MATAHARI mulai meredup. Perjalanan kembali berlanjut. Tujuan TGB berikutnya adalah kediaman kiai sepuh di Kabupaten Mojokerto.
Perjalanan awal cukup lancar, hingga beberapa saat kemudian jalan kian menyempit. Macet. Tiga puluh menit kemudian, rombongan telah tiba di Pondok Pesantren Al Misbar-Karangnongko. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ilyas. Jumlah rombongan bertambah. Ada Gus Mad turut serta dalam perjalanan ini. Tiba di lokasi langit telah gelap. TGB langsung menuju salah satu bangunan. Tiang dan dindingnya dari bambu. Alasnya karpet hijau. Sederhana. Pajangan dindingnya hiasan kepala kijang dari kayu.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu,” TGB mengucap salam.
Sepi. Tak ada jawaban. Gus Mad melangkah ke bangunan lain, menanyakan keberadaan tuan rumah. Oleh salah satu penghuni dikatakan, kiai tengah Shalat Maghrib. Mendengar itu, TGB kemudian menuju mushalla pesantren. Jaraknya hanya beberapa meter. Usai salat, TGB kembali ke ruangan tadi. Tangannya memegang tiang.
”Ini dari bambu ya, ” tanya TGB.
“Iya, dindingnya juga,” jawab Gus Mad.
Bincang-bincang berlanjut antara TGB dengan rombongan yang menyertai. Pertanyaan mengalir seputar sejarah pondok dan cerita para pendirinya. Tak berapa lama suguhan minuman tuan rumah datang. Cerita-cerita tentang pesantren Al Misbar disampaikan.
Ditengah perbincangan, muncul kakek dengan pakaian batik dan bersarung menyapa. Semua yang ada di ruangan langsung berdiri, mencium tangan pria sepuh ini. Pun demikian dengan TGB. Kakek ini adalah KH Chusain Ilyas, pengasuh pesantren.
“Alhamdulillah…alhamdulillah. Suwe yo (lama ya),” katanya.
Usai bersalaman dengan semua tamu, Kiai Chusain menengok kiri dan kanan. Dengan cekatan Gus Mad berdiri, mengambil asbak. Tidak menunggu lama, Kiai Chusain langsung mengambil sebatang rokok. Berikutnya, nyala korek diiringi asap putih mengepul. Tangan Kiai Chusain tampak terus memijit rokoknya.
“Berapa usianya Kiai,” TGB membuka pembicaraan.
Ditanya usia, Kiai Chusain berkata, usianya masih muda. Ukuran muda ini karena abahnya Kiai Chusain yang dikenal dengan Mbah Ilyas wafat di usia 100 tahun. Dari ceritanya diketahui, kakek Kiai Chusain juga memiliki usia yang panjang. Dari beberapa informasi, diperkirakan usia Kiai Chusain sendiri sudah berkepala delapan. Ditengah obrolan ringan, pengasuh Ponpes Masyithoh Kiai Abdul Wahid Rozaq datang.
“Mbah Yai, Pak Gubernur NTB ini hafal Quran, ujar Kiai Wahid.”
“Raja Arab itu juga hafal Quran, ” jawab Kiai Chusain terkekeh.
TGB kemudian bertanya kepada Kiai Chusain sosok yang paling berjasa dalam hidupnya. Kiai Chusain menjawab, orang yang paling berjasa dalam hidupnya adalah keluarga. Di masa penjajah, peran keluarga begitu besar. Didikan keluarga menghantarkan Kiai Chusain hingga kini. Keluarganya hidup penuh keyakinan kepada Allah. Suatu ketika, dalam perang bom dilempar oleh Belanda. Dari semua bom tak ada satupun yang meledak.
“Di bom tidak apa-apa. Pas melewati tentara, keluarga saya juga aman saja,” kisahnya.
Keyakinan kepada Allah, itu menjadi kunci perjalanan hidup Kiai Chusain. TGB kemudian meminta nasihat. Oleh Kiai Chusain dikatakan, hidup itu harus As Shofa, Al Wafa, dan Al Jafa. As Shofa artinya belajar membersihkan hati. Sedangkan Al Wafa menyamakan antara kata dengan perbuatan. Dan Al Jafa, tidak risau atas pujian dan cacian.
Saat ini, banyak manusia tertipu dengan banyaknya pujian, serta cemas ketika dicaci. Sikap dan kelakuan jauh dari perkataan. Hatinya cenderung meremehkan orang lain. Makna Al Jafa sendiri, menurut Kiai Chusain sama buruknya antara pujian dan cacian. Manusia tidak perlu gundah manakala dipuji atau dicaci.
“Pujian karo cacian iku podo wae, podo-podo eleke. (Pujian dengan cacian sama saja. Sama-sama jeleknya),” terangnya.
Ditengah pembicaraan akrab dua ulama beda generasi ini, Kiai Wahid kemudian mendekati Kiai Chusain. Membisikkan sesuatu. Kemudian Kiai Chusain, Kiai Wahid, dan TGB berdiri. Ketiganya beranjak, meminta waktu kepada semua yang hadir. TGB dan Kiai Wahid melangkah mengikuti Kiai Chusain masuk ke dalam rumah utama pesantren. Rombongan yang ditinggalkan saling melempar pandang. Seolah saling memberi kode, pembicaraan apa gerangan yang terjadi di dalam rumah utama.
“Itu khusus. Kita tunggu saja,” ucap Gus Mad mengobati penasaran rombongan.
Sepuluh menit kemudian, ketiga kiai ini keluar. Tidak ada lagi pembicaraan lanjutan. TGB pamit pada Kiai Chusain. Saat TGB hendak mencium tangan Kiai Chusain, kiai sepuh ini menarik tangannya. Sebaliknya, Kiai Chusain menarik tangan TGB untuk menciumnya.
”Tidak, tidak. Jangan kiai, ” kata TGB.
Dalam tradisi pesantren, mencium tangan pada ulama atau ahli ilmu sebagai bentuk kerendahan hati. Adab yang telah mengakar. Dalam sebuah kesempatan, TGB pernah ditanya soal pertemuan khusus bersama Kiai Chusain dan Kiai Wahid. TGB berpesan supaya tidak meremehkan Kiai Chusain. Pada kesempatan itu selain didoakan khusus, Kiai Chusain bertanya silsilah dari doktor ahli tafsir jebolan Universitas Al Azhar-Mesir ini.
“Doa yang tak sembarangan kiai membacanya. Itu dibacakan Kiai Chusain kepada saya,” kisah TGB.(*)
Tulisan:
Febrian Putra (Santri Ponpes Bahrul Ulum dan Mambaul Ma’arif-Jombang)



