Tokoh Nahdlatul Wathan Berkumpul di Penggilingan, Bahas Fleksibilitas Dakwah hingga Formula Fikih Zakat Kontemporer
Sinar5News.com | JAKARTA – Sebuah momentum silaturahmi yang sarat akan makna dan gagasan strategis berlangsung di Jakarta hari ini, Senin (13/7/2026). Pertemuan penting ini dilaksanakan di kediaman Ketua Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta, Kp. Pisangan RT 001/003 Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.
Di sela-sela agenda formal serah terima santri dan peserta didik baru (mulai dari jenjang MD, TK, SD, SMP, SMA) dari wali murid kepada pihak Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta, sejumlah tokoh kunci ormas Nahdlatul Wathan (NW/NWDI) berkumpul dalam sebuah dialog santai namun berbobot tinggi.
Pertemuan kultural yang dikemas dalam format “Ketemu Aja Online & Offline” ini dihadiri langsung oleh:
-
Al-Mukarram Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ (Ketua Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta).
-
Dr. TGH. Muslihan Habib, MA (Pengawas Yayasan Mi’rajush Shibyan NW Jakarta, Ketua PW NWDI DKI Jakarta, sekaligus Ketua LAZNAS LPOI).
-
Ust. Rusdi Sofyan Akbar, M.Pd (Ketua LAZ NWDI DKI Jakarta dan Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Akbar Cinere, Depok).
-
Lalu Mahdi, S.Pd, MM (Sekretaris Umum PD NWDI Jakarta Selatan).
Fleksibilitas Dakwah dan Konsolidasi Tanpa Batas
Dalam perbincangan hangat tersebut, TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ menekankan pentingnya mereduksi sekat-sekat formalitas dalam upaya memajukan organisasi. Menurutnya, perjuangan Nahdlatul Wathan di ibu kota dalam bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan ekonomi keumatan menuntut perjumpaan yang intensif.
“Perjuangan ini tidak boleh kaku. Kita perlu banyak bertemu, tidak mesti di tempat formal seperti kantor atau lembaga pendidikan. Di mana saja kita berkumpul, selama itu membicarakan kemaslahatan umat secara santai dan terbuka, justru dari sana sering lahir ide-ide segar untuk memperkuat dan memajukan NW Jakarta,” ujar perintis yayasan tersebut.
Senada dengan hal itu, Dr. TGH. Muslihan Habib, MA mengamini bahwa konsolidasi berbasis flexibility (fleksibilitas) adalah kunci eksistensi di era modern. Perjumpaan setiap saat, baik pada momen formal maupun informal, akan menjaga ritme perjuangan tetap hidup dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Hal ini diperkuat oleh Lalu Mahdi, S.Pd, MM selaku Sekretaris Umum PD NWDI Jakarta Selatan. Dalam kesempatan tersebut, Lalu Mahdi menyatakan kesepakatannya untuk terus melakukan pertemuan demi pertemuan demi jalannya apa yang menjadi program-program organisasi yang ada di Jakarta pada khususnya. Menurutnya, agenda semacam ini sangat positif dan sifatnya sangat segar untuk melahirkan pemikiran-pemikiran yang maju, visioner, serta bersifat kekeluargaan dari hati ke hati.
Konstruksi Fikih Zakat: Transparansi, Regulasi, dan Distribusi Berkeadilan
Sebagai figur yang mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Amil Zakat Nasional Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LAZNAS LPOI), TGH. Muslihan Habib juga membawa diskursus krusial mengenai tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Beliau memaparkan formula distribusi zakat yang ideal demi asas pemerataan dan keadilan sosial.
TGH. Muslihan Habib mengharapkan pengumpulan zakat dari berbagai lini dapat dialokasikan dengan formula perhitungan:
-
90% dialokasikan kembali kepada Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di akar rumput agar asas kemanfaatan langsung (direct benefit) dirasakan oleh mustahik di lingkungan sekitar.
-
10% dialokasikan untuk operasional organisasi penunjang dakwah yang jelas tata kelolanya.
Dari perspektif Fikih Zakat, formula ini selaras dengan prinsip Maslahah Mursalah dan pengelolaan amil yang amanah (al-amin). Beliau menggarisbawahi bahwa seluruh proses ini wajib hukumnya memenuhi dua pilar legalitas:
-
Syar’i (Hukum Agama): Memenuhi ketentuan asnaf dan fiqih pengelolaan harta umat.
-
Regulasi (Hukum Kenegaraan): Tercatat secara rapi, transparan, akuntabel, dan sah di mata hukum perundang-undangan zakat di Indonesia.
Sinergi Filantropi untuk Pendidikan Dhuafa
Gagasan bernas mengenai reformasi tata kelola zakat ini mendapat respons positif dan dukungan penuh dari Ust. Rusdi Sofyan Akbar, M.Pd. Selaku Ketua LAZ NWDI DKI Jakarta sekaligus pimpinan pesantren tahfidz, ia menyatakan siap berkolaborasi secara taktis untuk menggerakkan potensi filantropi umat Islam.
“Kami siap bekerja sama dan bergerak masif mengumpulkan dana ZIS. Potensi besar ini harus diorkestrasi dengan baik agar melahirkan impact nyata, khususnya bagi kaum fakir miskin dan dhuafa,” tegas Ust. Rusdi.
Lebih lanjut, Ust. Rusdi menyoroti bahwa prioritas utama dari pemanfaatan zakat ini adalah keberlangsungan pendidikan anak-anak dhuafa. Dalam pandangan fiqih kontemporer, memberikan akses pendidikan kepada anak miskin termasuk dalam strategi memutus mata rantai kemiskinan secara struktural, yang secara makro masuk dalam cakupan asnaf Fi Sabilillah dan Fakir/Miskin.
Pertemuan hari ini menjadi bukti nyata bahwa Nahdlatul Wathan Jakarta tidak hanya fokus pada proses transfer keilmuan di dalam kelas (serah terima santri), tetapi juga terus memikirkan fondasi ekonomi dan sosial umat demi memastikan panji-panji dakwah NW terus exist dan berkontribusi bagi bangsa. (S5N)




