MEMBACA SATU MILYAR HAUQALAH (Keutamaan Sekali Membaca Hizib Nahdlatul Wathan)

MEMBACA SATU MILYAR HAUQALAH (Keutamaan Sekali Membaca Hizib Nahdlatul Wathan)

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Salah satu “sunnatan hasanah” atau tradisi baik di tengah jamaah Nahdlatul Wathan (NW) yang terus terawat adalah membaca Hizib Nahdlatul Wathan.

Hizib tersebut berisi kumpulan doa para wali-wali Allah yang karamah, yang dipintal indah oleh Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid selaku pendiri organisasi Nahdlatul Wathan di Pancor Lombok Timur.

Kalimat-kalimat berkah dan untaian bait-bait syair nan indah yang dimuat dalam hizib akhir zaman tersebut, sungguh malam Ahad, 19 September 2020, menggema dan memenuhi atmosfir kampung Tempos Selatan Kecamatan Gerung Kab. Lombok Barat.

Acara Hiziban Akbar ini bertempat di Yayasan Pondok Pesantren Al-Mujahidin Tempos, atas inisiasi Pengurus Daerah Nahdlatul Wathan (PDNW) yang baru. Inilah acara Hiziban Akbar Perdana setelah mereka dilantik sebulan yang lalu.

Acara Hiziban Akbar tersebut berlangsung khidmat dan khusyuk di bawah pimpinan Drs. TGH. Muh. Nurhayat, M.Pd.I (Pimpinan Yayasan Al-Madani Pelulan) dan Dr. TGH. Said Ghazali, MA (Pimpinan Yayasan HAMZANWADI Gelogor).

Beberapa Petinggi NW dari Pengurus Wilayah banyak yang hadir, seperti Sekretaris Umum Pak Irzani, Dr. Muslihun Muslim, dan lainnya.

Dari unsur Pengurus Dewan Mustasyar ada Dr. Said Ghazali dan Dr. TGH. Abdul Aziz Sukarnawadi tokoh muda yang produktif menulis dan melahirkan buku-buku solonya yang berbobot dan bernas seputar Islam dan amaliyahnya, khususnya tentang bahasan tasauf.

Pengurus PDNW Lombok Barat selaku penyelenggara hadir lengkap dari Ketuanya Ust. H. Makmun, M.SI dan Sekretarisnya Ust. H. Mahmud, M.SI., dan sekaligus Ketua Penasihat TGH. Muslim mantan Kemenag Lombok Barat.

Malam itu, memang menjadi keuntungan tersendiri bagi warga Tempos, sebab banyak ulama dan Tuan Guru yang hadir ikut bermunajat.

Selain, karena dulu Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid sering ke sana (1979 dan 1987). Bahkan Maulana sampai menyebut Tempos sebagai pos ilmu di kemudian hari. Tak ayal, kata Maulana itu terbukti saat ini dengan adanya 4 madrasah di kampung tersebut.

Setelah Hiziban Akbar selesai. Kemudian, Ulama Muda Nahdlatul Wathan yakni Dr. TGH. Abdul Aziz Sukarnawadi (usia 36 tahun) di daulat sebagai penceramah untuk mengupas kelebihan dan keutamaan Hizib Nahdlatul Wathan.

Banyak hal disampaikan Masyaikh Muda Ma’had Darul Qur’an wal Hadis Pancor tersebut. Yaitu antara lain, terlebih dahulu beliau mengajar santri cara mengatur nada saat menjawab salam.

Kata Tuan Guru Aziz, salah satu seni dalam Islam, ia mengajar kita nada saat menjawab salam. Kalau penceramah mengucap salam rendah, jamaah juga harus rendah. Demikian pula, jamaah harus mengikuti saat penceramah bersuara pertengahan dan tinggi.

Demikian halnya dalam shalat, saat makmum mengucap kalimat bacaan أمين . Makmum harus memperhatikan nada bacaan fatihah Imam shalatnya, apakah ia bersuara rendah, pertengahan atau tinggi.

