MT Hamzanwadi: Ustadzah Atikah Kupas Tuntas Manasik Haji dan Pentingnya Istiqamah

MT Hamzanwadi: Ustadzah Atikah Kupas Tuntas Manasik Haji dan Pentingnya Istiqamah

Jakarta, 10 Mei 2026 — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai pengajian bulanan Majelis Taklim Gabungan Hamzanwadi yang digelar di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Ahad (10/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ustadzah Atikah menyampaikan tausiyah yang sarat ilmu, motivasi, dan sentuhan humor tentang ibadah haji, umrah, serta pentingnya istiqamah dalam menjalankan amal ibadah.

Di awal ceramahnya, Ustadzah Atikah menjelaskan bahwa terdapat tiga macam tata cara pelaksanaan haji, yaitu Ifrad, Tamattu’, dan Qiran.

Menurut beliau, jamaah haji asal Indonesia umumnya menggunakan haji Tamattu’, yaitu mengerjakan umrah terlebih dahulu, kemudian setelah selesai dan tahallul, jamaah kembali berihram untuk menunaikan haji.

“Pelaksanaan haji itu ada tiga: Ifrad, Tamattu’, dan Qiran. Jamaah Indonesia kebanyakan memakai haji Tamattu’,” jelasnya di hadapan para jamaah.

Beliau juga mengingatkan bahwa ibadah haji dan umrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati untuk meraih ketenangan jiwa, kelapangan rezeki, dan keberkahan hidup.

“Kalau pulang umrah hati kita tenang, rezeki lancar, rugi apa?” ujarnya, yang langsung disambut senyum dan tawa jamaah.

Untuk menambah semangat para jamaah, Ustadzah Atikah mengajak seluruh peserta melantunkan bacaan talbiyah:

“Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk, la syarika lak.”

Dokumentasi saat berlangsungnya pengajian 10/5/26

Beliau menuturkan, talbiyah merupakan jawaban seorang hamba atas panggilan Allah SWT untuk menjadi tamu-Nya di Tanah Suci.

“Yang sudah berangkat umrah kita doakan sehat semuanya. Yang belum, semoga Allah mudahkan untuk berziarah ke makam Rasulullah ﷺ dan ke Baitullah,” tuturnya.

Materi utama yang disampaikan Ustadzah Atikah adalah tentang istiqamah, merujuk firman Allah SWT dalam Surah Al-Qur’an, Surah Fussilat ayat 30.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih.”

Beliau menjelaskan bahwa istiqamah berarti terus-menerus, tekun, dan konsisten dalam menjalankan ibadah.

“Salat istiqamah, sedekah istiqamah, ngaji istiqamah. Jangan semangat hanya di awal,” pesannya.

Menurut beliau, orang yang istiqamah akan mendapat pertolongan Allah, bahkan ketika menghadapi sakaratul maut.

Dengan gaya khas yang santai dan penuh humor, Ustadzah Atikah juga menasihati jamaah agar menjaga hati dari sifat iri, dengki, dan “julid”.

“Kalau kita baik kepada orang, pasti kita akan dibaikkan. Kalau sudah baik tapi masih dijulidin, itu urusan dia dengan Allah,” katanya.

Beliau mengajak para ibu untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki hati, serta tidak sibuk memikirkan kekurangan orang lain.

Dalam ceramahnya, Ustadzah Atikah mengulas hadis terkenal tentang kedatangan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ yang menanyakan empat hal:

  1. Apa itu Islam
  2. Apa itu Iman
  3. Apa itu Ihsan
  4. Kapan terjadinya kiamat

Beliau menegaskan bahwa ihsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, yakinlah bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan kita.

Di penghujung acara, Ustadzah Atikah mengajak seluruh jamaah membaca Surah Al-Fatihah dan mendoakan pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Kiai Haji Muhammad Suhaidi beserta istri, Ustazah Siti Saudah, serta seluruh keluarga besar pondok.

“Semoga Allah sehatkan jasmani dan rohani beliau, dipanjangkan umurnya, dan diangkat semua penyakitnya,” doanya yang diaminkan oleh para jamaah.

Pengajian bulanan tersebut berlangsung dengan penuh antusias. Selain menambah ilmu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat jamaah untuk terus istiqamah dalam menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah SWT.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA