Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Sungguh banyak nikmat dan karunia Allah swt. yang tercurah kepada kita. Baik nikmat pada tataran sebagai pribadi, masyarakat bangsa dan negara. Pokoknya, semua yang dinikmati saat ini merupakan nikmat dan anugrah dari-Nya.
Betapa banyaknya nikmat tersebut –kata TGB– sampai-sampaiلا تعد ولا تحصى “Tidak bisa dihitung dan tak terhingga jumlahnya”. Tapi, meski demikian ada satu nikmat yang selalu diingatkan Allah kepada kita secara eksplisit (jelas) disebut, yaitu تأليف القلوب “Nikmat Allah mempersatukan kita”.
Perkara nikmat persatuan yang mempersaudarakan dan mendamaikan ini bukan perkara mudah dan ringan. Dia tidak menjelma begitu saja tanpa ada perjuangan untuk mewujudkannya. Al-Qur’an sendiri menyebut ada harga yang harus dibayar untuk memperolehnya.
Harga nikmat itu –kutip TGB– disebut dalam firman-Nya:
وألف بين قلوبهم لو أنفقت ما في الأرض جميعا ما ألفت بين قلوبهم ولكن الله ألف ببنهم إنه عزيز حكيم .
“Dan Dia Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Seandainya engkau membelanjakan semua apa yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. al-Anfal: 63).
Dengan ayat ini –kata Ketua PBNW tersebut, kita mengetahui bahwa semua kedekatan dan kelunaan hati, serta kesadaran menjalin persaudaraan, semata-mata karunia dari Allah swt. Semua terwujud atas izin dan kehendak-Nya.
Karena itu –lanjut TGB–, jangan pernah menduga atau berpikiran bahwa Indonesia yang saat ini dalam keadaan damai, aman, nyaman dan tentram, sebagai sesuatu yang memang seharusnya terwujud dengan sendirinya. Jangan!. Tidak seperti itu.
“Apa yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan, didikan guru-guru kita yang mengajar cara berislam dengan damai, yang mengajarkan kita cara bersaudara dengan menerima kurang dan lebihnya, serta saling memaafkan dan toleransi terhadap perbedaan. Yang dengannya kita bisa menikmati Indonesia dalam suasana aman dan tentram.” Terang Doktor di bidang tafsir ini.
Pandangan enteng dari sebagian anak muda; bahwa ada yang beranggapan situasi damai di Indonesia saat ini adalah sebuah kebetulan atau seharusnya seperti ini. Sebabnya, karena mereka belum melihat bagaimana kondisi kebanyakan negara luar yang selalu bersitegang dan perang saudara.
Tuan Guru Bajang pun harus menceritakan pengalamannya yang kebetulan beliau pernah tujuh tahun lebih di luar negeri. Di sana beliau melihat situasi dan kondisi negara-negara di sana. Beliau pernah ke Siria, Lebanon, Turki dan negara-negara Arab lainnya.
“Bila bapak-ibu melihat kondisi semua negara itu lalu membandingkan kondisinya dengan kondisi Indonesia saat ini, maka tidak akan ada kalimat yang akan keluar dari bibir kita melainkan ucapan الحمد لله رب العالمين syukur kepada Allah swt.”. Jelas Ketua Umum OIAA itu.
Di Timur Tengah itu –lanjut cerita TGB– ada negara namanya Siria yang disebut sebagai أرض العلمآء “Bumi para ulama”. Di sana lahirnya Imam an-Nawawi. Ulama yang mengarang kitab رياض الصالحين dan الأذكار . Di kitab pertama itu ada banyak hadis yang mengajarkan cara kita berislam dan beriman yang damai. Pada kitab kedua, tertulis tuntunan zikir penata hati dari al-Qur’an dan sunnah Nabi saw.
Namun sayangnya, “Sekarang jangankan kitabnya mau dibaca, kuburannya pun dihancurkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab”. Ceritanya menyesalkan.
Padahal, kuburannya yang di Nawa (sehingga disebut Nawawi) adalah tempat yang –dulu– ramai diziarahi karena mengharap berkah. Tapi, karena mereka tidak pandai menjaga persatuan dan persaudaraan, maka Allah mencabut keberkahan di tengah mereka. Allah mengganti kedamaian dengan keresahan, konplik, perpecahan.
Mereka merobek persaudaraan dan persatuannya dengan memperbesar hal-hal spele. Menyulut bara api permusuhan dan perpecahan dengan mempertentangkan agama dan negara. Merasa faham dirinya lebih baik dibanding saudara sesama bangsa. Perpecahan itu pun sampai sekarang belum selesai.
Berbeda dengan kondisi kita di Indonesia, riak-riak kecil segera kita damaikan. Kita tak ingin pengalaman negara di luar sana terjadi di tempat kita ini. Karenanya, “Mari kita bersyukur dan menyadari bahwa hasil yang kita nikmati saat ini adalah buah perjuangan generasi terdahulu.” Kata TGB mengingatkan kita.
Demikian ulasan Syaikhuna Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA pada acara Haul H.S.A. Basori dan Hj. di Berebes Jawa Tengah.
Semoga uraian ini mencerahkan dan menyadarkan; bahwa ada yang lebih mahal dari materi yang kita punya yaitu harga persatuan dalam wadah bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini! Amiin.
Wa Allah A’lam!
Paok Lombok, 26 Desember 2020 M.



