Berbaik sangka terhadap Allah ||edisi ke-2 1443 H

Berbaik sangka terhadap Allah ||edisi ke-2 1443 H

Berbaik sangkalah kepada Allah ketika tidak bisa mengikuti atau melaksanakan puasa Ramadhan sebagaimana orang-orang melakukannya, ntah karena sakit atau beberapa udzur lainnya yang tidak membolehkan untuk ikut melaksanakan ibadah puasa. Jangan ada pandangan buruk kepada Allah terhadap keadaan yang sedang dihadapi, karena pada hakikatnya Allah lebih tahu keadaan yang paling tepat dan paling baik untuk hambanya.

Selama masih merasa sebagai hamba Allah, maka berbaik sangka karena tidak bisa melaksanakan puasa. Allah merencanakan hal yang terbaik bagi hamba yang setia dan berbaik sangka kepadanya.

Berbaik sangka kepada Allah merupakan tindakan yang sangat dianjurkan dalam agama. Karena pandangan kita sama Allah menunjukkan seberapa baik seorang hamba dalam mengakui penciptanya. Disinilah akan nampak hamba yang sesungguhnya, yaitu saling mengakui. Dia mengakui diri sebagai hamba Allah, dan Allah pun mengakuinya sebagai hambanya.

Boleh saja seseorang mengaku sebagai hamba Allah, tapi untuk diakui sebagai hambanya itu belum tentu. Untuk membuktikan pengakuan tersebut dibutuhkan sebuah pengabdian dan pengorbanan. Mengabdi dengan berusaha mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya dengan mengorbankan waktu disisihkan untuk Allah SWT.

Diantara cara sederhana untuk mengetahui apakah kita sudah diakui sebagai hambanya adalah evaluasi ibadah kita kepada Allah SWT. Karena ibadah adalah tolak ukur sebagai hamba, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat adzdzariat ayat 56,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”

Setelah pengabdian dilakukan secara maksimal atas kemampuan kita, maka berbaik sangkalah terhadap Allah yang telah menciptakan dan memberikan kita segala-galanya. Jangan pernah berpandangan buruk kepada Allah, karena pandangan kita kepadanya sangat menentukan kebaikannya pada kita.

Kaitannya dengan hal ini, dalam sebuah hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، …. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku…. (Muttafaqun alaihi)

Dalam potongan hadits Qudsi diatas, menggambarkan tentang bagaimana pandangan Allah terhadap kita, sangat dipengaruhi oleh pandangan kita kepadanya. Maka sebagai manusia yang mengaku hamba Allah dan ingin memperoleh kebaikan darinya, sebaiknya memperbagus cara pandang terhadap Allah, terhadap perintah dan larangannya, serta terhadap ujian yang diberikannya.

Berbaik sangka kepada Allah dengan menaruh keyakinan bahwa Allah itu maha baik atas hambanya dan tidak mungkin melakukan sebuah ke dzoliman pada hambanya. Adapun kalau ada terlihat manusia yang menurut pandangan banyak orang dia adalah orang yang dimurkai Allah sehingga mengalami keadaan demikian, maka kita berusaha untuk tidak masuk dalam pandangan umum tersebut, karena bisa jadi seseorang tersebut ditimpakan seperti itu karena telah berlaku dzolim kepada Allah. Atau pandanglah bahwa Allah sedang menguji orang tersebut supaya merubah sifat buruknya menjadi sifat yang lebih baik.

Berperasangka baik terhadap perintah dan larangan Allah. Yakinlah bahwa segala yang diperintahkan Allah itu mengandung kebaikan dan segala yang dilarangnya membawa kerusakan bagi kebaikan manusia.

Berpandangan baik terhadap ujian yang diberikan Allah yaitu berusaha meyakini bahwa segala apapun yang dirasakan adalah ujian dari Allah yang bertujuan memperbaiki diri manusia sendiri.

Kalau sudah bisa diyakini dan dirasakan, bahwa segala yang menimpanya datang dari Allah, maka balasan dari Allah pun akan baik. Keadaan sebaliknya bila segala permasalahan yang dihadapi tidak disandarkan dan dikembalikan kepada Allah, maka bersiaplah untuk menderita sendiri menghadapi permasalahan yang dihadapi.

Wallahu a’lam

Fath

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA