Dakwah TGB (55) MENGINGAT KONTRIBUSI PARA PENDAHULU

Dakwah TGB (55) MENGINGAT KONTRIBUSI PARA PENDAHULU

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebuah karunia Allah yang tak terhargakan nilainya. Di atasnya kita hidup tenang, aman, nyaman dan bahagia dengan segenap aktivitas bisa kita jalani.

Namun penting diingat, bahwa kondisi ini tidak hadir “bimsalabim”. Ia adalah buah dari perjuangan panjang dan pengorbanan para generasi sebelum kita, yang membayarnya dengan harta, tenaga bahkan nyawa.

“Mari kita bersyukur dan menyadari bahwa yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan generasi terdahulu.” Kata TGB mengingatkan jamaah pada acara Haul H.S.A. Basori dan Hj. Nafi’ah Basori di Berebes Jawa Tengah.

Mengingat dan menghargai kontribusi para pendahulu adalah bagian penting dari ajaran Islam. Al-Qur’an dan sunnah mengajari sekian adab kepada para pendahulu. Teks ayat suci yang secara eksplisit bicara ini yaitu:

والذين جآؤو من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنآ إنك رؤوف رحيم .
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rab kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hasyr: 10).

Ulama tafsir tersebut mengatakan bahwa ayat ini mengajarkan adab kepada kita terhadap para pendahulu atau generasi sebelum kita. Apa adab itu?

Pertama, berdoa untuk para generasi terdahulu. Kata TGB, anak mendoakan ayah-ibunya, kakek dan neneknya dan terus ke atas, juga para guru terdahulu. Atau, generasi sekarang mendoakan para pendahulu dari kalangan proklamator dan pahlawan-pahlawan bangsa. Sebab, mereka telah lebih dahulu beriman.

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu”. (Penggalan doanya).

Kedua, jangan pernah membenci para pendahulu. Berdoalah, “Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman”. Artinya, jangan pernah melihat dan mengingat keburukan para pendahulu, apalagi menyebut-nyebutnya. Jangan!

Kata ulama –kutip TGB– ayat ini adalah salah satu adab dan prinsip dalam Islam supaya kita “selalu memuliakan orang yang telah ada sebelum kita”. Sejatinya memang, jangankan kepada orang yang ada hubungan darah dengan kita, kepada mereka yang tidak kita kenal pun, wajib dihargai dan dihormati.

Untuk lebih jelasnya, Ketua OIAA tersebut mencontohkan dengan dirinya. Bagaimana sebelum ceramah beliau dijamu makan oleh Pak Farid (sahibul bait) yang diyakini TGB nasi yang dimakan bukan hasil tanaman pemilik acara, tapi ia membelinya. Orang tempatnya membeli beras itu pun bisa jadi sawah tempat menanam padi bukan asli miliknya, tapi warisan dari ayah-kakek hingga buyutnya.

Ternyata, “Nasi yang masuk ke dalam perut saya itu adalah hasil kebaikan orang –yang bahkan– tidak saya kenal sama sekali.” Kata TGB sembari menekankan bahwa mengingat seperti demikian adalah bagian dari adab yang diajarkan Islam.

Rasulullah saw. sering sekali mengingatkan kita cara beradab kepada pendahulu yang telah wafat. Bagaimana caranya?أذكروا محاسن موتكم “Ingatlah kebaikan orang yang telah mati di antara kalian”. (Alhadis).

Sabda ini pun mengandung pelajaran dari Nabi saw. yakni terhadap orang yang telah meninggal dunia jangan pernah diungkit kejelekannya, tapi ceritakanlah kebaikan-kebaikannya.

Sebagai refleksi saja, selain ingin mencontohkan perihal yang baik, Tuan Guru Bajang bercerita tentang dirinya yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB dua priode (2008-2018), sepatah katapun tak pernah terucap dari bibirnya kata-kata yang menyalahkan para gubernur sebelumnya. Mengapa demikian?, sebab beliau sadar dengan hadis tadi.

Nah, setelah TGB menceritakan akan dirinya yang telah mengamalkan hadis di atas, maka kita –penting– merefleksi estafeta kepemimpinan di bangsa Indonesia ini. TGB mengingatkan; jangan sampai “mentradisikan” mencari kesalahan-kesalahan para pendahulu.

Ketua PBNW tersebut menyinggung hal ini, sebab beliau tidak nyaman dengan sikap sebagian anak bangsa yang selalu menyebut bahkan mengorek kesalahan-kesalahan para pemimpin terdahulu. Mulai dari Proklamator sampai Pak Harto dan pemimpin setelahnya. Bukan kebaikan yang mereka ceritakan, tapi kejelekan diorek-orek.

“Kalau kita mencari keburukan seseorang, maka tidak akan cukup umur ini untuk menyebutnya. Dan –jeleknya– di dalam setiap yang kita sebut pasti tidak akan ada kebaikannya.” Kata TGB.

Oleh sebab itulah –lanjut TGB–, maka ulama-ulama dan para guru kita, tidak hanya mereka mengajarkan halal-haram atau perkara boleh-tidak boleh, tapi mereka juga mengajarkan kita adab dan etika dalam bermasyarakat dan bernegara.

“Ini adalah bagian dari inti berislam. Isi dari Islam tidak hanya ada halal-haram, tapi juga ada adab dan etika. Islam mengandung pula apa yang harus dan tidak seharusnya”. Katanya mengingatkan.

Syukurnya, semua cara etika baik itu ada dan bisa kita temukan di Indonesia. Kata TGB, “Alhamdulillah para ulama dan guru guru kita mengajarkan dengan lengkap tuntunan berislam”.

Lanjutnya, “Saya berharap semua tradisi-tradisi baik ini dijaga sebaik-baiknya, karena ini adalah bagian dari kesempurnaan Islam.” Demikian harap suami Hj. Erica ini.

Wa Allah A’lam!

Paok Lombok, 26 Desember 2020 M.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA