Tauhid; The New Normal Oleh : Zulkarnaen

Tauhid; The New Normal Oleh : Zulkarnaen

Kondisi hari ini merupakan settingan Allah SWT. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menawarkan sebuah pandangan kepada anda untuk menjadi seorang fatalis terhadap kondisi yang kita hadapi saat ini. Hanya mengajak untuk membongkar kembali tauhid kita, mungkin hanya perlu di rapikan. Kondisi ini adalah satu dari kesekian dalam sejarah ummat manusia yang memaksa manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan. Manusia sebenarnya sudah terbiasa dengan perubahan, bahkan pada dasarnya ia adalah mahluk yang memiliki adaptabilitas dengan segala potensinya. Hidup normal hanyalah hidup yang sudah menjadi kebiasaan. Hanya menunggu waktu, kemudian kita akan biasa dan kita akan menyebut hidup normal.

Sedari dulu kita tahu bahwa segala sesuatu di atur oleh Allah SWT. Irodah Allah atas segalanya adalah bermotif cinta, tuhan tidak menciptakan manusia untuk di siksa dalam kehidupannya. Logikanya kemudian, kondisi hari ini adalah sebuah kebaikan karna berasal dari sifat cinta-Nya. Meskipun secara zohir adalah sesuatu yang sangat mengganggu kita semua.

Betapa musibah mati menjadi sesuatu yang menyakitkan rasa, tidak rela akan sesuatu yang kita cintai menghilang. Banyak masalah yang kita hadapi tidak sesuai dengan harapan. Kesemuanya menyesakkan rasa.
Ada hidup setelah kehidupan ini. Ada sebuah tempat di sana, tempat merasa bahagia, senang, gembira karna bertemu Allah SWT. Tidak ridho dengan ketentuan-Nya hari ini dapat menghalangi tejadinya pertemuan tersebut. Kita hanya punya opsi melihat kondisi yang kita hadapi saat ini lurus ke depan, menembus tempat itu.

Kita kembalikan segala yang tidak berada dalam kemampuan kita kepada Allah SWT.
Alur hidup ini hanya tiga. Dari Allah, untuk Allah, kembali kepada Allah. Kita sedang berada dalam fase kedua. Idealnya kemudian segala yang kita lakukan di peruntukkan untuk Allah. Penting kita bertanya kemudian kepada diri sendiri bagaimana memperuntukkan kondisi ini kepada-Nya. Hidup ini kemudian adalah soal sikap kita terhadap kondisi yang kita jalani. Sikap ridho adalah caranya.

BACA JUGA  Bulan Sya'ban adalah Bulannya Nabi Kita Oleh : Al Faqir Bagus Yudha Pratama

Merasa terganggu dengan suatu kondisi adalah manusiawi. Merasa kecewa, sedih, sakit adalah kealamian. Menjadi tidak ridho adalah sebuah pilihan selaku makhluk merdeka. Namun ia bertentangan dengan tauhid kita sendiri soal keyakinan akan motif cinta kepada manusi. Bahkan dalam keterangan Islam, kasih sayang tuhan melebihi ibu yang baru melahirkan anaknya.

BACA JUGA  Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan Oleh: Dr. Adian Husaini

Dalam konteks ini kemudian penting kita cek kembali ketauhidan kita semua. Mungkin kita alpa bahwa manusia ternyata tidak sendiri. Ada tuhan yang sangat dekat melebihi urat nadi. Jika mereka bertanya tuhan dimana, katakan aku dekat. Demikian keterangan dalam sumber primer ummat Islam soal bagaimana seorang muslim hidup.

Sehingga mengingat Allah dalam konteks ini adalah mengingat motif-Nya atas segala ketentuan-Nya, mengingat akan tetap ada-Nya sepanjang waktu bersama manusia. Ridho kemudian adalah praksis dari refleksi dari ketauhidan diri. Hal ini yang akan membuat kita tenang sebagaimana keterangan Qur’an soal ketenangan dengan mengingat Allah.
Mungkin masalah kita hanya soal lupa kepada Allah serta tauhid kita kepada-Nya. Kemudian kondisi hari ini menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan seakan penutup kebahagiaan kita. Mengingat Allah bermakna mengingat visi hidup setelah mati. Di sinilah pentingnya kita mengenal tuhan kita sendiri untuk memastikan tuhan tidak hanya lafaz yang yang kita ucapkan. Namun Ia adalah sang maha cinta kepada hambaNya. Kita bisa melakukan banyak hal saat ini untuk bisa bertemu dengan Allah nanti.

Dengan tauhid yang benar, kita tetap bisa menilai perubahan kondisi dengan lebih baik dan lebih menenangkan. Dengan tauhid, kita akan menilai sama setiap perubahan kondisi itu. Kondisi yang kita hadapi hari ini adalah sebuah kebaikan dari Allah. Manusia di larang putus asa dengan kondisi yang ada. Putus asa hanya berarti kita menghilangkan harapan kita kepada Allah yang kemudian bertentangan dengan tauhid kita sendiri, yaitu Allah tempat berharap. Penting melihat suatu keadaan dengan perspektif tauhid kita sendiri dan hanya soal waktu kemudian untuk menikmati perubahan ini.

BACA JUGA  LAZIS Melontar Gandeng Kampung Dongeng Berkisah Keteladanan Sang Guru

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA