Ada tiga priotiras utama umat Islam dalam membangun izzahnya ke depan. Tiga prioritas yang sangat penting diperhatikan. Tiga hal itu, disampaikan Tuan Guru Bajang dalam safari dakwahnya di Kabupaten Langkat Sumatera Utara 2017 lalu.
Pertama, أولوية الكيف على الكم (memprioritaskan kualitas di atas kuantitas).
Tuan Guru alumnus Al-Azhar Cairo tersebut mengingatkan, jangan pernah lalai dengan jumlah yang banyak. Sebab, apalah arti mayoritas namun rendah kualitas.
TGB bercerita tentang hasil penilaian seratus sekolah swasta skala nasional beberapa saat yang lalu. Namun sayangnya, dari seratus yang dijadikan sampel, sekolah swasta Islam yang masuk kategori hanya ada dua. Selebihnya sekolah swasta milik teman kita yang non muslim.
Sebuah rilis yang menghentakkan. Sebuah kenyataan yang patut menjadi renungan kita bersama. Jangan-jangan selama ini kita salah dalam menentukan prioritas yang utama.
Lantas, “Kalau demikian faktanya, siapa yang salah, atau siapa yang harus disalahkan?. Tanya Tuan Guru Bajang.
Apakah mereka yang salah, karena telah membangun kualitas sekolahnya dengan baik? Ataukah sebaliknya, kita yang tidak semangat meningkatkan kualitas sekolah yang –katanya– banyak ini?
Padahal, –lanjut TGB– kita yang muslim ini seperti yang ada pada filososfi ayat, ليبلوكم أيكم أحسن عملا . Kita dihadirkan di pentas dunia untuk disleksi, siapa di antara kita yang أحسن عملا . Namun, nyatanya kita masih saja tidak bekerja untuk أحسن عملا . Melainkan kita, justru bekerja hanya sekedarnya saja.
Dalam ceramah tersebut, Ulama Ahli Tafsir tersebut bercerita tentang Firaun yang membangga-banggakan jumlahnya yang banyak. Dan pada saat yang sama, dia sangat meremehkan Nabi Musa as. yang jumlahnya sedikit. Sebagai gambaran betapa banyak tidak selalu berarti baik dan pasti menang.
إن هؤلاء لشرذمة قليلون .
“Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang sedikit.” (QS. Asy-Syuara: 54).
Demikian kata Firaun membangkitkan semangat tentara-tentaranya.
Prof. Dr. Quraish Shihab menafsirkannya sebagai berikut, “Jangan khawatir terhadap Musa dan kaumnya yang akan kita kejar itu, sesungguhnya mereka benar-benar hanya sekelompok orang-orang yang hina dan tidak ada artinya buat kita dan jumlah mereka sedikit dibanding dengan jumlah kita.” (Tafsir al-Mishbah: Vol.9, hlm: 234-235).
Hasilnya, kesombangan Fir’aun atas jumlahnya yang banyak, justru menjadikan dia dan pasukannya tumbang hingga ke dasar laut.
“Banyak tidak berkualitas akan hancur oleh yang sedikit, tetapi ada kesungguhan, soliditas dan kekompakan.” Kata TGB menjelaskan pentingnya berkualitas.
Cerita yang sama juga pernah dialami Nabi Muhammad saw. seperti yang direkam al-Qur’an pada surah al-Anfal, ayat 26:
واذكروا إذ أنتم قليل مستضعفون في الأرض تخافون أن يتخطفكم الناس فاوكم وأيدكم بنصره ورزقكم من الطيبات لعلكم تشكرون .
“Dan ingatlah ketika kamu sedikit lagi tertindas di bumi, kamu takut orang-orang menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap dan dijadikan-Nya kamu kuat dengab pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu bersyukur.”
Dengan ayat ini kita diingatkan, agar kita merubah cara berpikir kita. Kita rubah prioritas kuantitatif menjadi prioritas kualitatif. Kualitas harus terus kita tingkatkan. Jangan kita hanya membanggakan banyak dan besarnya kita. Nasihat TGB.
Kedua, أولوية العلم على العمل (memprioritaskan ilmu di atas amal).
Beramal penting. Bahkan sebuah maqal mengatakan, bahwa ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tak berbuah. Tetapi, semangat beramal saja tidak cukup. “Beramal harus berdasarkan kepahaman dan kemengertian.” Tandas TGB.
Karena itu, kita perlu mengaji, perlu belajar, perlu membaca dan perlu muzakarah atau semisalnya. “Jadikan pengajian itu menjadi mukaddimah dari kita beramal. Prioritaskan untuk kita memperbanyak belajar dan kajian-kajian, agar amal-amal kita itu, pondasinya kuat dan kokoh ” Jelas TGB lagi.
Dan ketiga, أولوية الدراية على الرواية .
Untuk yang terakhir ini TGB mengingatkan kepada jamaah, bahwa mengahafal itu perlu, tapi mengerti akan tuntunan agama itu jauh lebih perlu. Untuk itu, anak-anak yang kita dorong tahfidz al-Qur’an itu bagus sekali.
Namun, pada saat yang sama, perlu kita pesankan kepada mereka bahwa, “Menghafal itu penting, tapi itu bukan tujuan. Ia hanya tahap awal untuk mencintai, lebih dekat dan lebih paham isi al-Qur’an.” Demikian kata Tuan Guru Bajang mengingatkan.
Simpulannya menurut TGB, itulah tiga hal penting yang menjadi agenda-agenda kita ke depan. Mari kita tingkatkan pada kualitas kita. Cukup kita bicara banyak dan besar. Mari kita bicara yang baik, paling baik, dan yang terbaik.
Kita juga, mari berhenti dari hanya sekedar bagaimana kita bisa bekerja sebanyak-banyaknya hari ini. Tapi, mari kita memulai kajian-kajian. Mari kita memperluas kapastitas keilmuan kita. Kita perbanyak membaca dan hadir di majlis-majlis taklim.
Dan terakhir, memahami dan mendalami makna semua tuntunan agama harus menjadi prioritas kita. Tidak hanya sekedar menghapal rukun shalat dari nomor satu sampai tiga belas, tapi berusahalah دراية
“Kalau kita renungkan itu, cukuplah kewajiban agama ini menjadikan kita orang yang baik. Kalau kita memahami makna-maknanya.” Tutup TGB.
Wa Allah A’lam!
Bilekere, 27 Agustus 2020 M.
*#Sekretaris_PCNW_Kediri
#Dakwah_Nusantara_TGB




