Prof Agustitin: Puasa Dan Tahannuts

Prof Agustitin: Puasa Dan Tahannuts

 

Gua Hira
Tahannuts (bahasa Arab: التَحَنُّث) adalah tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Hijaz sebelum datangnya Islam di mana mereka selama berhari-hari dalam setiap tahunnya mengasingkan diri dari keramaian masyarakat untuk menempa dan mengisi jiwa .
Orang-orang yang melakukan tahannuts adalah Abdul Muththalib dan Nabi Muhammad saw. Tahannuts dikerjakan pada masa sebelum Bi’tsah dilakukan setiap tahun selama satu bulan di gua Hira untuk berkhalwat dan beribadah di era Rasulullah di kembangkan menjadi puasa atas dasar FIRMAN Allah dalam QS 2 ayat 183.

Tahannuts tafa’ul bermakna menjauhkan dosa dan pada akhirnya tahannuts bermakna menjauhkan diri dari dosa. Oleh sebab itu sebagian ahli bahasa memaknai tahannuts sebagai penghambaan atau kadang-kadang kata-kata ta’abbud dan nusk digunakan untuk mengganti makna tahannuts,mengabdi kepada tuhan melalui kerja keras,cerdas,dan waras semata mata memenuhi perintah Allah.

Makna Tahannuts menurut Istilah sebgai.sebuah keadaan ruhani seperti iktikaf ( berdiam diri untuk melakukan kontempelasi).yang selama waktu tertentu, seseorang berkhalwat dan mengasingkan diri dari masyarakat untuk beribadah, muraqabah nafs dan berbuat baik sehingga diharapkan dari khalwat yang ia lakukan ia akan terhindar dari dosa dan juga dari keadaan itu, akan tercapai sebuah keadaan jiwa seseorang yang murn (Puasa batiniah).

Tahannuts Nabi Muhammad saw Menurut sebuah hadis dari Imam Ali as, Nabi Muhammad saw memiliki kebiasaan untuk pergi ke gua Hira dan tinggal di sana untuk sementara waktu setiap tahun sebelum Bi’tsah.

Sesuai dengan tradisi orang Quraisy, beliau tinggal di gua Hira selama satu bulan dalam setahun. Ketika berada di sana, Nabi memberi makanan kepada orang-orang miskin yang mengunjunginya. Kemudian ia pergi ke Kakbah dan melakukan thawaf sebanyak tujuh putaran atau lebih. Kemudian ia pulang ke rumah. Ia melakukan kebiasaan olah rasa/ olah jiwa

Menurut sebuah hadits dari Aisyah, Nabi Muhammad saw lebih mencintai untuk melakukan khalwat dari pada aktivitas-aktivitas lainnya. Ia pergi ke gua Hira selama beberapa hari. Kemudian pergi ke rumah Khadijah sa untuk mengambil makanan dan bekal dan kembali lagi ke gua Hira dan memperlama khalwatnya. Nabi Muhammad saw melakukan Tahannuts

Pada akhirnya Beberapa orang telah menyatukan kedua hadis dengan berkata bahwa Nabi Muhammad saw kembali ke rumah setelah beberapa malam dari Tahannuts untuk mengambil bekal dan kemudian kembali ke gua. Ia datang dan pergi (bolak-balik) antara rumah dan gua selama satu bulan. Riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa Nabi Muhamad saw pergi ke gua Hira sendirian, tanpa disertai orang lain dengan keyakinan bersama Allah. .

Namun beberapa hadis menunjukkan bahwa Sayidah Khadijah sa juga menemani Nabi ke gua Hira untuk membawakan air dan bekal . Dari perkataan Imam Ali as menunjukkan bahwa Imam Ali as tidak melihat orang lain selain Nabi yang melakukan tahannuts dan di sana wahyu turun.

Nabi Muhammad saw pada masa bi’tsah tidak lagi melakukan tahannuts yang menurut beberapa orang bertujuan untuk menjauhkan diri dari masyarakat jahiliyyah.

Setelah hijrah pada setiap tahun selama puluhan tahun, Nabi Muhammad saw pada bulan Ramadhan melakukan iktikaf di masjid Nabawi.

Latar Belakang Tahannuts
Beberapa hadits menjelaskan bahwa sebelum kedatangan Islam, Tahannuts dikenal di antara orang-orang Quraisy. Menurut beberapa catatan sejarah, beberapa orang Quraisy telah melakukan Tahannuts di gua Hira selama “Bulan Suci Ramadhan.” Mereka pergi ke gua Hira pada bulan Ramadhan dan tinggal di sana selama sebulan melakukan shaum dan memberi makanan orang miskin yang pergi ke sana. Pada akhir bulan, mereka pergi ke Masjid al-Haram, dan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran kemudian kembali ke rumah.

Mengingat bahwa gua Hira berukuran kecil, maka hanya sedikit orang Quraisy yang melakukan Tahnannuts di sana. Kemungkinan besar, yang melakukan tahannuts adalah hunafa (penganut agama yang hanif)

Sejatinya, puasa bagi kaum sufi.adalah Tahannya untuk menguatkan dan mengolah jiwa,( puasa BATINIAH menuju Illahiah) telah menjadi salah satu aktivitas ruhani untuk menghidupkan hati dan membuka tabir-tabir makrifat. Mereka terbiasa dengan lelaku (tirakat) di luar kebiasaan manusia kebanyakan. Semakin dalam pemaknaan suatu perintah atau anjuran, maka kesungguhan dalam menjalankannya pun akan meningkat.

Walhasil, nilai yang dihasilkannya akan lebih mendalam dan mengakar karena puncak tujuan mereka tidak lain adalah al-Haqq, Allah SWT.

Mirip dengan Puasa berarti menahan lapar,nafsu amarah dll. Terma lapar atau al-Ju dalam konstelasi ruhani kaum sufi menjadi satu tahapan olah batin yang sangat penting. Kelaparan yang mereka jalani tidak lantas menentang sunnatullah, tetapi menyedikitkan makan sekadar sebagai bekal untuk kekuatan ibadah.

Isyarat hadits di atas tidak menganjurkan kita untuk meninggalkan makanan secara ekstrim, tetapi mengkonsumsi makanan sekadar memberikan kekuatan dalam menegakkan ibadah kepada Allah SWT. Dan lapar dalam puasa, berarti ada masa di mana kita menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan berdasarkan ketentuan fikih setelah fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari yang ditandai dengan adzan magrib.

Dengan lapar ini para sufi mencoba berdamai dengan tubuh. Kesadaran bahwa makanan bukanlah satu-satunya hal yang membuat mereka hidup telah tertanam dalam batinnya. Mereka benar-benar menginsafi lapar baik melalui menyedikitkan makanan, maupun saat puasa ini akan menekan syahwat kebinatangan mereka, sekaligus mempersempit jalan setan dalam darah manusia. Seperti ungkapan hadis Nabi SAW, “Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa).”

Puasa Ramadhan melatih hampir semua umat Muhammad dalam berbagai tingkatan kesalehan untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya itu, puasa Ramadhan juga menjadi pelindung dari setan. (Baca Juga: Di Bulan Ramadhan: Allah pun Berkirim Salam kepada Sayyidah Khadijah)

Seperti ungkapan Imam al-Bujairami yang mengutip pendapat Imam Asy-Syarani: “Barangsiapa sempurna laparnya pada bulan Ramadhan, dia akan terlindungi dari setan yang terkutuk hingga Ramadhan berikutnya. Karena puasa adalah perisai yang melindungi tubuh seseorang yang berpuasa selama tidak dirusak oleh sesuatu pun. Apabila ia rusak maka setan pun masuk melalui tempat yang rusak itu.”

Maka dari itu, untuk memberikan kualitas terbaik dalam lapar-puasa Ramadhan, kita pun perlu mengenali beragam perilaku yang merusak puasa. Puasa dan laparnya melampaui aspek lahiriahnya. Puasanya mengekang gerak tubuh dari perbuatan tercela dan dosa.

Di antara hal-hal yang merusak puasa seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW yang bersumber dari Jabir dari Anas ra. “Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berkata dusta, menggunjing orang lain, mengadu domba, sumpah palsu, dan pandangan dengan syahwat”.

Makna puasa bagi umat muslim bukan sekedar menahan dahaga dan lapar di siang hari, namun hakikat puasa bagi mereka menahan gerak anggota tubuh dari apa yang diharamkan, bahkan mereka menjaga khatar gerak hati mereka dari lalai mengingat Allah .

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dalam segala hal. Berkat kenabiannya, beliau telah memberi banyak petunjuk dan bimbingan dalam melaksanakan syariat.. Amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika diangkat menjadi Rasul tentu patut dijalankan oleh setiap muslim. Bagaimana cara hidupnya, ibadahnya maupun kehidupan sosialnya.l.

Saat ini umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Tentu semuanya berharap bisa menjalankan ibadah tersebut dengan baik dan mendapat ridha Allah SWT. Lalu, bagaimanakah cara Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW berpuasa sambil melakukan aktivitas yang bermanfaat. Bahkan karya-karya terbesar beliau dicapai di bulan Ramadhan seperti kemenangan dalam perang Badar dan keberhasilan menguasai Kota Makkah.

Secara rutin Rosulullah bertadarus (membaca Alqur’an). Beliau bangun untuk sahur menjelang fajar dan menjelang berbuka hingga azan beliau berzikir. Isinya mengesakan Allah dan beristighfar sambil memohon surge dan ridha-Nya,.

“Rosulullah berbuka dengan tiga biji kurma kemudian salat Maghrib. Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau tinggal di masjid untuk ber’tukar,”.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA