JAKARTA – Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta–Bekasi, Kiai Haji Muhammad Suhaidi, SQ, mengajak para santri untuk menjadikan ilmu, akhlak, kecintaan kepada guru, serta kepedulian terhadap sesama sebagai fondasi utama dalam menuntut ilmu. Pesan tersebut disampaikan dalam pidatonya pada upacara Hari Santri Nasional yang berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, di lingkungan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta.
Upacara Hari Santri kali ini berlangsung dengan nuansa istimewa. Seluruh petugas upacara berasal dari kalangan santri dan menggunakan sarung sebagai identitas khas santri. Selain itu, seluruh rangkaian upacara dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Arab, sebagai bentuk pembiasaan berbahasa Arab sekaligus penguatan tradisi keilmuan Islam di lingkungan pesantren.

Dalam pidatonya, Kiai Muhammad Suhaidi menjelaskan filosofi lima huruf yang membentuk kata SANTRI dalam penulisan Arab, yaitu Sin (س), Nun (ن), Ta (ت), Ra (ر), dan Ya (ي). Menurutnya, kelima huruf tersebut dapat dijadikan pengingat nilai-nilai penting yang harus melekat dalam diri seorang santri.
Pada huruf pertama, Sin, ia menekankan pentingnya keselamatan, kebahagiaan, dan kedamaian. Santri, katanya, harus mampu menghadirkan kebaikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Karena itu, ia mengingatkan agar santri tidak melakukan perundungan atau bullying terhadap teman, melainkan saling menghormati dan berbagi kebahagiaan.
Kepedulian tersebut juga harus diwujudkan melalui sikap menjaga lingkungan pesantren. Santri diharapkan tidak mencoret-coret tembok dan meja, tidak merusak fasilitas, serta merawat tanaman di sekitarnya. Menurutnya, karakter santri yang baik tercermin dari kemampuannya menjaga kedamaian, termasuk terhadap lingkungan tempat mereka belajar.
Selanjutnya, huruf Nun dimaknai sebagai nur atau cahaya ilmu. Kiai Suhaidi menegaskan bahwa ilmu merupakan cahaya yang akan terpancar melalui kesungguhan belajar, kemuliaan akhlak, ketaatan kepada guru, dan kebiasaan bermuzakarah atau berdiskusi. Dengan demikian, seorang santri tidak cukup hanya menguasai pelajaran, tetapi juga harus memperlihatkan perubahan perilaku yang lebih baik.
Adapun huruf Ta dimaknai sebagai Tabi’ul Ulama, yakni mengikuti dan meneladani para ulama. Ia mengingatkan bahwa guru yang mendidik dan membimbing karakter santri, baik dalam pelajaran agama maupun mata pelajaran umum, patut dihormati. Santri juga diharapkan menjadikan ulama sebagai teladan utama dalam kehidupan.
Cinta Guru Menjadi Kunci Keberkahan Ilmu
Dalam pidatonya, Kiai Suhaidi turut membagikan pengalaman pribadi tentang pentingnya mencintai dan menghormati guru. Ia mengisahkan kedekatan batinnya dengan Ustaz Syarifuddin, gurunya di Mu’allimin. Rasa hormat dan kerinduan kepada sang guru, menurutnya, bahkan mampu membangkitkan kegembiraan dan semangat belajar setiap kali mendengar langkah kaki gurunya di lorong sekolah.
Ia juga mengenang kecintaannya kepada Maulana Syekh Zainuddin Abdul Majid, pendiri Nahdlatul Wathan, ketika menimba ilmu di Ma’had Pancor. Saat mengikuti pengajian, ia mengaku kerap menatap wajah sang guru dengan penuh takzim. Penghormatan serupa juga ia tunjukkan kepada Prof. Dr. Khotibul Umam PTIQ, yang fotonya ia simpan sebagai bentuk penghargaan kepada guru.
Dari pengalaman tersebut, Kiai Muhammad Suhaidi menegaskan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan, tetapi juga melalui ketulusan hati, adab, dan kecintaan kepada para guru.
Ia mengaku tidak merasa sebagai orang yang pintar sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun, berkat kecintaan dan ketakzimannya kepada guru, ia bersyukur atas karunia Allah SWT yang memberinya keberkahan ilmu hingga memperoleh amanah memimpin Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan di Jakarta.
Melalui momentum Hari Santri Nasional, ia berharap para santri tidak hanya bangga mengenakan sarung atau mengikuti kegiatan seremonial, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari: menjaga kedamaian, mencintai ilmu, menghormati guru, dan meneladani perjuangan para ulama.
Karena keterbatasan waktu dua huruf berikutnya yaitu Ra (ر), dan Ya (ي) insyaallah akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.




