Sinar5news- Lombok – Saudaraku Sebangsa dan Setanah Air.. Di penghujung tahun 2023 ini dan dalam hitungan jam dan menit kita akan memasuki tahun 2024.
Saya mengajak kita semua untuk selalu bersyukur terhadap apa yang sudah kita capai dalam tahun 2023, baik yang menggembirakan karena sukses yang kita raih, maupun sedih dan duka karena tidak tercapainya apa yang kita rencanakan
Saya mengajak untuk kita bersikap adil. Mulai berpaling dan mendengar orang lain, selain orang – orang yang selalu memenuhi ruang publik selama ini. Orang yang selalu tampil di setiap masalah karena mereka memang tahu dan atau merasa sok tahu.
Saya mengajak untuk mulai “mendengar apa yang dia katakan, bukan melihat siapa yang mengatakan atau siapa yang bicara”. Sikap itu penting saudaraku untuk menghindari “loe lagi, loe lagi”, terdengar renyah dan nyaring tapi hampa dan kosong.
Saya mengajak, jangan lagi dengarkan mereka. Karena sesungguhnya
“extraordinary idea not necessarily comes from extraordinary people”. Ide yang cemerlang tidak mesti datang dari orang yang cemerlang. Bukan dari orang orang yang sering dan rajin tampil.
Suara – suara tentang sulitnya kehidupan dimasyarakat, tentang mahalnya harga kebutuhan pokok, sulit berusaha, jeritan jutaan petani dan nelayan tidak akan pernah datang dari orang – orang yang dianggap hebat, karena kaya raya atau dari pejabat tinggi. Tetapi suara itu pasti datang dari pelakunya rakyat miskin, yang papa yang dihimpit oleh kesulitan hidup.
Saya mengajak para pemimpin, mulailah “mendengar untuk belajar dan belajarlah untuk mendengar- Listen to learn and learn to listen”.
Suara nyaring kaum papa, serta rintihan mereka adalah idea cemerlang untuk kau dengarkan dan dengan mendengar berarti kau belajar memaknai arti keberadaan serta amanah yang kau emban.
“Apa Yang Mereka Lihat. Apa Yang Mereka Rasakan serta Apa Yang Mereka Alami” , itulah yang menjadi dasar bagi mereka untuk menilai atas amanah yang kau jalankan selaku pemimpin. Nilaimu bukan karena polesan angka dan statistik yang kau sajikan, yang pastinya mereka tidak pahami.
Rakyat “melihat” betapa para pemimpin negeri ini terserabut dari moral dan etika sebagai pembeda manusia. Para pemimpin dan elites abai dan lupa mana hak dan kewajiban. Mereka pertontonkan kehidupan yang koruptif dan hedonisme serta bangga pamer kemewahan yang menjadi tontonan biasa dan bukan hal luarbiasa di negeri yang berketuhanan serta berbudaya ini.
Rakyat negeri ini “merasakan” bahwa penghasilan tidak lagi cukup mengantarkan untuk bertahan tigapuluh hari, karena harga harga makin mencekik, tak terjangkau. Keadaan seperti itu berdampak dan bisa menghilangkan asa dan harapan tidak ada lagi hari esok, menjadikan mata gelap dan akibatnya adalah hilangnya nyawa yang sia sia, mati percuma, sebagai solusi.
Rakyat “mengalami” betapa sulit mencari nafkah, walau sekedar untuk bertahan hidup hari ini. Suasana makin menghimpit karena harga untuk menerangi rumah makin tinggi, ongkos untuk kegiatan mencari rezekipun tidak terbayar, bahkan banyak yang terlempar kelembah kemiskinan, karena tidak lagi bermata pencaharian, dipecat dan diberhentikan karena tempat kerja dan usaha tutup dan gulung tikar.
Saudaraku, saatnya untuk berpaling, mari kita dengarkan orang yang peduli dan mau mendengar keluhan rakyat, kaum papa dan yang menderita.
Tunjuk hidung – hidung para pemimpin dan orang – orang tidak amanah yang hanya mendengar keluh kesah orang kaya raya dan yang mabok kekuasaan yang ingin melanggengkan rasa kepemilikannya terhadap negeri ini.
Saudaraku, saatnya untuk bangkit melawan dan mengambil kembali hak kita, yang mereka rampas hanya dengan janji janji manis dan se-onggok materi dan sembako sebagai pemancing dan tipu daya.
Saudaraku, mari kita tutup tahun kelam 2023 ini dengan tekad untuk mengakhiri dan bangkit melawan, mengambil kembali kepercayaan yang kita berikan kepada mereka, para pemimpin yang hanya datang setiap lima tahun sekali, untuk membeli suara dengan sembako dan amplop beracun.
Saudaraku, kita sambut tahun perubahan ‘ tahun 2024 ‘ tahun yang membawa kemaslahatan ke arah yang lebih baik bagi rakyat miskin yang dibeli dan sebagai korban sembako dan amplop.
Jangan lagi gadaikan masa depan kepada pembeli suara. Jangan lagi percaya dan inilah saatnya melakukan perlawanan, saatnya untuk melakukan penghakiman.
Pada 14 Februari 2024 nanti kita akhiri semua itu, pada hari the day of judgement, saatnya menghukum pemimpin dan wakil rakyat yang tidak amanah.
Kita datangi dan ramaikan tempat pemungutan suara untuk menyongsong perubahan bagi rakyat kecil, miskin dan papa yang terpinggirkan dan tidak pernah didengar suara emasnya. Jawabnya adalah pada hari ke empat belas, bulan kedua, tahun duaribu duapuluh empat dengan beramai ramai mencoblos SAMIANTO caleg DPR-RI no. Urut 5 partai berlambang Kakbah. Kita coblos ramai ramai terkhusus Masyarakat wilayah pulau Lombok.




