Dakwah TGB (45) PESAN DAMAI DI TENGAH PANDEMI COVID-19

banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

Pada acara Kabar Petang di Kompas TV, al-Mukarram Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA diwawancarai dan diminta tanggapannya terkait meningkatnya pasien positif Corona akibat ada sebagian orang yang masih abai dengan kondisi pandemi.

Dalam tanggapannya, ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar tersebut mengatakan, bahwa tentu sebagai sesama anak bangsa, sikap abai, meremehkan protokol kesehatan Covid-19 adalah bagian dari sikap tidak bertanggung jawab.

Iklan

Hal itu dikatakan TGB, dengan alasan rekapri sembuhnya dan keterbebasan kita secara kolektif akan menjadi semakin lama dan makin lambat.

Selain itu, secara agama, sikap meremehkan dan pengabaian itu bagian dari satu sifat zalim. Berbuat zalim kepada orang lain itu adalah dengan menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dengan sikap abainya, orang lain memperoleh kemudaratan.

Sebenarnya –menurut TGB– tak ada alasan untuk tidak mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Sebab protokol tersebut sangat mudah dijalankan. Kita hanya disuruh menghindari kerumunan, memakai masker, sesering mungkin mencuci tangan.

Asalkan, “Dengan kerendahan hati dan menghilangkan keegoismean kita, maka kita dapat melaksanakannya dengan mudah.” Kata TGB.

Bahkan –tegas TGB– dari tinjauan manapun, bahwa sikap tidak konsisten dan tidak mematuhi protokol kesehatan Covid-19, itu semua bertentangan dengan nilai-nilai kita sebagai suatu bangsa dan demikian pun bertentangan juga dengan nilai-nilai agama yang kita anut.

“Kita ini adalah anak bangsa yang beragama.” Katanya mengingatkan.

Demi mempermudah memperlancar penanganan dan pengentasan Pandemi ini, TGB ditanya bagaimana pandangannya dengan ikut melibatkan peran ulama?

Ulama yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB dua priode (2008-2018) ini mengatakan, sungguh penting bagi kita menggunakan seluruh instrumen sosial keagamaan. Maksud beliau, mari kita bahasakan masalah Covid ini sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini.

BACA JUGA  KHUTBAH JUMAT EDISI, 27 DESEMBER 2019 : MENGKAJI DIRI TAHUN 2019 MENUJU 2020

Ulama tafsir tersebut mencontohkan dengan caranya sendiri yang sering dalam pengajian-pengajian dan juga saat khutbah, untuk menyampaikannya dalam sudut pandang agama. Bahwa masalah Pandemi harus kita hadapi bersama dengan penuh tanggung jawab.

Nah, hal yang sama sebenarnya juga bisa dilakukan oleh semua Kepala-kepala Daerah, Tokoh Agama dan Tokoh Adat dengan substansi yang sama, yaitu menyampaikan bahwa,

“Menghadapi pandemi ini adalah tugas kolektif dan tanggungjawab bersama. Sikap pengabaian itu hanya membuat kita berlama-lama dalam kubangan Pandemi.” Demikian katanya menyerukan.

Mengentaskan Pandemi Covid-19 ini memang tidak mudah, sebab sikap beda pendapat dalam memandang Pandemi ini juga menjadi kendala tersendiri.

“Bagaiamana tanggapan Bapak TGB terkait hal itu?”. Tanya reporter.

Ternyata TGB pun tak menapikan hal tersebut. “Ya, kontroversi dan perdebatan atau cara pandang yang berbeda terkait Pandemi ini tidak hanya di Indonesia, tapi ada juga di seluruh belahan bumi lainnya.” Katanya.

Oleh sebab itu, menurut hemat TGB, hal tersebut menjadi tugas kita bersama untuk terus bahu-membahu menerangkannya kepada masyarakat.

Mari –ajak TGB–, menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang bisa dipahami, menghadirkan statistik yang riil, bahwa Pandemi tidak hanya menghilangkan nyawa, tapi berdampak kepada kerugian kolektif sebagai suatu bangsa.

Intinya –kata TGB– adalah kita harus terus menggunakan seluruh instrumen yang ada. Termasuk rumah-rumah ibadah dan segenap infarstruktur-infrastruktur sosial yang lain.

“Saya yakin kalau kita terus menyuarakan ini, insya Allah kesadaran itu akan semakin kuat dan nyata di tengah masyarakat.” Kata TGB penuh optimisme.

Pertanyaan terakhir, si reporter juga melontarkan pertanyaan terkait bagaimana penilaian dan pandangan pribadi Tuan Guru Bajang terhadap respon Pemerintah selama ini. “Apakah sudah berada di jalur yang benar menurut TGB?”

BACA JUGA  Menyikapi Korona Dengan Pancasila, Sila Pertama

Saya –jawab Ketua OIAA tersebut– melihat selama ini telah ada kesungguhan dari Pemerintah dalam menangani pandemi ini. Hanya saja Indonesia terlalu luas dan sangat beragama pandangan-pandangan penduduknya, maka “Sangat dibutuhkan kesabaran, ketekunan dan konsistensi.” Harapnya.

Karena itu, –lanjut TGB–, bagaiamama pun patronasi kita sangat kuat dalam melihat pemimpin. Baik kepemimpinan dalam bidang keagamaan atau sebagai suatu bangsa. Maka, “Penting bagi para pemimpin dalam semua jenjang dan linatasan, untuk memberikan keteladanan dalam menerapkan dan menggunakan protokol kesehatan Covid-19.” Tutupnya.

Wa Allah A’lam, 17 Nopember 2020 M.