respon yang tegas dari negara-negara muslim didunia hingga sampai pada pemboikotan produk-produk buatan Prancis. Tidak terkecuali Indonesia, Presiden Jokowi Widodo turut mengecam keras pernyataan Presiden Prancis tersebut dan mengajak Negara diseluruh dunia untuk tetap menjaga kedamaian dan toleransi antar agama serta fokus dan bersatu melawan Covid-19 yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan global yang belum teratasi.

Beragam sudut pandang mulai berkeliaran akibat pernyataan Macron yang telah mengina Nabi Muhammad SAW. Pernyataan itu dinilai dapat memecah keharomonisan umat beragama diseluruh dunia dan sangat berpotensi menimbulkan konflik horizontal antara negara muslim dan non muslim. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW ini bukan kali pertamanya terjadi dan umat islam seolah menjadi sasaran empuk yang diklaim sebagai kelompok penyebarluasan ideologi ekstrimis yang mengatasnamakan agama. Tentu hal ini menimbulkan kegeraman bagi umat islam diseluruh dunia. Tidak hanya itu, berdampak juga pada keharmonisan beragama yang selama ini sudah cukup berjalan dengan baik, dan akan sangat memungkinkan terpecah belah kembali.

Radikalisasi agama bukan merupakan hal baru yang dihadapi dunia belakangan ini. Perang atas nama agama masih berlanjut hingga saat ini, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa umat islam yang selalu diklaim sebagai pembawa paham ekstrimis atas nama agama. Fakta yang terjadi hingga saat ini justru agama islam selalu disudutkan dengan penyataan-pernyataan yang melecehkan agama islam itu sendiri. Islam diklaim sebagai agama teroris tetapi lihat kondisi yang terjadi saat ini, secara terangan-terangan justru agama islam lah yang telah dilecehkan kesuciannya. Bukankah tindakan tersebut adalah bentuk radikalisasi agama yang nyata bahkan lebih nyata dari tindakan terorisme. Hanya dengan asumsi ‘kebebasan berpendapat’ bukan berarti diperbolehkan menistakan agama manapun didunia ini.

BACA JUGA  Renungan Subuh Sholawat Nabi, Sunnah yang Kadang Terabaikan (Edisi ke-3)

Nabi Muhammad SAW merupakan icon yang menjadi panutan dan suri tauladan umat islam, maka siapapun yang menghina, melecehkan, merendahkan itu merupakan tindakan terorisme terhadap umat islam. Tindakan radikalisasi atas nama agama ini harus segera dilawan dan dihapuskan demi menjaga kedamaian dunia. Akan menjadi persoalan yang serius jika hal ini tidak dihentikan dengan cepat dan tegas. Konflik antar agama akan sangat berpotensi menyebabkan kekacauan dunia bahkan hal yang paling berbahaya adalah potensi konflik yang membuat negara-negara diseluruh dunia sampai mengangkat senjata. Dan tentu hal itulah yang harus dihindarkan demi menjaga keharmonisan beragama dan bernegara.

Namun, disisi satu sisi umat Islam juga harus kritis melihat kondisi ini. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW adalah suatu bentuk panggilan bahwa umat islam harus bersatu dan melupakan perbedaan-perbedaan yang justru menimbulkan konflik internal didalam tubuh islam itu sendiri. Adanya musuh bersama adalah bentuk bahwa umat Islam harus bersatu melawannya.

Ada suatu ungkapan yang menyebutkan.
“kebenaran adalah milik kekuasaan dan untuk berkuasa maka kekuatan adalah sesuatu yang mutlak diperlukan”.

Artinya apa, penghinaan terhadap nabi Muhammad SAW ini terjadi karena adanya power and strength yang dimiliki oleh pihak yang melakukan penghinaan tersebut. Penghinaan itu terjadi karena umat Islam dianggap tidak memiliki power and strength didalam kelompoknya. Selain dari faktor kebencian, kedua faktor tersebut bisa dikatakan adalah salah satu pengaruh mengapa Islam sering menjadi sasaran empuk penghinaan dan penistaan, bahkan paham-paham ekstrimisme tentang agama selalu dikaitkan dengan Islam. Maka untuk menyikapi itu umat Islam harus menunjukkan power and strength yang dimilikinya dengan cara bersatu membentuk barisan dan memperlihatkan bahwa Islam itu tidak kecil, Islam itu ada dimana-dimana, Islam memberikan kedamaian dan cinta akan kedamaian. Sehingga ketika ada power and strength yang ditunjukan oleh umat Islam maka dengan begitu tidak dengan mudah lagi Islam dilecehkan dan dinistakan oleh pihak manapun.

BACA JUGA  PCNW Lotim, Lakukan Diskusi Organisasi Sudah Masuk Tahun Ke Empat.

Terlepas dari bagaimana umat Islam harus bersikap, yang lebih ditekankan dalam tulisan ini ialah memberikan seruan kepada masyarakat dari agama manapun bahwa radikalisasi agama, kebebasan berpendapat yang berpotensi merusak kesucian agama adalah bentuk sikap yang diluar batas kewajaran manusia sabagai mahluk sosial yang seharusnya menjaga perdamaian dan persatuan. Radikalisasi agama, penistaan terhadap agama, pelecehan terhadap tokoh-tokoh dalam agama dengan alasan apapun adalah bentuk tindakan yang mendegradasi nilai-nilai suci dari agama itu sendiri. Perilaku ini harus di lawan karena hanya akan menyebabkan kekacauan dunia serta dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan merusak keharmonisan beragama dan bernegara.

Dan untuk menutup tulisan ini, mari kita bersholawat.
“Allahummashollia’ala Muhammad waala alisayyidina Muhammad”

Editor: Amaq Himmawan