Pujian adalah sesuatu yang secara alami disukai oleh manusia. Ia sering kali menjadi tanda penghargaan atas kebaikan yang muncul dari seseorang, baik dari segi ilmu, akhlak, fisik, maupun amalan ibadahnya.
Pujian dapat menjadi motivasi untuk terus berbuat baik, tetapi di baliknya tersimpan ujian yang tidak boleh diabaikan. Jika tidak disikapi dengan bijak, pujian dapat menumbuhkan perasaan ujub—yaitu rasa bangga yang berlebihan atas kelebihan yang dimiliki—yang pada akhirnya dapat menghapus pahala amal kebaikan.
Di bulan Ramadan, ketika umat Islam berusaha membersihkan hati dan meningkatkan ibadah, pujian bisa menjadi godaan yang menggerus keikhlasan. Seseorang yang banyak dipuji karena amal ibadahnya, seperti rajin shalat malam, banyak membaca Al-Qur’an, atau gemar bersedekah, harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam perasaan bangga diri.
Ujub adalah penyakit hati yang berbahaya, karena bisa membuat seseorang merasa bahwa amal ibadahnya adalah hasil usahanya semata, tanpa menyadari bahwa semua itu adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an agar manusia tidak merasa diri mereka paling baik atau paling suci:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengajarkan bahwa hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa, sehingga tidak seharusnya seseorang merasa dirinya lebih baik dari orang lain hanya karena banyaknya pujian yang diterima.
Ujub adalah salah satu penyakit hati yang dapat menghancurkan amal seseorang tanpa disadari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri (ujub).” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
Hadis ini menegaskan bahwa ujub adalah salah satu perkara yang dapat membawa kebinasaan. Seseorang yang ujub tidak hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga bisa merusak hubungan dengan sesama. Ketika seseorang mulai merasa lebih baik dari orang lain, ia bisa kehilangan sikap rendah hati, sulit menerima nasihat, dan bahkan meremehkan orang lain.
Lebih buruk lagi, ujub dapat membuat seseorang melupakan bahwa segala kebaikan yang ia miliki sejatinya adalah karunia dari Allah. Jika Allah berkehendak, kebaikan itu bisa diambil kapan saja. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa berikut ketika mendapatkan pujian, agar terhindar dari ujub:
اللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لاَ يَعْلَمُونَ، وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ
“Ya Allah, janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka katakan (pujian mereka), ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui, dan jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 761)
Ketika seseorang mendapat pujian, sikap terbaik yang dianjurkan dalam Islam adalah bersabar dan tetap rendah hati. Sabar dalam konteks ini berarti tidak terbuai oleh pujian dan tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Pujian bisa menjadi anugerah, tetapi juga bisa menjadi ujian yang berbahaya jika tidak disikapi dengan bijak. Dalam kondisi berpuasa, menjaga hati dari ujub adalah hal yang sangat penting agar pahala puasa tetap terjaga.
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHAIDI




