HIMMAH DAN HAROKAH Pengantar Rapinpus Yang Tidak di Harapkan

HIMMAH DAN HAROKAH Pengantar Rapinpus Yang Tidak di Harapkan

Semasa jadi mahasiswa di Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor dan menjadi Thullab Mahad Darul Quran Wal Hadits Al Majidiyyah Assyafiiyyah Nahdlatul Wathan Pancor tahun 1999 s/d 2003, saya tidak punya pengalaman

di Organisasi Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan. Bahkan saya tidak tahu siapa Ketua HIMMAH NW saat itu. Pengalaman saya hanya di Senat mahad sampai jadi Rois Thullab, juga pengalaman saya hanya sebatas ikut jadi pengurus Senat Fakultas Syariah hingga jadi Sekjen Dewan Mahasiswa IAIH mendampingi Ust Maksum. Di luar, saya pernah ikut Dauroh Marhalah yang ternyata itu adalah sarana pengkaderan (rekruitmen) ala KAMMI. Waktu itu yang banyak memberikan materi adalah Suryadi Jaya Purnama yang kini dikenal dengan kun-yah SJP, dan pak Johan yang kini juga duduk di parlemen. Si SJP ini termasuk keluarga kami. Neneknya adalah saudara misan ibu saya (Ortu ibu saya dan Ortu neneknya bersaudara kandung). Kami satu pekadusan di Lenek. Saya juga pernah ikuti pengkaderan HMI, di UNRAM juga kalau tidak salah. Kalau PMII sepertinya tidak pernah. Tidak ada yang mau menyentuh saya untuk gabung di PMII. Tapi saya pernah satu delegasi dengan Ketua PMII, Saudara Mukhlis Hasyim saat menghadiri Mubes Formasi di Jakarta dan Cisarua Bogor Jawa Barat tahun 2003 bersama Saudara Lalu Edi Gunawan, yang sebelumnya diawali dengan Musyawarah di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hanya itu pengalaman saya. Tidak lebih. Himmah NW, sepanjang masa jadi Mahasiswa, sekali lagi, saya tidak tahu menahu.

Atas pengalaman singkat berorganisasi sebagai mahasiswa semasa di Pancor, setidaknya saya bisa menskema output dari segmen-segmen berorganisasi saat itu. Output yang saya maksudkan adalah apa yang kemudian lahir dari mahasiswa setelah mereka keluar dari lembaga IAIH dan Mahad. Melahirkan semangat untuk bergerak di luar, tidak hanya bangga dengan capaian di dalam. Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan sesuatu tentang HIMMAH yang saya sampaikan kepada Saudara Syamsul Anwar. Syamsul Anwar ini pernah menghadiahi saya buku “Lombok Mirah Sasak Adi” saat saya mampir main ke Ciputat seusai Bimtek SAR Kemenkumham di Bogor tahun 2011. Dalam tulisan yang saya sampaikan kepada Syamsul Anwar tersebut saya ingin mencoba mengklasifikasi Mahasiswa yang termasuk HIMMAH NW. Dengan klasifikasi itu, menurut saya, kita bisa merumuskan arah yang lebih jelas, HIMMAH ini mesti bagaimana dan hendak mendapatkan apa? Melanjutkan tulisan itu, secara tertutup saya bicara di internal alumni NW Bali, bahwa Nahdlatul Wathan sejak berdiri hingga saat ini, lebih berhasil melahirkan kader ilmu, tapi minus kader pejuang. Barangkali antara Mei-Juli 2020 kemarin saya terlalu larut dalam Hayati NW, jadi sedikit emosional buat klasifikasi kader. Tetapi saya masih cukup waras atas apa yang saya sampaikan.

Kader ilmu, menunjuk pada kematangan penguasaan teori-teori ilmu pengetahuan, dilengkapi dengan penguasaan filsafat ilmu. Cara membangun argumentasi bagi para kader ilmu cukup mengesankan. Sesungguhnya bukan seperti kata seorang alumni IAIH yang menyebut saya Imajiner tapi tidak realistis. Kader ilmu dalam aplikasinya lebih banyak memilih yang dekat-dekat dengan dunia fikir dan bicara di

forum-forum ilmiah. Banyak yang jadi guru dan dosen. Hebatnya, diidolakan oleh banyak mahasiswi. Dalam ber-NW, kader ilmu ini lebih memilih model ber-NW tidak dengan simbol termasuk mengabaikan struktur, tetapi lebih pada tata nilai yang dikandung oleh NW. Jadi ke-NW-annya, ada pada deretan nilai-nilai dan norma keilmuan berbasis NW. Dengan keberadaan kader ilmu ini, sungguh saat ini saya sungkan menulis. Saya tidak semel kepada para ahli ilmu semisal Ust Muhammad Haromain (mantan Ketua HIMMAH/ Dosen STAIN Parepare), Ust Hasan Asyari, dan lain-lain. Beliau-beliau semua begitu matang. Maka dalam konteks ini, HIMMAH adalah sarana berilmu dan berpengetahuan pada margin-margin yang tidak begitu jauh dari kemestian menumbuhkan dan mengembangkan NW pada area yang lebih luas. HIMMAH lebih pada wadah mencetak kader ilmu yang diharapkan dapat diteruskan menjadi kader pejuang.

Kader pejuang, merupakan kelanjutan dari kematangan ber-ilmu dan berpengetahuan dengan menebarkan diri (Intisyar) pada wilayah yang jauh lebih luas. Kader pejuang dalam menampilkan tindakannya mengikut sertakan NW sebagai wadah pendidikannya, pengkaderannya, menampilkan NW sebagai “Romzul ittihadi”. Kader pejuang itu pendesaian struktur gerakan. Kader pejuang, adalah kesiapan meninggalkan keenakan dalam wilayah kecil bersama keluarga dan teman-teman di Lombok dan NTB, menuju daerah-daerah terluar NKRI. Kader pejuang siap dengan kesunyian dan kesepian, tahan banting dengan kekurangan pangan dan ketiadaan honorarium. Kader pejuang siap membabat hutan untuk membangun TPQ dan Majlis Talim. Singkatnya, yang saya maksudkan, kader pejuang adalah kader yang tidak akan ikhlas berdiam diri di Lombok dan NTB, tetapi mereka dengan inisiatif sendiri menyiapkan diri menumbuh kembangkan NW di seluruh pojok negeri yang tercinta. Dan inilah yang kurang. Perbandingannya sangat tajam.
Saya lebih setuju menunjuk contoh kader pejuang seperti seorang adik kami alumni STKIP, pergi merantau ke pedalaman Kalimantan. Dia tidak tertarik menjadi PNS, tetapi berjibaku dengan kerasnya alam lingkungan sosial masyarakat Dayak. Kini belum sebulan, dia terpilih menjadi Kepala Desa di rantauan sana. Dia suarakan NW yang mengkadernya. Dia berdialog dengan masyarakat setempat dengan argmentasi tipis-tipis tapi ngena. Atau contoh itu, seperti seorang Mutakharrijin Mahad yang memang dikirim oleh Masyaikh untuk melengkapi jumlah kader pejuang, juga di Kalimantan. Kini dia bisa jadi dai yang populer, mulai ikut di kepengurusan KPU di bawah Kabupaten. Dia banggakan NW yang telah mengkadernya. Dia korbankan enaknya bersama keluarga di Lombok. Bahkan dia nyaris tidak menemukan ayahnya masih bernyawa. Dia sabar dan sadar. NW membutuhkan tenaga dan keringatnya. Sebenarnya saya pribadi, ingin jadi seperti mereka. Bukan jadi PNS seperti saat ini. Tetapi mengapa saya jadi PNS meski bukan target saya, alasannya sangat teknis oleh tebaran isu waktu itu.
Atas moment politik tahun 2019 lalu, kita melakukan hal yang tanggung. Cita-cita kita begitu tinggi, tapi tidak sebanding dengan besar dan luasnya medan ikhtiar

yang kita jalankan. WRM hanya kita jadikan pelipur lara atas kegagalan politik, tetapi tidak kita manfaatkan untuk mendinamisasi gerakan kebangsaan di seluruh wilayah NKRI. Jangan beranggapan politik hanyalah sekias dulang ala Sasak dengan pelalahnya, opornya, kelak bageknya, dan apa juak. Politik itu juga mengenai kesiapan menjadi pembuat papeda ala Ambon, gogos Maluku, Kapurung Bugis, dan banyak lagi. Ingat! Bukan hanya sebagai penikmat, tetapi sebagai pembuat. Panjang harapan kita, tinggi impian kita, begitu luas cita-cita yang hendak kita dapatkan dari lelaku politik. Tetapi ikhtiar yang kita lakukan sangatlah kecil. Kita jadi Baper-an atas banyak keputusan politik yang bikin spot jantung ngempot- ngempot. Maka setelah ber-HIMMAH, silahkan ber-HAROKAH.
Atas apa yang saya sampaikan ini, saya ingin mengajak adik-adik HIMMAH untuk tidak merasa cukup dan bangga dengan apa yang anda capai selagi jadi mahasiswa. Anda perlu meneruskan HIMMAH itu dengan HAROKAH yang lebih nyata. Anda tidak cukup menjadi kader ilmu, tetapi anda harus bisa menjadi kader pejuang. HIMMAH kader ilmu, dan HAROKAH adalah gerakan masif para kader pejuang.
Demikian. Saya inginnya menulis lebih baik dan berisi untuk adik-adik semua, yang hari ini akan dilantik dan melaksanakan rapat pimpinan pusat. Tetapi, karena akhir tahun, banyak yang ngejer-ngejer. Tidak enak juga berlibur akhir tahun, karena banyak tuntutan buat laporan pelaksanaan anggaran. Jadi kurang fokus. Perhatian menulis jadi terbelah. HIMMAH saat ini hanya menarasikan INDONESIA, seharusnya siap meng-HAROKAH-i ANTI ROMZUL ITTIHADI. Satu pesan saya, “lanjutkan HIMMAH anda dengan HAROKAH yang lebih memungkinkan kita dapat mencapai apa yang kita cita-citakan bersama”. Kami tidak lebih baik dari anda. Capaian kami tidak lebih menguntungkan NW dibandingkan dengan apa yang akan anda peroleh setelah ini.
Wallohulmuwaffiqu Walhadi Ila sabilirrosyad Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuhu

Denpasar Bali, 27 Desember 2020

Syamsudin M.
Siswa SMP NW Pancor 1995, MAU NW Bawak Bagek 1998, Thullab Mahad pancor 2003, Mahasiswa IAIH Pancor 2003. Guru Pontren Bali Bina Insani (1,5 tahun) 2005. PNS Kanwil Kemenkumham Bali sejak 1 Januari 2005 hingga saat ini. Alamat: Komplek Perumahan Kemenkumham RI Jalan Ratna Nomr 19 Denpasar.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA