Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Selepas kajian tafsir (pada sesi tanya jawab) di Islamic Center Mataram kemarin (13/11/2020 M), Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA ditanya tanggapannya terkait fenomena kepulangan sekaligus sikap penyambutan jamaah dari al-Mukarram Habib Muhammad Rizieq Shihab (Imam Besar Front Pembela Islam/IB FPI).
Di youtube atau di facebook banyak yang bisa kita tonton, betapa ramainya penyambutan jamaah dan simpatisan FPI terhadap kepulangan IB HRS bak Pahlawan pada 10 Nopember 2020 M. Bahkan, ribuan umat IB sampai penuh sesak mendekati kaki pesawat yang digunakannya di Bandara Soekarno Hatta Tangerang.
Sebenarnya, pertanyaan yang senada dengan jamaah di Islamic Center Mataram kemarin, telah banyak juga dilabuhkan kepada ulama Nasional kita yang terkenal santun dan moderat tersebut.
Menjawab pertanyaan itu, alumnus Al-Azhar Cairo Mesir tersebut mengatakan bahwa hak persaudaraan untuk kita bisa saling menghormati itu ada tiga:
Pertama, persaudaraan karena sesama Muslim. Kedua, persaudaraan karena sesama warga negara. Ketiga, persaudaraan sebagai sesama manusia.
Itulah tiga sebab persaudaraan yang disebut sebagai sebab-sebab umum.
Ada juga sebab-sebab persaudaraan secara khusus yang ada dan melekat pada –semisal– Habib Muhammad Rizieq Shihab, yaitu:
Pertama, beliau adalah من ذريات رسول الله (termasuk di antara keturunan Rasulullah saw.). Bagaimana sikap dan akhlak kita kepada keluarga dan keturunan Nabi kita yang mulia Rasul saw.? Jawabannya ada dalam kita suci al-Qur’an.
Ayat tersebut dikutip oleh Mufassir muda tersebut:
قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى .
“Katakanlah (hai Muhammad) saya tidak meminta kepada kalian upah atas apa yang aku sampaikan ini, melainkan agar kalian mencintai kerabat-kerabatku.” (QS. Asy-Syuara: 23).
Kedua, beliau من العلمآء (termasuk ulama). Orang alim. Orang yang memiliki ilmu.
“Jadi, (menghormati Habib Muhammad Rizieq Shihab) ada sebab umum dan sebab khusus. Ini sudah lebih dari cukup sebagai sebab untuk kita menghormatinya.” Jelas TGB.
Menghormati artinya tidak boleh mengumpat, mencerca, merusak kehormatan pribadinya. Tapi, apakah dengan kita menghormati lantas kita harus mengikuti semua pandangan-pandangannya?
Kata Tuan Guru Bajang, antara menghormati seseorang dan mengikuti pandangannya adalah dua hal yang berbeda. Beliau mencontohkan pada dirinya yang menganut mazhab Imam Syafii, padahal ada banyak Imam-imam yang lain. Pilihan ini bukan berarti ia tidak menghormati Imam-imam lain.
Sikap dari ulama yang merupakan cucu Pahlawan Nasional dari NTB ini sjalan dengan ungkapan yang disampaikan Imam Malik bin Anas berikut ini:
كل واحد يأخذ من كلامه ويرد إلا صاحب هذا المقام .
“Semua orang boleh diterima dan ditolak perkataannya, pandangan dan pendapatnya, kecuali pemilik makam ini (sambil menunjuk kepada makam Rasulullah saw.).”
“Jadi menghormati dan memuliakan itu satu hal, dan mengikuti semua pandangannya itu hal yang lain.” Kata TGB menjelaskan.
Oleh sebab itu –lanjut TGB, maka saya bisa menghormati beliau (HRS) dengan tanpa harus mengikuti semua pandangan-pandangannya. Asalkan –tekan TGB– kita mengikuti atau tidak ada alasannya.
“Mengikutilah dengan penuh pemahaman. Jangan mengikut karena sebab hiruk pikuk. Sebaliknya, kalau tidak mengikuti, juga harus dengan kepahaman.” Ulas bintang Al-Azhar Cairo Mesir tersebut.
Atas dasar pemahaman itulah, maka ada beberapa hal yang saya (kata TGB) tidak ikuti dari beberapa pandangan-pandangan al-Habib. Misalnya, pada hal-hal furu’ (cabang) berupa fikih “siyasah” (politik) atau pada “alhisbah” (amar makruf dan nahi mungkar).
“Tapi, meski demikian, tidak mengurangi hormat saya kepada beliau (HRS).” Tegasnya.
Oleh sebab demikian, janganlah seseorang menjastis orang lain yang tidak masuk dalam kelompoknya sebagai orang yang kurang semangat berjuangnya membela Islam. Jangan!
“Jangan mengecilkan Islam pada seseorang. Tidak ada seseorang di dunia ini yang bisa mengatakan bahwa dirinya mewakili seluruh ajaran Islam selain Rasulullah saw.” Demikian nasihat Ulama Hafidz al-Qur’an tersebut.
Oleh karena tak ada satu orang pun yang mereferentasikan Islam secara utuh, maka –terang TGB– Imam-imam dulu sering mengatakan:
قولي صواب يحتمل الخطاء .
(Ucapanku benar tapi bisa mengandung kesalahan).
قول غيري خطاء يحتمل الصواب .
(Ucapan orang lain bagiku salah, tapi bisa jadi mengandung kebenaran).
Tak ada manusia pembawa kebenaran absolut selain Nabi saw. Maka, jangan mencinta dan membenci yang melewati kadarnya.
“Kita harus hati-hati cinta dan benci kepada manusia biasa. Tapi kalau ke Rasulullah, silahkan limpahkan cintamu seutuh-utunya kepadanya.” Petuah TGB memberikan kita rambu-rambu cinta dan benci.
Mengapa TGB menyuruh kita hati-hati dengan cinta kepada manusia biasa?
Sebab, kepada orang sekelas ibu dan bapak saja, oleh Al-Qur’an kita disuruh tidak menaatinya kalau sampai kepada titik mengajak maksiat, فلا تطعهما (jangan taati keduanya).
Menurut hemat saya (penulis) mungkin TGB menyuruh kita jangan cinta buta. Cintailah seseorang dengan proporsional.
Proporsional dalam mencinta adalah bagian dari peringatan dari Imam Ali karramallah wajhah –seperti tutur TGB–.
Sahabat Ali bin Abi Thalib krw. pernah berkata: “Nanti ada dua orang yang akan masuk neraka, yaitu orang sangat cinta kepada kepadaku dan orang yang sangat benci kepadaku.”
Perkataan sahabat Rasulullah saw. tersebut pun menjadi kenyataan di kemudian hari.
Orang yang sangat cinta kepada Imam Ali bernama Syiah Rofidhoh. Karena saking mereka mengelu-elukannya, mereka dengan lancang mengatakan; “Wahyu Allah turun salah alamat. Mestinya wahyu turun kepada Imam Ali bukan kepada Muhammad.”
Pun demikian pula, orang yang anti dan benci kepada Sayyidina Ali krw. sampai mereka berani menganggap beliau keluar dari Islam karena tidak mau berhukum dengan kalam Allah.
Itulah fenomena mencinta dan benci yang overdosis. Cintanya sangat berlebihan. Bencinya pun kelewat batas. Rasionalitas hilang. Akalnya tak lagi berfungsi, bahkan menutup imannya. Wal iyazubillah!.
Karena itulah, “Kalau dalam diri saya itu sudah mentradisikan, bahwa ucapan-ucapan atau pandangan-pandangan yang saya dengar itu, saya letakkan pada tempatnya berdadarkan pada apa yang saya pelajari dengan sungguh-sungguh.”
Demikian kata TGB memberitahu kita bahwa beliau mengikut atau tidak berdasarkan pemahaman yang utuh.
Walhasil, kita pun mengetahui sebagaimana cerita TGB, bahwa ulama alumnus Al-Azhar tersebut banyak berguru dan mendengar ilmu dan pandangan-pandangan terkait amar makruf nahi mungkar dan lainnya, dari para guru-gurunya di Al-Azhar, juga kepada para ulama.
“Termasuk kepada para habaib seperti Habib Umar bin al-Hafidz”. Jelasnya tegas.
Oleh karena itu, “Saya tidak wajib mengikuti apa yang tidak saya yakini menurut ilmu saya.” Katanya penuh yakin.
Demikianlah tips TGB menjalin ukhuwah atau persaudaraan dengan sesama umat Islam, sesama anak bangsa, atau sesama manusia, bahkan sesama ulamanya, sehingga beliau tak pernah berseteru dengan siapapun.
Pandangan TGB yang luas, pemahaman keislamannya yang mumpuni, dan pemahaman kebangsaannya yang teruji, maka di manapun beliau hadir selalu diterima.
Beliau sangat menghormati pandangan orang lain, maka beliau pun amat disegani oleh mereka.
Wa Allah A’lam!
PP. Selaparang, 14 Nopember 2020 M.




