Sinar5news. – Adu gagasan, ide dan program bagaimana membangun bangsa yang dijanjikan pada debat calon presiden yang diselenggarakan KPU di fase awal sama sekali tidak terlihat. Suasana debat tidak memperlihat calon pemimpin negarawan masa depan Indonesia yang ditunggu publik. Calon pemimpin bangsa harus berbicara hal masa depan membangun negara, membahagiakan warga, bukan berbicara masa lalu yang suram. Ini tidak mendidik anak bangsa ke depan, bangsa ini harus belajar untuk bergerak ke arah kebaikan, berpikir positif, tidak melulu saling menyalahkan. Budaya bangsa yang santun harus terus terjaga dilestarikan. Dendam bukan dari bagian budaya bangsa Nusantara.
KPU sebagai wasit dalam penyelenggara debat harus memberikan rambu – rambu kepada tim penanya, agar Paslon yang bertanya/ bicara ke belakang untuk diberikan peringatan. Agar debat enak dilihat, didengar, ditonton oleh publik sebab debat adalah ajang memberikan edukasi kepada calon pemilih, bagaimana membangun masa depan yang lebih bermartabat, rakyat sejahtera. Bukan bicara ke belakang yang tidak bermutu alias menggunjing. Model ini merusak tatanan nilai Budi kemuliaan moral Pancasila.
Stasiun tv yang ditunjuk KPU sebagai penanya harus memberikan pertanyaan yang memiliki prespektif. Bagaimana menghadirkan bangsa hebat rakyat sejahtera. Inilah muara dari kita berbangsa bernegara, seperti yang sudah dituangkan dalam prasasti Pancasila butir ke-5. Penanya lebih menggali Paslon agar bukan hanya dapat menghadirkan cara pandang, retorika semata, tapi lebih kepada bagaimana praktek menghadirkan kesejahteraan yang nyata di bumi Pertiwi bangsa besar kaya raya ini jika mereka terpilih.
Terhadap Paslon yang masih bertanya peristiwa masa lalu yang sudah menjadi sejarah kelam bangsa agar diberi sangsi teguran. Bahwa, ini adalah ajang debat adu gagasan, adu program menghadirkan pemimpin negarawan masa depan bangsa. Bagaimana jika terpilih; di depan rakyat menjadi teladan, ditengah bersama rakyat memberikan semangat, di belakang rakyat dapat memberikan harapan motivasi. Inilah yang perlu digali pada sosok pemimpin masa depan.
Ajang debat yang sejatinya memberikan pencerahan kepada seluruh rakyat Indonesia pada momentum debat perdana dan kedua sama sekali tidak memeperlihatkan kebijaksanaan. Sampai debat kelimapun masih ada yg Paslon bicara ke belakang. Harapan adu gagasan membangun bangsa bermartabat adil makmur sentosa bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa korupsi nyaris kosong. Lebih terlihat debat kusir yang condong menyerang menjatuhkan personal, kurang pantas didengar oleh warga bangsa. Belajar dari kesalahan kemarin, KPU harus mengoreksi tim penanya dari media yang diberikan tugas serta Paslon yang bertanya tendensius menyerang person yang tidak ada kaitannya dengan program. Paslon agar lebih arif bijaksana, profesional, independen, progresif, melontarkan pertanyaan yang berbicara kemaslahatan hajat hidup rakyat banyak ke depan. Bukan menyerang personal yang tidak memberikan edukasi politik kepada anak bangsa tapi lebih kepada ambisi saling menjatuhkan. Ini jelas tidak sejalan dengan budaya Pancasila yg penuh dengan moral Budi kemuliaan. Berbeda pandangan tapi tetap menjunjung tinggi tradisi nilai budaya bangsa. Inilah ajaran leluhur Nusantara.
Kemunduran suatu bangsa ketika terus memelihara dendam dan berbicara masa lalu. Akan tetapi, kemajuan suatu bangsa tatkala mampu mengubur masa lalu untuk bergerak bangkit menatap masa depan dengan jujur, tanggung jawab, dalam semangat melayani sepenuh hati. Bergerak bersama membangun negri, tanpa kepalsuan dan kemunafikan clean government dan good government.
Belajar dari debat pertama KPU perlu evaluasi total terhadap jalannya debat agar lebih terarah, inspiratif, konstruktif, bermartabat. Sehingga publik tidak diajak ikut Gibah berbicara kekurangan dan aib seseorang yang boleh jadi itu akibat sistem kekuasan sebelumnya. Debat sejatinya memberikan edukasi sehingga anak bangsa dapat menilai pemimpin masa depan yang berjiwa patriotik. Siap membawa amanat warga bangsa menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan penuh tanggung jawab.
Mari hadirkan debat yang bermartabat bukan ajang saling menjatuhkan, saling caci maki, tapi forum debat lebih kepada ajang adu gagasan dan target menghadirkan kesejahteraan warga bangsa dan menjaga Pancasila. Jika tidak mampu maka calon presiden wajib mundur dan kabinet bubar. Pemerintah selanjutnya diserahkan kepada yang siap menjalankan/melanjutkan dengan tetap mematuhi sistem yang berlaku baik nasional maupun internasional.




