Tafsir Pendekatan Syair Al Baqarah 247
Allah Mengangkat Thalut Sebagai Raja
Karya : Abu Akrom
Pada zaman dahulu kala
Nabi mereka telah berkata
Sungguh Allah mengangkat raja
Yaitu Thalut pemimpin mereka
Mereka berkata seenaknya
Bagaimana mungkin dia raja
Kami lebih berhak atasnya
Karena kami orang kaya raya
Sedangkan dia tak berpunya
Harta bendanya tak seberapa
Sungguh ini tak adil rasanya
Wahai nabi kami yang mulia
Nabi merekapun menjawabnya
Demikianlah Allah Ta’ala
Memilih dia menjadi raja
Dengan ilmu dan fisiknya
Thalut terpilih sebagai raja
Sesuai dengan kehendak-Nya
Allah maha luas kuasa-Nya
Maha mengetahui apa saja
Jakarta, 19 Dzulqa’dah 1447 H/6 Mei 2026 M
Prolog: Kisah di Balik Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul)
Setelah wafatnya Nabi Musa AS, kaum Bani Israil kehilangan arah dan sering ditindas oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam keputusasaan, mereka mendatangi nabi mereka saat itu (sering disebut Nabi Samuel AS) dan meminta agar diangkat seorang raja supaya mereka bisa berperang di jalan Allah untuk merebut kembali tanah air dan kehormatan mereka.
Namun, ketika Allah menjawab doa tersebut dengan memilih Thalut, muncul gejolak. Thalut bukanlah dari kalangan bangsawan atau orang kaya, melainkan seorang penyamak kulit atau penggembala yang jujur. Inilah yang memicu perdebatan yang kemudian diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 247, yang menjadi inspirasi utama syair ini.
Analisis Per Bait Syair
1. Maklumat Langit untuk Bumi
Pada zaman dahulu kala Nabi mereka telah berkata Sungguh Allah mengangkat raja Yaitu Thalut pemimpin mereka
Penjelasan: Bait ini menggambarkan momen sakral ketika kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh ambisi pribadi, melainkan oleh ketetapan Tuhan (divine appointment). Nabi menyampaikan amanah bahwa otoritas kepemimpinan telah diberikan kepada Thalut. Ini mengajarkan kita bahwa sejatinya kekuasaan adalah titipan yang berasal dari kehendak Allah.
2. Benturan Ego dan Materialisme
Mereka berkata seenaknya Bagaimana mungkin dia raja Kami lebih berhak atasnya Karena kami orang kaya raya
Penjelasan: Di sini penyair memotret penyakit hati yang sering melanda manusia: kesombongan berdasarkan materi. Kaum tersebut merasa lebih layak memimpin hanya karena mereka memiliki harta. Bait ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak menilai kualitas seseorang hanya dari isi dompet atau status sosialnya.
3. Standar Keadilan yang Keliru
Sedangkan dia tak berpunya Harta bendanya tak seberapa Sungguh ini tak adil rasanya Wahai nabi kami yang mulia
Penjelasan: Bait ketiga menunjukkan betapa seringnya logika manusia berbenturan dengan hikmah ketuhanan. Mereka menganggap ketidakpunyaan Thalut sebagai ketidakadilan. Padahal, standar keadilan Allah jauh melampaui perhitungan angka-angka duniawi. Kemuliaan seseorang tidak terletak pada apa yang ia miliki, tapi pada apa yang ia mampu berikan.
4. Kualifikasi Pemimpin Sejati
Nabi merekapun menjawabnya Demikianlah Allah Ta’ala Memilih dia menjadi raja Dengan ilmu dan fisiknya
Penjelasan: Inilah bagian yang paling inspiratif. Allah memberikan jawaban telak tentang syarat kepemimpinan: Kapabilitas (Ilmu) dan Kapasitas (Fisik/Kekuatan). Thalut dipilih karena luasnya wawasan dan kekuasaan raga yang prima untuk memimpin perang. Ini adalah pesan modern tentang profesionalisme; bahwa jabatan harus diberikan kepada mereka yang kompeten secara intelektual dan tangguh secara operasional.
5. Penyerahan Diri pada Ketentuan-Nya
Thalut terpilih sebagai raja Sesuai dengan kehendak-Nya Allah maha luas kuasa-Nya Maha mengetahui apa saja
Penjelasan: Bait penutup ini membawa kita pada sikap tawakkal dan husnuzan kepada Allah. Sebagai Dzat yang Maha Luas (Wasi’) dan Maha Mengetahui (Alim), Allah tidak pernah salah pilih. Keputusan-Nya selalu mengandung maslahat yang mungkin tidak terbaca oleh logika sempit manusia.
Pesan Utama Syair
Syair karya Abu Akrom ini secara cerdas mengingatkan kita bahwa kepemimpinan adalah soal tanggung jawab, ilmu, dan karakter, bukan soal warisan atau tumpukan harta. Ditulis di Jakarta pada momentum yang bersejarah (6 Mei 2026), karya ini menjadi pengingat yang segar bagi pembaca modern untuk kembali melihat esensi dari seorang pemimpin sejati.
DATA PENULIS
-
Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)
-
Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)
-
Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.
-
Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.
-
Karya: Penulis puluhan buku & Pencipta 12 album lagu religi.
-
Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV
-
Kontak: 0878-8727-0732



