Berbicara tentang paradigma Kemanusiaan Vs Keberagamaan (al-Insaniyyah wa al-tadaayun) adalah dua topik yang selalu menarik dan sangat penting sebagai tantangan untuk terus didiskusikan dan dilakukan penelitian yang lebih konfrehensif untuk selanjutnya dipublikasikan secara luas, baik melalui seminar ataupun melalui mimbar-mimbar dakwah lainnya dalam upaya memberikan pencerahan dan himaayah wa ri`aayah al-ummah (mengayomi dan membimbing umat).
Masalah agama adalah masalah sosial, karena menyangkut kehidupan masyarakat yang tidak bisa terlepas dari kajian ilmu-ilmu sosial. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu agama hakikatnya merupakan rumpun bagian dari ilmu Sosiologi, Psikologi dan Antropologi.
Dalam al-Qur`an, Allah Swt telah membentangkan beberapa ayat maqrunah (berpasangan), yakni ayat-ayat al-Qur`an yang implementasinya harus ritmis, integral dan tidak boleh pula parsial. Diantara ayat maqrunah adalah ayat yang berisikan tentang shalat dan zakat (Q.S. al-Baqarah [2]: 43), ayat tentang ketaataan kita kepada Allah dan rasul serta Ulil Amri (QS. An-Nisa`(4): 59) atau ayat tentang syukur kepada Allah dan orang tua (QS. Luqman (31) : 14).
Agama Islam ini diturunkan Tuhan untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Eksistensi agama bagi manusia adalah kompas kehidupan yang mengarahkan mereka hidup menjadi terarah, aman, tentram dan damai. Jika manusia hidup tanpa agama, maka kehidupan mereka tidak pernah menentu atau pasti kacau dan tidak terarah.
Dalam konteks ini, ada sebuah ungkapan bijak dari Prof. Dr. KH. Abdul Mukti Ali yang mengatakan bahwa, “Dengan Ilmu Hidup menjadi Mudah-Dengan Seni Hidup Menjadi Indah dan dengan Agama, Hidup Menjadi Terarah”.
Oleh karena itu, secara etimologis kata ”agama” yang dikenal berasal dari bahasa Sansekerta terdiri dari kata ”a” yang artinya tidak dan ”gama” yang artinya kacau atau rusak atau kocar kacir. Artinya, dengan agama hidup manusia akan terarah dan tidak kacau, karena didalamnya terdapat sebuah sistem atau aturan serta ajaran yang menjadi rujuka atau sebagai pedoman dalam hidup.
Secara doktriner, Islam adalah agama yang ajarannya datang dari Allah Swt (Syar-un ilahiyyun) yang berfungsi sebagai pembimbing manusia agar hidup bahagia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, bisa kita bayangkan, jika manusia hidup tanpa agama. Bagaimana kacaunya kehidupan manusia tersebut.
Untuk Islam sebagai agama, tidaklah agama dogmatis. Artinya, seseorang hanya yakin terhadap ajarannya saja dan disebut sebagai seorang muslim, kemudian setelah mati dan langusng masuk surga. Tapi, Islam adalah agama rasional, karena keyakinan yang dianutnya harus disertai dengan pembuktian secara rasional dan dinampakkan dengan perbuatan.
Kemudian, Islam yang disebut Al-Din memiliki pengertian yang lebih luas dari pada pengertian agama dan religi. Agama dan religi hanya berisi ajaran yang menyangkut aspek hubungan antara manusia dan tuhan saja. Sedangkan al-din adalah berisi dan memuat ajaran yang mencakup aspek hubungan antara manusia dan Tuhan serta hubungan sesama manusia.



