Khutbah Jum’at : Agama Pemimpin Agama Rakyat

Khutbah Jum’at : Agama Pemimpin Agama Rakyat

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah
Rakyat itu bergantung pada kebiasaan pemimpinnya, bahkan mengikuti agamanya. Bagaimana tabiat pemimpinnya maka masyarakat akan cenderung mengikutinya.
Ada Pepatah Arab menyatakan:

“الدین لِلعَبدِ مَذهَبُ مَولاهُ” dan النَاس عَلی دِيْن مُلوکِهِمْ

“Agama seorang pelayan (rakyat) adalah agama tuannya (pemimpin)”

Maksudnya adalah bahwa agama atau kepercayaan seorang pemimpin dapat mempengaruhi agama atau kepercayaan rakyatnya. Ini karena pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap rakyatnya dan dapat menentukan arah kebijakan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah
Dalam konteks ini, pepatah tersebut mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki agama atau kepercayaan yang baik dan benar, karena hal tersebut dapat mempengaruhi rakyatnya dan menentukan arah kebijakan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah
Sejarah merekam pada masa Yunani kuno, para pemegang kuasa menganut paganisme berupa kepercayaan pada dewa-dewa. Patung-patung replika dari dewa mereka pahat dan kuil-kuil pemujaan mereka dirikan. Rakyatpun melakukan hal serupa. Demikian pula kekaisaran Romawi kuno dimana pemimpin dan rakyatnya menganut keyakinan paganisme. Saat raja-raja Romawi beralih menjadi penganut Kristen, rakyatnya pun ikut serta memeluk Kristen.
Para penguasa Persia yang beragama Majusi diikuti oleh rakyatnya di seluruh wilayah kekuasaan mereka. Tatkala umat Islam melakukan futuhat, satu demi satu wilayah kekuasaan Romawi dan Persia ditaklukkan, alhasil penduduk di wilayah-wilayah itu berbondong-bondong masuk Islam.
Para ahli sejarah mencatat pula dalam kitab-kitab mereka pada saat Hajjaj bin Yusuf menjadi Gubernur di beberapa wilayah, para warganya pada masa itu saling bertanya satu sama lain di pagi hari siapa yang ditangkap dan siapa pula yang terbunuh semalam. Siapa yang dicambuk atau siapa yang disalib semalam.
Saat Walid bin Hisyam menjadi khalifah yang notabene ahli tata kota, masyarakatnya bertanya apa lagi yang akan dibangun khalifah Walid. Lampu-lampu indah apa yang dibeli dan gedung-gedung apalagi yang ia akan berdiri. Pohon-pohon apa lagi yang akan ditanam.
Pada masa kekhilafahan Sulaiman bin Abdul Malik, masyarkat mengenalnya doyan berpesta pora dan doyan menikah. Masyarakat saling bertanya, kapan lagi khalifah akan menikah, kapan lagi akan diadakan pesta besar-besaran. Kapan lagi mereka diundang menyantap hidangan lezat. Masyarakat pun mengikuti tabiat pemimpinnya.
Berbeda saat ummat Islam dipimpin Khalifah agung, Umar bin Abdul Aziz. Ia terkenal sebagai seorang yang alim dan shaleh. Setiap perjumpaan warganya mereka saling bertanya persoalan spiritual. Obrolan mereka seputar berapa juz yang sudah mereka hafal. Berapa lama zikir malam mereka. Bagaimana puasa sunnah mereka, dan apakah masjid mereka terisi penuh dengan jamaah,
Pemimpin memiliki otoritas dan kekuatan sistem di tangannya. Dengan itu bisa menjadi tongkat kuasa untuk menertibkan bahkan mendidik warga masyaraktnya. Jika baik, maka rakyatnya pun ikut baik. Jika buruk, rakyat pun demikian.
Ketika Firaun memimpin rakyat dengan tangan besi dan menetapkan dirinya sebagai Tuhan, rakyatnya pun ikut tersesat.
وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُۥ وَمَا هَدَىٰ

“Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk. (QS. Thaha: 79). Dia telah menyesatkan kaumnya dengan apa yang telah dia tampakkan berupa keindahan pada mata mereka berupa kekafiran dan pendustaan. Firaun sama sekali tidak memandu mereka menuju jalan hidayah
Rakyat lemah yang tidak memiliki kuasa dan akses luas untuk mencari kebenaran sehingga ikut terjeremus dalam kesesatan, di hari kiamat nanti mereka berkata,

وَقَالُوْا رَبَّنَآ اِنَّآ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا۠

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab: 67)

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah
Itulah mengapa Islam memandang kekuasaan dan kepemimpinan itu sangat urgen. Kepemimpinan ideal menurut Imam al-Gazali adalah kepemimpinan yang bertopang intelektualitas, agama, dan akhlak, mampu memengaruhi lingkungan yang dipimpin, serta mampu mengobati kehancuran dan kerusakan dalam diri bangsa atau organisasi, serta membawa masyarakat yang adil dan makmur dengan menjunjung tinggi keilmuan, juga moral yang beralaskan agama.

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah
Menjadi pemimpin berarti menjadi wakil Tuhan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah rakyat. Pemimpin dengan kuasanya bisa memperbaiki dan merubah manusia lebih banyak dibandingkan ribuan retorika ulama di mimbar. Bahkan dengan kekuasaan, ajaran kitab suci lebih efektif dan lebih cepat diterapkan hanya dengan selembar kertas bertandatangan. Kita berdoa agar para pemimpin yang menguasai kaum Muslimin diberi taufiq dan hidayah oleh Allah Taala.

Namun, perlu diingat bahwa pepatah Arab di atas tersebut tidak berarti bahwa rakyat harus mengikuti agama atau kepercayaan pemimpinnya secara mutlak. Setiap individu memiliki hak untuk memilih dan mempraktikkan agama atau kepercayaannya sendiri.

Hadirin Sidang Jumat yang Dimuliakan Allah
Dari sisi yang berbeda ada ungkapan “Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian” adalah kata hikmah terdahulu. Al-Ajlauni berkata, “Imam Thabrani rahimahullah meriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah bahwa ia mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk al-Hajjâj (salah seorang pemimpin yang kejam), lantas ia berkata, “Janganlah kamu lakukan itu! Kalian diberikan pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir, jika al-Hajjâj digulingkan atau meninggal, maka monyet dan babi yang akan menjadi penguasa kalian, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian

Firman Allâh Azza wa Jalla :
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) [As-Syûra/42:30]
Musibah demi musibah hampir pasti akibat kemaksiatan individu demi individu. Itu adalah sebab pertama munculnya bencana, juga telah dijelaskan bahwa semua orang itu akan merasakan buah dari amal perbuatannya. Diantara wujud dari buah amalan individu itu adalah kondisi para pemimpin mereka. Karena kondisi mereka sesuai dengan karakter masyarakat. Semoga Alloh membimbing para pemimpin dan pemegang kuasa di pusat maupun di daerah. Terutama yang kemarin telah dilantik. Semoga Allah memudahkan hajat mereka melayani rakyat. Membina rakyat dan masyarakat serta menjaganya dari kerusakan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ اللهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوْا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ خَاصَّةً بِلَادِ فَلِسْطِيْن.
اللهم اصلح ولاة امور المسلمین اجمعین و وفقهم لما تحبه و ترضاه من نفع العباد و البلاد یا کریم
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA