BUKAN SUPERMAN, TAPI SUPER TEAM: Strategi dr. Satria Ghaibi Saputra dalam Membangun Sistem Pendidikan Unggul di Acprilesma
JAKARTA, Sinar5News.com – Di sela-sela kesibukan Rapat Kerja (Raker) Hari Kedua Yayasan Pendidikan Acprilesma yang berlangsung khidmat di Aula Graha Acprilesma Lantai 1 pada Selasa, 7 Juli 2026, kru media SinarLIMA berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Ketua Yayasan Pendidikan Acprilesma, dr. Satria Ghaibi Saputra, S.AP, M.Si.
Dalam perbincangan hangat ini, beliau memaparkan visi besar, transformasi kurikulum, pembangunan sistem yang mandiri, hingga refleksi mendalam terhadap warisan perjuangan Almarhum Ayahanda Profesor Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM. Berikut adalah petikan wawancaranya:
Penyelarasan Visi Misi dan Tantangan Transformasi
SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
dr. Satria: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
SinarLIMA: Mohon izin Bapak untuk memperkenalkan diri kepada para pembaca dan pemirsa SinarLIMA.
dr. Satria: Ya, intinya saya dokter umum di Jakarta yang saat ini diamanahkan sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Acprilesma.
SinarLIMA: Alhamdulillah. Terkait dengan Raker hari kedua yang sedang berlangsung ini, bisa dijelaskan apa hasil sementara dan tujuan utama diadakannya kegiatan ini?
dr. Satria: Yang paling utama adalah memastikan seluruh program kita bergerak sesuai dengan visi dan misi yayasan. Ada tiga misi utama yang kita bedah di sini:
-
Pelatihan SDM dan Tenaga Pendidik: Untuk melahirkan SDM yang unggul.
-
Membangun Sinergi: Menyelaraskan gerak antara badan penyelenggara (Yayasan) dan pelaksana pendidikan di semua unit, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMK Laboratorium Jakarta.
-
Optimalisasi Dana: Mengelola anggaran secara efektif dan efisien demi mencapai cita-cita lembaga.
Untuk menjadi lembaga yang unggul dan reliabel (reliable), kita butuh koordinasi, ngobrol, dan diskusi. Kami dari pihak yayasan—bersama Ketua Pengawas, Pak Joko—memberikan arah strategis. Misalnya, kalau ada program bilingual, pelaksanaannya di lapangan seperti apa. Kita juga menerima masukan (input) dari unit-unit, termasuk hasil bedah sekolah atau “otopsi” sekolah yang dipandu oleh konsultan kita, Pak Helmi. Kita cari jalan tengahnya agar semuanya linear.
SinarLIMA: Secara umum, materi Raker ini sangat padat dan berbobot. Apakah tidak menjadi beban yang terlalu berat bagi para guru di lapangan?
dr. Satria: Kalau dibilang berat, jujur ini lumayan berat. Apalagi dari kemarin hingga hari ini ada materi yang berkaitan dengan medis, istilah anatomis, fisiologis, nama-nama otot, hingga transformasi menuju sekolah bilingual berskala global.
Namun, saya merefleksikan ini dengan prinsip dakwah Rasulullah SAW. Di awal dakwah, pengikut beliau hanya satu, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Baru setelah hijrah, masuklah Umar bin Khattab yang membawa perubahan besar bagi Islam. Memang awalnya terasa berat. Kita pun tidak punya Malaikat Jibril yang langsung membisikkan wahyu apakah langkah kita 100% benar atau salah. Tapi Allah membekali kita dengan kewajiban untuk ikhtiar dan istiqomah.
Jadi tidak apa-apa kita punya cita-cita yang besar. Seperti kata pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Kita jalani dulu, berikhtiar di awal, sambil terus mengevaluasi berdasarkan masukan para mentor dan konsultan.
Evaluasi Berbasis Data dan Ketegasan Program Kerja
SinarLIMA: Bagaimana bentuk evaluasi berkala yang dirancang dari hasil Raker ini agar memberikan manfaat nyata?
dr. Satria: Kita sudah menentukan arah lewat lembar kerja (worksheet) yang dikumpulkan oleh guru-guru melalui Pak Helmi. Di sana dianalisis dengan metode 5W secara tajam. Misalnya, kenapa sebuah sekolah bisa kekurangan murid, atau kenapa dari target 100% hanya tercapai 80%. Dari sana kita punya gambaran untuk monitoring.
Yayasan membuka ruang selebar-lebarnya untuk diskusi dan bertumbuh bersama. Kami tidak ingin kebijakan ini hanya berjalan satu arah dari yayasan saja. Kami tanya kepada sekolah: “Harapan ini sudah dilakukan belum? Kesulitannya apa? Tantangannya apa?”
Namun, perlu dicatat, ada hal-hal yang sifatnya diskusi (seperti program bilingual atau penanaman karakter yang masih butuh proses trial and error), tapi ada juga hal yang sifatnya instruksi satu arah yang wajib dilaksanakan.
SinarLIMA: Apa saja program yang sifatnya instruksi satu arah tersebut, Dok?
dr. Satria: Program-program yang sebenarnya dulu sudah berjalan sukses, tapi sempat meredup. Saya tegaskan:
-
Wisuda Al-Qur’an dan Tahfiz: Target anak SMP wajib hafal Juz Amma/Surah Yasin di kelas 9 sebagai syarat pengambilan ijazah. Itu harus terjadi bagaimanapun caranya.
-
Kegiatan Ekstrakurikuler: Drumband dan angklung harus dihidupkan kembali tahun ini.
-
Pembelajaran Qurban: Kita ingin mengulang masa lalu di mana anak-anak belajar langsung melihat proses penyembelihan hewan qurban (sapi/kambing), bukan lagi lewat boneka. Insya Allah tahun depan yayasan akan menstimulus dengan menyumbang satu sapi.
Reorganisasi Kurikulum: Melahirkan KOSP Berbasis Nilai
SinarLIMA: Bagaimana upaya nyata agar program-program besar tadi tidak terbengkalai di tengah jalan?
dr. Satria: Kami bersama konsultan, Pak Helmi, tidak hanya mengurusi program bilingual, tetapi juga merombak struktur kurikulum. Kita telah sepakat menaikkan jumlah Jam Pelajaran (JP) menjadi sekitar 47 JP per minggu. Konsekuensinya, jam pulang sekolah mungkin bergeser hingga pukul 15.00 atau 15.30 WIB.
Dengan penambahan jam ini, pelajaran seperti Tahfiz dan Seni Budaya masuk ke dalam struktur jam reguler. Kami menata ulang porsi jam pelajaran tanpa mengesampingkan regulasi pemerintah. Sebagai contoh:
-
Tahfiz: Kini mendapatkan porsi 2 JP (60 menit) setiap hari khusus untuk setoran, murojaah, dan belajar tajwid.
-
Seni Budaya: Langsung fokus pada praktik. Tidak ada lagi hafalan teori yang rumit di kelas, melainkan langsung praktik main band, menari, atau bermain musik. Sehingga 80% hasilnya bisa langsung kita tampilkan.
Kami mengembangkan KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan) secara mandiri. Pemerintah membolehkan setiap institusi mengembangkan kurikulumnya sendiri sesuai dengan values (nilai-nilai) lokal sekolah. Nilai kita adalah akhlak mulia dan berdaya saing global. Jadi, akselerasi bahasanya harus kuat.
Membangun Sistem yang Mandiri: “No Superman, Perfect Super Team”
SinarLIMA: Melihat dinamika Raker dua hari ini yang berjalan sangat bagus, bagaimana persiapan di balik layar yang Dokter lakukan?
dr. Satria: Sesuai role model kita, Rasulullah SAW, saat Perang Badar hal pertama yang beliau kuasai adalah jalur logistik dan strategi. Persiapan adalah kunci. Sebagai pemateri, saya harus terus belajar, membaca, dan mengikuti kelas-kelas online mengenai isu agama, kondisi milenial, serta keterampilan abad ke-21 (21st century skills).
Belakangan ini, isu yang paling relevan di lingkungan kita adalah kesehatan—banyak guru atau staf yang mengeluhkan kondisi fisik. Maka isu kesehatan ini yang kita angkat di Raker, dengan didampingi konsultan serta praktisi kesehatan berpengalaman.
SinarLIMA: Dengan gebrakan baru ini, apakah sudah dipikirkan upaya kaderisasi agar program ini terus berkelanjutan di masa depan?
dr. Satria: Sudah, sistemnya sudah kita rancang. Saya bahkan sering berseloroh kepada tim: “Saya ingin membuat diri saya menjadi orang yang sangat tidak berguna di sekolah ini.”
Maksudnya apa? Saya ingin membangun sistem (SOP) yang kuat. Jadi, ada atau tidak adanya pimpinan secara fisik, roda sekolah tetap berputar dengan kualitas yang sama cantiknya.
-
Ketika ada orang tua murid datang, alur dari penerimaan hingga pembayaran tes sudah jelas.
-
Jika ada anak inklusi (autis) yang tantrum, guru-guru sudah tahu dokumen penanganan dan SOP-nya.
-
Saat kelulusan atau wisuda, rundown acara dan penampilan sudah tersistem rapi.
Saya ingin sekolah-sekolah kita seperti restoran global (McDonald’s)—di unit mana pun kita datang, standar pelayanannya persis sama. Tidak boleh tergantung pada figur pimpinan tertentu. Di sinilah kita menghapus era “Superman” dan menggantinya dengan “Super Team”. Semua stakeholder dan elemen sekolah harus terlibat dan bergerak bersama.
Melanjutkan Legasi Sang Profesor dan Batas Pengabdian
SinarLIMA: Bagaimana Dokter melihat figur Almarhum Ayahanda Profesor, dan bagaimana nilai-nilai beliau membentuk gaya kepemimpinan Dokter hari ini?
dr. Satria: Almarhum adalah sosok yang tidak banyak bicara, tetapi selalu berbicara dan mendidik lewat contoh (leading by example). Beliau bekerja dengan hati, karena beliau percaya sesuatu yang berangkat dari hati akan kembali ke hati. Beliau tidak menyukai hal-hal yang hiperbola, terlalu manis, atau romantis secara semu. Bahkan teguran keras beliau di masa lalu justru menjadi pemantik motivasi terbesar bagi saya.
Satu hal yang paling membekas dari beliau adalah pentingnya bersyukur. Beliau selalu mengingatkan esensi surah Al-Fatihah: Alhamdulillah—sudahkah kita bersyukur hari ini? Nilai-nilai itulah yang melekat di memori saya sejak kecil karena sering diajak mendampingi beliau dalam berbagai agenda. Pemandangan itulah yang kini saya adaptasi dan aplikasikan selama menjabat sebagai Ketua Yayasan.
SinarLIMA: Terakhir, apa pesan pamungkas Dokter kepada seluruh guru dan staf Yayasan Pendidikan Acprilesma setelah penutupan Raker ini?
dr. Satria: Tetap semangat! Nanti saya akan nyanyikan sebuah lagu ciptaan guru besar kita ayahanda Prof. Dr. Agustitin Setyobudi, MM yang berjudul “Guru Hebat”. Lagu itu merupakan ungkapan terima kasih mendalam atas ketulusan guru-guru yang dengan rasa syukurnya terus menanam benih kebaikan di taman Sekolah Laboratorium Jakarta demi menyinari budi pekerti anak didik.
Sesuai prinsip Almarhum Profesor, tujuan kita di sini adalah “melewati batas pengabdian kepada Allah”. Walaupun mungkin khidmah kita belum maksimal sesuai keinginan ideal, yang penting buatlah karya dulu, bergerak mendekati batas pengabdian tersebut.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Inshiqaq ayat 6:
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
Intinya, kita harus terus bergerak. Bukan bergerak asal-asalan, melainkan bergerak dengan perhitungan dan sistem yang matang. Mengenai hasil akhirnya, mari kita pasrahkan dan tawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.
SinarLIMA: Masya Allah, sebuah visi yang sangat luar biasa. Terima kasih banyak atas waktunya, dr. Satria. Semoga Yayasan Pendidikan Acprilesma semakin maju dan sukses.
dr. Satria: Sama-sama, terima kasih kembali. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
SinarLIMA: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.



