SHALAT JUMAT PERDANA DI MASJID HAMZANWADI PONPES NW JAKARTA DIHADIRI WALI KOTA JAKARTA TIMUR

SHALAT JUMAT PERDANA DI MASJID HAMZANWADI PONPES NW JAKARTA DIHADIRI WALI KOTA JAKARTA TIMUR

Hari Jumat, 24 Juli 2020 adalah merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Yayasan Mi’rajus Shibyan dan Ponpes NW Jakarta. Dikatakan sangat bersejarah karena ada dua acara yang sangat penting dilaksanakan sekaligus yaitu menerima kunjungan kerja Bapak Wali Kota Administrasi Jakarta Timur H. Muhammad Anwar, S.Si, M.Ap dan melaksanakan shalat Jumat edisi perdana di masjid Hamzanwadi.

Dalam kunjungan kerja Bapak Wali Kota Jakarta Timur kali ini beserta rombongan yang tediri dari Asisten Kesra, Asisten Pembangunan, Camat Cakung, Lurah Penggilingan dan RW 03 menunjukkan betapa pedulinya beliau terhadap keberadaan Pondok Pesantren yang ada di wilayah Jakarta Timur.

Diantara point penting yang disampaikan adalah mendengarkan keluh kesah dari para pengurus dan akan membantu meringankan beban-beban yang dialamai selama ini, karena bagaimanapun keberadaan Pondok Pesantren mengambil peran yang sangat efektif untuk mendidik generasi anak bangsa yang tidak hanya cerdas secra intlektual, tapi juga berakhlakul karimah kepada sesama. Lebih lanjut Bapak Wali Kota berjanji akan memberikan berbagai bantuan setiap tahun diantaranya berupa beasiswa kepada santri yang tidak mampu, apalagi siswa/santri yang sekolah di Ponpes NW Jakarta kebanyakan orang-orang yang tidak mampu berkisar 50%.

Sebenarnya pihak Pondok Pesantren sudah mempersilahkan Bapak Wali Kota untuk mencicipi makanan lezat ala Lombok yaitu Pelecing Kangkung. Setelah itu diharapkan dapat mengikuti kegiatan shalat Jumat perdana di Masjid Hamzanwadi, tapi beliau rupa-rupanya jadwalnya yang sangat padat, akhirnya dengan segera meninggalkan lokasi acara. Kita doakan semoga Bapak Wali Kota beserta seluruh staffnya selalu mendapat kemudahan dan pertolongan dari Allah dalam menjalankan tugas Negara. Aamiin.

Dalam shalat Jumat perdana di masjid Hamzanwadi ini yang bertugas sebagai muadzdzin adalah Ust. Zul Makky, S.Pd, Khatib TGH. Miftahuddin, Lc, M.Ag dan Imam Drs. KH. Muhammad Suhadi, SQ.

Dalam khutbahnya TGH. Miftahuddin, Lc, M.Ag menyampaikan bahwa kunci kesuksesan berjalannya kehidupan adalah adanya kepemimpinan dan kepemimpinan haruslah menggambarkan sinergisitas antara ulama dan umara. Imam Al Mawardi dalam kitabnya “Al Ahkam As Sulthaniyah” mendifinisakan kepemimpinan itu adalah pelanjut tugas kenabian dalam segi menegakkan ajaran agama dan mensiasati kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu penting sekali sinergisitas antara ulama dengan umara. Ulama tanpa umara akan sulit mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan, demikian juga umara tanpa ulama juga akan sulit mengatur dan menuntun strategi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ulama sebagai pewaris para Nabi adalah mereka yang mengerti tentang hakekat kehidupan ini sampai sedalam-dalamnya berdasarkan nilai Al Quran dan Hadis. Itulah kemudian tipikal ulama yang sesungguhnya ketika muncul rasa takut kepada Allah SWT, sebagai ekspresi dan wujud dari pemahamannya tentang hakekat kehidupan ini. Allah SWT berfirman surat Fathir ayat 28 :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَابِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰؤُاۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya : “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Sementara umara diberikan amanah untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka dengan tuntunan para ulama, in sya Allah aktifitas kepemimpinan itu merupakan ibadah, bahkan Rasululullah menjanjikan pemimpin yang adil adalah satu diantara tujuh golongan yang akan mendapatkan nauangan pada hari akhirat, tidak ada nauangan selain naungan dari Allah SWT.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:yaitu imam/pemimpin yang adil. (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Maka jika menginginkan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegera yang betul-betul tercipta keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan yang dalam istialah populernya “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo“, maka sinergitas antara ulama dan umara adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Dalam sejarah memang pada banyak kasus sering terjadi “gap” antara ulama dan umara, karena adanya perbedaan pandangan dan kepentingan antara kedua belah pihak. Maka apa yang kita saksikan hari ini kedatangan umara di lingkungan ulama mudah-mudahan dapat menipiskan jarak antara ulama dan umara dalam hal menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan juga mudah-mudahan pertemuan antara ulama dan uamara ini adalah awal terwujudnya semboyan Jakarta, “Maju kotanya, bahagia warganya”. Aamiin (Amr/S5N)

Bekasi, 4 Dzulhijjah 1441 H/25 Juli 2020 M

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA