Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi dambaan setiap muslim. Perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani yang penuh dengan pelajaran, pengorbanan, dan penghambaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, keberhasilan haji yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian manasik, tetapi juga dari perubahan diri yang tampak setelah kembali ke tanah air.
Seorang jamaah haji telah melewati berbagai pengalaman yang sangat berharga. Ia meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan hidup demi memenuhi panggilan Allah. Di Tanah Suci, ia mengenakan pakaian ihram yang sederhana tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan. Semua berdiri sama di hadapan Allah SWT. Pengalaman ini mengajarkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan duniawi, melainkan oleh ketakwaannya.
Setelah kembali dari haji, seorang muslim diharapkan membawa perubahan yang nyata dalam kehidupannya. Perubahan pertama adalah meningkatnya kualitas ibadah. Shalat menjadi lebih khusyuk, zikir lebih sering dilakukan, dan hubungan dengan Al-Qur’an semakin dekat. Pengalaman beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi hendaknya menjadi motivasi untuk menjaga semangat ibadah sepanjang hayat.
Perubahan kedua adalah akhlak yang semakin baik. Haji mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Selama menjalankan ibadah haji, jamaah menghadapi berbagai ujian seperti cuaca yang panas, kepadatan manusia, dan perbedaan budaya. Selengkapnya baca di Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 291
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.ASNAHDLATUL CQ SU




