Peta Jalan Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro

Peta Jalan Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro

Sinar5news- Arah pendidikan Nasional sudah sejak awal diingatkan oleh para pendiri bangsa agar Indonesia berjalan pada porosnya Pancasila. Mengedepankan Budi kemuliaan, moral karakter dalam menggali dan mengembangkan potensi otak kiri, kanan dan tengah. Sehingga potensi manusia sebagai ciptaan Tuhan di bumi yang paling sampurna dapat bertumbuh kembangan menjaga ekosistem kehidupan di bumi tanpa kerusakan dan kekerasan. Sehingga kehidupan di bumi lestari penuh cinta damai antar semua mahluk.

Filosofi pendidikan yang inklusif, humanis, dan kontekstual. Bagi Bapak Pendidikan Nasional ini, proses belajar tidak melulu berlangsung di ruang kelas formal dengan papan tulis dan bangku rapi. Belajar adalah kegiatan yang hidup, yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan bersama siapa saja. Dalam pandangan ini, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pendidik, bukan hanya mereka yang secara resmi menyandang profesi guru.

Rumah, sebagai tempat pertama anak tumbuh dan berkembang, idealnya menjadi ruang belajar pertama yang paling membentuk karakter. Ayah, ibu, kakak, bahkan lingkungan sekitar menjadi sumber nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini: tentang kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan cinta kasih. Inilah pendidikan yang membumi—tidak berjarak, tidak memaksa, tapi mengalir secara alamiah melalui keteladanan dan kedekatan emosional. Ketika rumah-rumah menjadi sekolah, maka pendidikan tidak hanya jadi urusan negara, tetapi menjadi bagian dari denyut kehidupan keluarga.

Lebih jauh, kutipan ini juga menantang kita untuk tidak menyerahkan sepenuhnya tugas pendidikan kepada institusi formal. Ia adalah ajakan untuk menciptakan budaya belajar di dalam masyarakat—di warung, di masjid, di ladang, di media sosial. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan adalah kunci peradaban. Ki Hadjar mengingatkan kita bahwa tanggung jawab mendidik adalah milik bersama, dan setiap orang punya peran penting dalam membangun generasi masa depan.

Pendidikan sejatinya memberi ruang bertumbuh dalam mengembangkan bakat minat, inovasi. Sehingga semua potensi yang ada dapat terasah sebagai bekal kecakapan hidup untuk dapat mencipta, berekreasi sebagai skill menjalankan kehidupan dimasa masa akan datang. Pendidikan olah jiwa moral Budi kemuliaan adalah rule model bangsa kita yang mesti dibangun sejak dini sebagaimana bunyi bait lagu kebangsaan kita ” bangunlah jiwanya bangunlah badannya utk Indonesia raya” serta arah kebijakan bernegara yang bermuara pada falsafah negara Pancasila.

Indonesia haruslah fokus terhadap peta jalan pendidikan sehingga bangsa kita tidak kehilangan arah dan kendali sebagai bangsa berpancasila dan berbudaya. Personal kementrian boleh setiap kabinet berubah. Presiden setiap pemilu berganti. Namun peta jalan pendidikan nasional harus utuh sebagaimana filosofi yang sudah digariskan tokoh bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro. Ingarso sung tulodo, ingmadya mangun karsa, tutwuri handayani.

Pendidikan sekolah/kampus mesti menggabungkan kekuatan formal dan informal. Pengembangan kedua model ini harus mutlak dibutuhkan agar tidak melulu melewati pendekatan formal, kurang memberikan ruang kebebasan dalam pengembangan bakat minat. Dukungan atas pasilitas sekolah/kampus upaya melahirkan anak didik atau mahasiswa yang berdaya saing dan terampil dibutuhkan sarana prasarana latihan yang memadai. Untuk menumbuhkembangkan bakat minat sehingga keseimbangan kecerdasan baik akademik maupun skill keahlian dapat dimaksimalkan tumbuh berdaya untuk Indonesia maju.

Banyak sistem pendidikan modern dibangun di atas model lama: mencetak individu yang patuh, teratur, dan siap memasuki dunia kerja industri. Fokusnya adalah pada keterampilan teknis, bukan pada kemampuan berpikir mandiri. Anak-anak diajari untuk mengikuti aturan, mengerjakan soal dengan jawaban tunggal, dan menghindari kesalahan—bukan untuk mempertanyakan, mengeksplorasi, atau menciptakan hal baru.

Akibatnya, kita menciptakan lulusan yang terampil secara teknis, tapi sering kali bingung ketika dihadapkan pada masalah kompleks yang membutuhkan kreativitas, empati, dan pemikiran kritis. Mereka terbiasa diarahkan, bukan mengambil arah. Padahal, di dunia yang cepat berubah, pemikir lebih dibutuhkan daripada pengikut. Pendidikan semestinya mencetak manusia yang utuh—yang tahu bagaimana belajar, bukan hanya apa yang harus dihafal.

Filosofinya menyentuh akar dari krisis pendidikan: bahwa sekolah seharusnya menjadi taman pemikiran, bukan jalur produksi. Dunia tidak butuh lebih banyak robot manusia, tapi lebih banyak manusia yang bisa melihat secara luas, berpikir secara dalam, dan bertindak secara bijak. Maka jika kita ingin menciptakan masa depan yang lebih baik, sistem pendidikan perlu diubah dari mesin pencetak pekerja menjadi ruang pengasuhan pemikir bebas.

( Presiden Kebangsaan : Samianto )

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA