Haris Firmanto: Pengusaha Baut Jakarta yang Mengetuk Pintu Langit Lewat Sedekah

Haris Firmanto: Pengusaha Baut Jakarta yang Mengetuk Pintu Langit Lewat Sedekah

Haris Firmanto: Pengusaha Baut Jakarta yang Mengetuk Pintu Langit Lewat Sedekah

BEKASI, Sinar5News.com – Waktu menunjukkan tepat pukul 00.00 WIB. Di tengah keheningan malam yang menyelimuti Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus, Bekasi, suasana terasa begitu hangat. Di bawah cahaya lampu temaram, penulis berkesempatan duduk bersama sosok pengusaha yang namanya kian melambung di dunia industri baut: Haris Firmanto.

Dari sebuah langkah kecil dengan stok 500 kilogram baut, kini Haris telah mengelola imperium kecilnya hingga mencapai 15 ton (15.000 kg) dengan 10 cabang yang tersebar di Jakarta, Bekasi, hingga Jawa Timur. Bagaimana keajaiban ini bermula? Berikut petikan wawancara eksklusifnya:

Babak Awal: 500 Kilogram dan Kekuatan Zakat

Sinar5News (S5N): Assalamualaikum, Pak Haris. Luar biasa bisa berbincang di waktu yang penuh keberkahan ini. Melihat pencapaian Bapak sekarang, banyak yang penasaran. Bagaimana awalnya seorang Haris Firmansyah memulai bisnis baut ini hingga bisa sesukses sekarang?

Haris Firmansyah (HF): Waalaikumussalam warahmatullah. Alhamdulillah, ini semua murni karena kemurahan Allah. Perjuangan saya dimulai tahun 2009. Saat itu saya ingat betul, stok baut saya hanya sekitar 500 kilogram. Kecil sekali jika dibanding sekarang. Tapi ada satu hal yang saya jaga bersama istri sejak hari pertama: Zakat Penghasilan.

S5N: Boleh diceritakan lebih dalam mengenai zakat tersebut? Karena banyak pengusaha yang baru berzakat setelah kaya, tapi Bapak memulainya dari awal?

HF: Betul. Dulu tahun 2009, saya mulai menyisihkan Rp. 100.000 setiap bulan untuk sedekah dan zakat. Saya istiqomah di sana. Sekarang, Alhamdulillah, angkanya sudah mencapai kurang lebih Rp. 5,9 juta per bulan. Uang itu saya dedikasikan untuk membantu honor guru-guru di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus dan sebagiannya lagi saya alokasikan untuk membeli beras guna membantu anak yatim dan dhuafa di Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta. Saya percaya, rezeki itu bukan seberapa banyak yang kita simpan, tapi seberapa banyak yang kita alirkan untuk agama Allah.

Keajaiban Matematika Langit: 15 Ton dan 10 Cabang

S5N: Subhanallah. Dari 500 kilo kini menjadi 15 ton (15.000 kg). Apakah lompatan stok yang begitu besar ini ada kaitannya dengan kemudahan yang Bapak rasakan setelah bersedekah?

HF: Sangat terasa. Bahkan seringkali di luar logika. Pernah suatu hari, waktu setoran sedekah tinggal 2-3 hari lagi, tapi uang di tangan belum ada. Saya tetap tenang dan minta kepada Allah agar dimudahkan usaha karena ini untuk membantu pejuang agama. Tiba-tiba saja, ada proyek atau pesanan besar yang datang. Keberkahan itu nyata. Dulu saya ngontrak, sekarang Alhamdulillah sudah punya rumah dan kendaraan sendiri. 10 toko sudah berdiri, dan insyaallah cabang ke-11 akan buka di Tulungagung, Jawa Timur, tahun depan.

S5N: Menariknya, Bapak membuka toko di depan Pondok Pesantren Gabus ini juga bukan semata-mata untuk bisnis pribadi ya?

HF: Betul sekali. Toko di Gabus ini sudah jalan 2 tahun. Niatnya untuk membantu pemasukan pondok. Saya ingin keberadaan bisnis saya memberikan manfaat langsung bagi tempat saya menimba ilmu dan berjuang bersama para Kyai.

Rahasia Sukses: Keramat Ibu dan Kedekatan dengan Guru

S5N: Bagi anak muda yang ingin mengikuti jejak sukses Bapak, apa rahasia “dapur” yang paling utama?

HF: Pertama, jangan pernah tinggalkan shalat. Kedua, ini yang paling penting: Berbakti kepada orang tua, terutama Ibu. Ibu itu keramat. Saya selalu berpesan, jangan pernah melukai hati Ibu. Doa mereka adalah kunci pembuka pintu rezeki yang paling ampuh. Selain itu, sebagai pengusaha, hati harus legowo, jangan sering suudzon (buruk sangka). Buka toko pagi-pagi dengan semangat, sisanya biarkan Allah yang menentukan.

S5N: Bapak juga dikenal sangat dekat dengan pimpinan Pondok Pesantren di sini. Bagaimana sosok beliau di mata Bapak?

HF: Pak Kyai Haji Muhammad Suhaidi adalah orang tua sekaligus guru saya. Beliau sosok yang luar biasa, tidak banyak bicara tapi memberi contoh (uswah). Beliau tidak membedakan si kaya dan si miskin. Kedekatan ini pula yang membawa saya hingga berziarah ke makam Datuk Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Lombok tahun lalu. Pengalaman spiritual di sana, berdoa tengah malam di makam Guru Besar, memberikan energi luar biasa bagi saya untuk terus berjuang di Jakarta.

S5N: Pesan terakhir untuk pembaca Sinar5News.com?

HF: Jangan takut untuk berbagi. Sedekah tidak akan membuat kita miskin, justru sedekah adalah cara tercepat untuk menjemput kesuksesan yang berkah.

Penulis: Abu Akrom Editor: Tim Redaksi Sinar5News.com

DATA PENULIS

  • Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)

  • Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)

  • Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.

  • Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.

  • Karya: Penulis puluhan buku & Pencipta 12 album lagu religi.

  • Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV

  • Kontak: 0878-8727-0732

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA