Bentuk fisik yang Allah anugerahkan kepada kita, ternyata sangat memudahkan kita untuk melakukan gerakan sholat dan gerakan ibadah lainnya yang memang diperintahkan untuk kita. Kita bisa rukuk, bisa sujud dan berdiri dengan sempurna, berbeda dengan makhluk lainnya. Hatta —maaf— simpanse atau monyet yang bentuk tubuhnya hampir sama dengan kita secara fisik, tapi simpanse dan monyet tidak bisa rukuk dan sujud sesempurna kita. Coba perhatikan bila ada topeng monyet, saat monyet disuruh sholat, monyet bisa sujud, tapi kagak bisa rukuk —-bagaimana rukuknya, susahkan…he he— begitu pula ketika sujud tidak sesempurna kita.
Memang Allah menciptakan makhluknya penuh dengan keindahan dan ahsan, karena Allah
Ketika dalam pandangan kita tidak baik atau tidak indah, bisa jadi itu karena terbatasnya pandangan dan pikiran kita sehingga belum mampu menangkap kebaikan dan keindahan ciptaan Allah —paling tidak saat kita melihat ciptaan Allah tersebut.
Memang tidak elok bila hal-hal yang buruk dan negatif itu kita nisbahkan/sandarkan kepada Allah, walaupun pada hakikatnya atas izin Allah. Sebenarnya bila kita perhatikan ayat-ayat Allah di al-Quran mengajarkan kepada kita untuk berpandangan seperti itu. Misalnya ayat al-Quran ketika berbicara kenikmatan, langsung disandarkan/dinisbahkan kepada Allah. Contohnya pada surat al-Fatihah, kenikmatan langsung kata gantinya (dhomirnya) tertuju kepada Allah, yaitu أَنْعَمْتَ “nikmat yang telah Engkau…”. Berbeda ketika menyebut kemurkaan, dhomir Allah tidak disebut secara langsung, yaitu ٱلْمَغْضُوبِ, yang artinya yang dimurkai, bukan langsung yang Engkau murkai.
Ayat di atas menggunakan kata ganti yang langsung menunjuk diri kita (baca: aku) ketika kita sakit, karena sakit merupakan sesuatu yang tidak baik dan tidak mengenakkan. Tapi ketika sembuh, langsung dhomirnya —-meskipun kata ganti ketiga ghaib, tapi jelas tergambarkan— dikembalikan kepada Dia, yaitu Allah. Karena sembuh, sehat merupakan sesuatu yang baik dan mengenakkan.
Pada ayat 79 surat al-Nisa, lebih jelas lagi dimana Allah mengatakan —-dan ini pembelajaran buat kita— bila ada kenikmatan maka itu dari Allah dan bila bencana maka itu kesalahan diri kita sendiri.
Jadi kebaikan dan keindahan itu kita nisbahkan kepada Allah, tapi hal-hal yang buruk, kita nisbahkan pada diri kita, kesalahan kita, walau pada hakikatnya apapun yang terjadi di dunia ini atas izin Allah. Pandangan ini terasa penting untuk kita bangun sehingga kita akan memiliki pandangan positif (berbaik sangka) kepada Allah. Bukankah dalam satu hadits Allah mengatakan “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku pada-Ku.”
Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah RA juga, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Berprasangka baik kepada Allah bukan berarti kita boleh meninggalkan ketaatan kita kepada-Nya, dengan berfikiran bahwa “Allah itu maha baik, maha pengampun. Untuk apa kita bersusah payah beribadah toh kalau kita berhusnuzhon pada-Nya bahwa kita akan diampuni, nanti juga akan diampuni.”
Hadits di atas, bila kita cermati ada korelasi yang sangat jelas antara berbaik sangka kepada Allah dengan amal ibadah. “Aku bersamanya (bersama hamba-Ku) ketika ia mengingat-Ku.” Bagaimana kita akan mengingat Allah bila kita tidak beribadah kepada-Nya. Jadi berbaik sangka kepada Allah itu justru mendorong kita untuk semakin taat dan meningkatkan ibadah kita kepada Allah, bukan sebaliknya.
Begitu pula ketika kita mendapat musibah dan —maaf — menjelang kematian, kita juga hendaknya berprasangka baik kepada Allah. Dari Jabir RA, dia berkata, Aku mendengar Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafat bersabda:
Di akhir renungan saya kutipkan ungkapan indah dari seorang ulama Tabiin, Imam Hasan Bishri terkait Husn al-Zhon sebagaimana dikutip dalam kitab al-Dhaw-u al-Munir ‘ala al-Tafsir yang dihimpun oleh Syaikh Ali al-Hamdi al-Muhammad al-Sholih, jilid VI, Muassasah al-Nur li al-Thiba’ah wa al-Tajlid, halaman 398:
Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.
Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi



