40 Hadits As Shaulatiyah. Hadits Ke Delapan

banner post atas

عن ابي قرصافة رضي الله عنه قال قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَنْ أَحَبَّ قَوْمًا حَشَرَهُ اللَّهُ فِي زُمْرَتِهِمْ » . رواه الطبرني و الضياء المقدسي

Artinya :
Dari Abi Qirashofah r.u. Rasulullah Saw, bersabda : Barangsiapa yang mencintai satu kaum maka Allah akan mengumpulkannya kelak didalam golongan mereka yang dia cintai.
Hr. At Thobrani Dan Dhiya’ AL Maqdisiy.
===============
Penjelasan Hadits
Mencintai seseorang, golongan atau kelompok tertentu dapat dibagi menjadi tiga jenis:
1. Mencintai karena agama
Cinta ideologis dan keyakinan agama. Yakni, mencintai atau menyukai seseorang atau kelompok tertentu karena faktor ideologi dan keyakinan. Misalnya, mencintai ulama karena kesalihan dan ketaatannya pada ajaran agama. Atau, cinta pada Karl Marx karena menyukai ideologi atheis-nya. Maka, cinta seperti ini dapat membawanya berkumpul dengan orang yang dicintainya kelak di akhirat. Yang cinta Rasul dan ulama akan bersama Rasul dan para ulama di surga. Sedang yang cinta Karl Marx akan bersamanya kelak di neraka.
Dalam konteks inilah relevansi penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/555:

قَوْلُهُ : (إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ) أَيْ: مُلْحَقٌ بِهِمْ حَتَّى تَكُونَ مِنْ زُمْرَتِهِمْ ….

Iklan

Artinya: Kalimat “Engkau bersama orang yang kamu cintai” maksudnya dipertemukan dengan mereka sehingga kamu menjadi golongan mereka…
2. Mencintai dan meniru perbuatan yang orang yang cinta.
Yang menyebabkan seseorang meniru dan meneladani perbuatan orang yang dicintainya. Misalnya, orang yang cinta seorang alim atau para ulama dan meneladani perbuatan mereka, maka dia akan masuk surga bersama para ulama. Sedangkan orang yanga cinta orang fasiq atau kafir lalu meniru perbuatan mereka yang maksiat maka dia akan disiksa sebagaimana mereka.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hlm. 2/160, menyatakan:

قال الحسن : يا ابن آدم ! لا يغرنك قول من يقول : ( المرء مع من أحب ) فإنك لن تلحق الأبرار إلا بأعمالهم ، فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم ، “

BACA JUGA  Sesenggak Sasak untuk TGB "Belae Jak Ninikn, Belae Endah Cucunya"

Artinya: Al-Hasan berkata: Wahai manusia, janganlah terpedaya dengan ucapan: “Seseorang bersama orang yang dia cintai” karena engkau tidak akan bertemu dengan orang-orang baik kecuali dengan amal perbuatan. Karena orang Yahudi dan Nasrani mencintai para Nabi mereka tetapi mereka tidak bersama para Nabinya.

3. Mencintai karena faktor duniawi non-agama. Cinta duniawi.
Mencintai sesama manusia karena ada ikatan batin yang bersifat duniawi seperti kekerabatan, keuntungan materi, perkawinan atau sebab-sebab duniawi lainnya. Misalnya anak muslim mencintai ibunya yang kafir. maka itu tidak menjadi sebab mereka akan dikumpulkan di akhirat. Jadi, kecintaan dan kesukaan yang bersifat duniawi dan tidak mempengaruhi orang itu untuk berbuat baik atau buruk maka tidak akan berakibat orang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintai kelak di akhirat. Jadi, cinta jenis ketiga ini tidak masuk dalam makna hadits di atas.

Al-Zarqani dalam Syarah Al-Zarqani ala Al-Mawahib Al-Laduniyah bil Minah Al-Muhammadiyah, hlm. 5/304, menyatakan:

قال الحسن البصري : من أحبَّ قومًا اتبع آثارهم ، واعلم أنك لن تلحق بالأخيار حتى تتبع آثارهم ، فتأخذ بهديهم ، وتقتدي بسنتهم ، وتصبح وتمسي على مناهجهم ، حرصًا أن تكون منهم

Artinya: Al-Hasan Al-Bashri berkata: Barangsiapa yang mencintai suatu kaum maka ia akan mengikuti perilakunya. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak akan dipertemukan dengan orang-orang pilihan kecuali kalau mengikuti perilaku mereka, meneladani perbuatan mereka pagi dan sore karena keinginan untuk menjadi seperti mereka.

Abu Qurashofah :
Ada perbedaan dalam penamaan shohabat Abu Qurashafah dalam syarah hadits Arbain “Falhul mu’in” yang ditulis oleh guru kami As Syekh Sayyid Ayyub Abkar Al Ahdal bahawa yang dimaksud dengan Abu Qurashofah adalah Al Harits bin ‘Auf bin haritsah al muzaniy.
Namaun dalam riwayat lain yang dimaksud dengan Abu Qurashofah disini adalah Jundurah bin khaisyanah bin nuqair al kinaniy, bilau adalah salahsatu shohabat nabi yang tinggal di palestin dan ada yang mengtakan tinggal di tihamah.
Allahu’ alam.

BACA JUGA  KH Jamaluddin F Hasyim (Ketua KODI DKI Jakarta) : Marhaban yaa Ramadhan

At Thobrani :
Abul-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Lakhmiy at-Thabrani, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam at-Thabrani (seringkali juga disebut Imam At-Thabarani) adalah seorang imam dan sangat alim dan tercata sebagai pemuka ahli hadits.
Dia bernama lengkap:
Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Asy-Syami Ath-Thabrani, dan dikenal sebagai sosok yang produktif, di antara karyanya yang terkenal dan mendapat apresiasi juga banyak dijadikan rujukan oleh para ulama adalah Mu’jamul Kabir, Mu’jamul Ausath, dan Mu’jamush Shaghir.
Ath-Thabrani lahir di kota Akka pada bulan Safar tahun 260 H. di tengah keluarga yang terhormat dari kabilah Lukham suku Yaman dan kemudian berimegrasi ke Quds, Palestina dan menetap di sana.

Ath-Thabrani pada tahun 273 H. mulai belajar hadits, atau pada usianya yang ke-13 tahun, dan pada tahun 274 H. dia berkelana ke Quds Palestina, juga ke Syiria dan Qaisariyah untuk menghafal Al-Qur’an dan memperdalam ilmu agama, dilanjutkan kemudian dengan mengunjungi Hijaz, Yaman, Mesir, Irak, Iran, Semenanjung Saudi Arabia, Afganistan, dan lain-lain dalam rangka mempelajari hadits Nabi, selama kurun kurang lebih 30 tahun. Selain itu, pada tahun 290 H. ia mengunjungi Isfahan dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Dia meninggal di Isfahan pada tanggal 28 Dzul Qa’dah tahun 360 H. pada usia seratus tahun sepuluh bulan; dikebumikan di samping kubur Hamamah Ad-Dausi, salah seorang sahabat Nabi.
Perhjalanan Intelektual

Dhiya’uddin Al Maqdisiy
Nama : Abdul Gani bin Abdul Wahid Al hanbaliy
Lahir : Th. 541 H
Wafat : Hari senin 22 bulan rabiul awal Th.600 H.

Allahu’alam Bis Showab.