“Jangan sampai para santri berjamaah sama imam yang sudah tua dan suara bacaan fatihahnya rendah atau kecil, lalu kalian mengucap أمين dengan suara kencang sekali. Bisa-bisa Imamnya jadi struk nanti.” Kata putra TGH. Husnudduat tersebut disambut tepuk tangan riuh hadirin dan ratusan santri al-Mujahidin.

Pada kesempatan yang barakah dan mulia tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Birrul Walidain Jenggik itu membahas salah satu alasan mengapa Maulana Syaikh mengawali hizibnya menggunakan nama Allah berupa يا حي يا قيوم , tidak dengan nama-nama yang lain?

Kata beliau, sebab dua nama mulia tersebut adalah bagian dari الإسم الأعظم (nama yang agung). Yang dalam sebuah riwayat dari Imam Abu Daud, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah dari Buraidah, bahwa Nabi saw. pernah mendengar seseorang berdoa:

اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد .

“Ya Allah, aku memohon (pertolongan) kepada-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah. Tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Esa, tempat bergantung yang tiada melahirkan dan tiada dilahirkan, serta tiada apapun yang menyamai-Nya.”

Mendengar doa tersebut, Rasulullah saw. bersabda:

لقد سألت الله تعالى بالإسم الذي إذا سأل به أعطى وإذا دعي أجاب .

“Sungguh kamu telah memohon dengan nama (agung) yang Dia akan memberikan karunia-Nya bila diminta dengan nama tersebut, dan Dia akan mengijabah seseorang yang berdoa memanggil-Nya dengan nama tersebut. (Al-Hadits).

Lantas, kenapa doa kita terasa sulit terkabul? Tanya Tuan Guru.

Jawabnnya. Karena, kata Rasulullah saw.: Allah swt tidak akan menerima doa orang yang di hatinya ada kebencian. Tidak mau bertegur sapa dengan saudaranya, meski sehari. Apalagi berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun sampai seperlima abad.

“Mari kita kompak, utuh, dan bersatu. Jangan lagi ada dendam di antara kita. Kalau mereka tidak mau disapa. Biarkan!. Yang penting kita mau dan mudah menyapa mereka.” Tegas Tuan Guru.

Selain itu, dalam menyikapi suasana pandemi Covid-19 saat ini, Tuan Guru Muda (TGM) membangun optimisme jamaah, melalui bacaan hizib yang kita baca adalah –in syaa Allah– ini menjadi satu benteng terkokoh dari wabah Corona.

“Dengan membaca Hizib sekali, sama halnya dengan kita membaca لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم sebanyak satu milyar kali. Maka, jumlah ‘hauqalah’ sebanyak ini bisa menjadi pelindung kita dari wabah, jin dan setan.” Kata Tuan Guru.

Apa maksud ulama muda Nahdlatul Wathan tersebut?

Maksudnya adalah bahwa di dalam bait doa ikhtishar hizib tersebut, ada kalimat di bagian-bagian akhirnya yang berbunyi, وبألف ألف ألف لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم . Ada tiga ألف . Seribu, seribu, seribu tiga kali. Artinya ada sembilan nol. Maka sama dengan 1.000.000.000 (Satu miliyar).

Satu milyar “hauqalah” dikalikan dengan jumlah yang hadir membaca hizib, maka totalnya sampai ratusan milyar. Jumlah sebanyak itu, kalau dikonversi menjadi satu balatentara Allah, maka ia akan menjadi sesuatu kekuatan yang amat luar biasa.

#Bersambung_ke_kisah_pengantin_lelaki_mati_di_malam_pertama.

Demikianlah lebih kurangnya.

Wa Allah A’lam!

PP. Selaparang, 20 September 2020 M.

*#Sekretaris_PCNW_Kediri

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA