SHANGHAI SANGAT MENARIK UNTUK DI DISKUSIKAN

SHANGHAI SANGAT MENARIK UNTUK DI DISKUSIKAN

sinar5news.com – Shanghai Disneyland adalah taman hiburan paling sukses yang dibuka di Cina. Ekspansi baru Disney Pixar Toy Story Land diumumkan hanya dalam waktu lima bulan setelah pembukaan grand theme park, menandakan kepercayaan Walt Disney Company di Cina.*

*Implementasi program B20 yang kami lakukan terbukti efektif menstabilkan harga minyak kelapa sawit dunia. Kami mengajak negara penghasil sawit untuk mengikuti langkah yang dilakukan Indonesia*

*Dua karakter*

*Tionghoa dalam nama “Shanghai” secara harafiah berarti “atas” dan “laut”. Penggunaan nama ini terjadi pertama kalinya pada masa Dinasti Song, pada saat di mana sudah ada pertemuan sungai dan sebuah kota kecil bernama “Shanghai” di daerah tersebut. Tidak jelas bagaimana nama ini berasal atau bagaimana artinya harus diterangkan, meski pembacaan secara harafiah menyarankan arti “menuju laut”.*

*Lokasi Shanghai pada dataran aluvial memberi arti bahwa mayoritas luas lahan dari 6,340.5 km2 (2,448.1 sq mi) itu rata, dengan rata-rata ketinggian 4 m (13 kaki). Tanahnya yang berpasir membuat Pencakar-pencakar langit yang ada harus dibangun dengan tiang pancang yang dalam untuk menghentikan penurunan tanah pada daerah pusat. Beberapa bukit seperti She Shan terletak di barat daya dan titik tertingginya adalah puncak Pulau Dajinshan di Teluk Hangzhou (103 m atau 338 kaki). Kota ini memiliki banyak sungai, kanal, sungai kecil, dan danau dan dikenal kekayaan sumber airnya*
*Kota Shanghai di China telah bersolek dari desa nelayan yang selalu kebanjiran jadi salah satu kota ekonomi penting dunia. Dulu bau amis dan kotor, kini Shanghai cantik dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Semua ini dibentuk dalam waktu hanya 27 tahun.*

*Kemajuan Shanghai dimulai pada tahun 1992 dalam kepemimpinan Presiden China Deng Xiaoping yang menginginkan adanya pusat ekonomi di negara itu. Shanghai sebetulnya adalah proyek pilot yang akan jadi percontohan bagi wilayah China lainnya, dan ternyata hasilnya keterlaluan suksesnya.*

*”Saat itu Deng Xiaoping mengatakan ‘kita memang masih muda, tidak masalah, karena beberapa tahun lagi juga berpengalaman’,” kata Zhao Qizheng, mantan walikota Shanghai di tahun 1992, dalam pertemuan dengan kumparan (kumparan.com) dan beberapa media Indonesia lainnya, di Balai Kota Shanghai,*
*Zhao adalah salah satu pejabat yang berjasa besar mengawal kemajuan Shanghai. Deng saat itu mengatakan, untuk memodernisasi Shanghai harus dilakukan revolusi, tidak ada cara lain. Pusat perhatian pembanguan adalah wilayah Pudong*

*Menurut Zhao, Shanghai dipilih karena lokasinya yang segaris dengan negara-negara modern lainnya seperti Jepang, Singapura, Thailand dan Indonesia.*

*Untuk memulainya, lanjut Zhao, pemerintah China melakukan reformasi sistem ekonomi, dari ekonomi terencana jadi ekonomi pasar. China membuka diri bagi dunia luar, transisi dari seluruhnya kepemilikan negara menjadi kepemilikan bersama dengan peningkatan di beberapa sektor ekonomi kunci.*

*”Shanghai melakukan transisi dari penetapan harga oleh negara menjadi harga pasar, reformasi nilai mata uang RMB, dan secara bertahap membuka diri sepenuhnya bagi dunia luar,” ujar Zhao.*

*Pencapaian Shanghai diukur dari dua hal, yaitu “keras” dan “lembut”. Pencapaian keras menurut Zhao adalah semua hal yang bisa diukur dengan angka, seperti nilai GDP, gini rasio, atau pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pencapaian lembut adalah pemikiran, logika, dan pengalaman yang tidak bisa diukur dengan angka.*

*”Shanghai menjadi kota pilot dan percontohan ekonomi. Jika Shanghai sukses, maka pengalaman ini akan dibagikan ke kota-kota lain di China,” ujar Zhao.*

*Langkah-langkah Kemajuan*

*Untuk membangun Shanghai, terutama di wilayah Pudong, Zhao mengatakan harusnya dilakukan pembangunan yang terencana, tidak bisa sembarangan. Pemerintah Partai Komunis China akan menentukan setiap peruntukan lahan di kota itu, tidak boleh dibangun tanpa seizin Zhao*

*”Deng Xiaoping mengatakan ‘hargai tanah seperti emas’, jadi kami tidak sembarangan. Misalnya ada permintaan membangun lapangan bola, kami akan bertanya banyak, ‘untuk apa? apa untuk Piala Dunia? Siapa yang bermain? untuk anak SMA?” kata Zhao.*

*”Daripada bikin gudang yang hanya membuang-buang lahan, sebaiknya menjadikannya pusat perbankan,” lanjut dia lagi.* *Gedung-gedung tinggi lantas menjulang di Shanghai. Salah satunya adalah Shanghai Tower dengan ketinggian 632 meter, kedua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai. Di malam hari, Pudong yang dulu gelap gulita kini gemerlapan dengan lampu warna-warni yang bisa dilihat dari The Bund.*

*Pudong kini menyumbang 30 persen dari GDP Shanghai. Shanghai yang berpopulasi 24 juta orang kini tumbuh menjadi salah satu kota ekonomi besar dunia, dan keempat di Asia setelah Singapura, Hong Kong, dan Tokyo.*

*Shanghai dengan pelabuhan laut tersibuk di dunia kini memiliki 787 institusi finansial, Bursa Efek Shanghai adalah yang ketiga di dunia dalam hal volume perdagangan dan keenam dalam total kapitalisasi perusahaan. Pada tahun 2016, GDP Shanghai mencapai 414 miliar dolar AS, dengan GDP per kapita 17.125 dolar AS, masuk dalam 10 besar dunia*.

*Namun seiring dengan perkembangan Shanghai yang pesat, tanah di kota itu harganya juga menjulang tinggi, tidak terjangkau bagi warga China kebanyakan.*

*Kota Shanghai di China telah bersolek dari desa nelayan yang selalu kebanjiran jadi salah satu kota ekonomi penting dunia. Dulu bau amis dan kotor, kini Shanghai cantik dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Semua ini dibentuk dalam waktu hanya 27 tahun.*

*Kemajuan Shanghai dimulai pada tahun 1992 dalam kepemimpinan Presiden China Deng Xiaoping yang menginginkan adanya pusat ekonomi di negara itu. Shanghai sebetulnya adalah proyek pilot yang akan jadi percontohan bagi wilayah China lainnya, dan ternyata hasilnya keterlaluan suksesnya.*

*”Saat itu Deng Xiaoping mengatakan ‘kita memang masih muda, tidak masalah, karena beberapa tahun lagi juga berpengalaman’,” kata Zhao Qizhen*

*Suasana Kota Shanghai China (Foto: Denny Armandhanu/kumparan)*
*Zhao adalah salah satu pejabat yang berjasa besar mengawal kemajuan Shanghai. Deng saat itu mengatakan, untuk memodernisasi Shanghai harus dilakukan revolusi, tidak ada cara lain. Pusat perhatian pembanguan adalah wilayah Pudon*.

*Menurut Zhao, Shanghai dipilih karena lokasinya yang segaris dengan negara-negara modern lainnya seperti Jepang, Singapura, Thailand dan Indonesia.*

*Untuk memulainya, lanjut Zhao, pemerintah China melakukan reformasi sistem ekonomi, dari ekonomi terencana jadi ekonomi pasar. China membuka diri bagi dunia luar, transisi dari seluruhnya kepemilikan negara menjadi kepemilikan bersama dengan peningkatan di beberapa sektor ekonomi kunci.*

*Shanghai melakukan transisi dari penetapan harga oleh negara menjadi harga pasar, reformasi nilai mata uang RMB, dan secara bertahap membuka diri sepenuhnya bagi dunia luar,” ujar Zhao.*

*Kota Shanghai di China telah bersolek dari desa nelayan yang selalu kebanjiran jadi salah satu kota ekonomi penting dunia. Dulu bau amis dan kotor, kini Shanghai cantik dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Semua ini dibentuk dalam waktu hanya 27 tahun.*

Kemajuan Shanghai dimulai pada tahun 1992 dalam kepemimpinan Presiden China Deng Xiaoping yang menginginkan adanya pusat ekonomi di negara itu. Shanghai sebetulnya adalah proyek pilot yang akan jadi percontohan bagi wilayah China lainnya, dan ternyata hasilnya keterlaluan suksesnya.

“Saat itu Deng Xiaoping mengatakan ‘kita memang masih muda, tidak masalah, karena beberapa tahun lagi juga berpengalaman’,” kata Zhao Qizheng, mantan walikota Shanghai di tahun 1992, dalam pertemuan dengan kumparan (kumparan.com) dan beberapa media Indonesia lainnya, di Balai Kota Shanghai, Selasa (31/10).

Untuk menjadi kota modern, pemerintah juga mengubah mata pencaharian masyarakat dari nelayan dan petani ke sektor lain, memberikan subsidi dan pelatihan kerja. Tapi ini juga tidak mudah.

“Kami mengajari petani untuk menjadi supir taksi, tapi mereka kesulitan karena tidak bisa baca peta. Kami juga melatih mereka untuk jadi pekerja pabrik, tidak semua yang bisa,” kata dia.

“Tapi anak-anak mereka bahagia, karena bisa sekolah di kota,” lanjut Zhao.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA