Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 4

banner post atas

Soal : Manakah hal – hal yang disunnahkan dalam berpuasa.
Jawab : Adapun beberapa kesunnahan dalam puasa adalah :
1. Menyegerakan berbuka puasa jika telah yakin terbenamnya matahari. Kalau ragu terhadap hal itu, maka tidak disunnahkan bersegera berbuka puasa.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ ح قَالَ و أَخْبَرَنَا أَبُو مُصْعَبٍ قِرَاءَةً عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi memberitahukan kepada kami dari Abu Hazim, Abu Mush’ab memberitahukan kepada kami -dengan bacaan- dari Malik bin Anas, dari Abu Hazim, dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Manusia selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa’.” Shahih: Irwa Al Ghalil (917)

Iklan

Kurma adalah makanan yang paling baik untuk berbuka. Jika tidak ada kurma, maka air putih lebih utama.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Muhammad bin Rafi menceritakan kepada kami, Abdurrazaq memberitahukan kepada kami, Abdurrazak 7menceritakan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman memberitahukan kepada kami dari Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa buah kurma basah. Apabila tidak ada kurma basah, maka dengan kurma kering. Apabila tidak ada kurma kering, maka beliau meminum air beberapa teguk ” Shahih: Irwa Al Ghalil (922) dan Shahih Abu Daud (2040)

2. Mengakhirkan sahur walaupun sedikit.

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا مُلَازِمُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ النُّعْمَانِ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ حَدَّثَنِي أَبِي طَلْقُ بْنُ عَلِيٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا يَهِيدَنَّكُمْ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمْ الْأَحْمَرُ

Hannad menceritakan kepada kami, Mulazim bin Amr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nu’man menceritakan kepadaku dari Qais bin Thalq, Abu Thalq bin Ali menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makan dan minumlah hingga kalian dikagetkan dengan (melihat) cahaya yang menyemburat ke langit, dan makan minumlah kalian hingga tampak oleh kalian awan yang merah.” Hasan Shahih: Shahih Abu Daud (2033)

BACA JUGA  Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 15

3. Memelihara diri dari sifat-sifat tercela, sebagaimana disebutkan dalam bab puasa, kitab Fathul Qorib sebagai berikut :

 فَيَصُوْنُ اَلصَّائِمُ لِسَانُهُ عَنِ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَنَحْوِ ذَالِكَ كَالشَّتْمِ وَإِنْ شَتَمَهُ اَحَدٌ فَلْيَقُلْ مَرَّتَيْنِ اَوْ ثَلَاثًا إِنِّىْ صَائِمٌ إِمَّا بِلِسَانِهِ كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ فِيْ الْاَذْكَارِ اَوْ بِقَلْبِهِ كَمَا نَقَلَهُ اَلرَّفِعِيُّ عَنِ الْأَئِمَّةِ…

…Maka hendaklah memelihara orang yang berpuasa lisannya dari perkataan bohong, ghibah (gosip) dan sejenis lainnya dari ghibah seperti marah. Dan seandainya ada seseorang yang memarahi orang yang sedang berpuasa maka hendaklah berkata orang yang berpuasa tersebut 2 kali atau 3 kali dengan ucapan “ innii shoo`imun” (sesungguhnya saya sedang berpuasa), bisa dengan menggunakan lisannya, seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah pada kitab Al Adzkar atau dengan hatinya, seperti yang telah dinukil oleh Al Imam Rofi’i dari para Imam…

Dalam sebuah hadits disebutkan juga tentang larangan melakukan atau mengatakan sesuatu yang tercela.

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ وَأَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Abu Musa Muhammad Al Mutsana menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar memberitahukan kepada kami, ia berkata, “Ibnu Abu Dzi’b juga menceritakan kepada kami dari Sa’id Al Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allah tidak butuh kepada makan dan minum yang tinggalkannya’.” Shahih: Ibnu Majah (1689) dan Shahih Bukhari

Soal : Berapakah batasan antara waktu sahur dengan waktu subuh ?
Jawab : Kalau dihitung dengan ukuran membaca Al-Qur’an sekitar membaca 50 ayat baru datang waktu subuh. Kalau dihitung dengan hitungan menit, itu bergantung kepada kadar kecepatan membaca Al-Qur’an. Maka dalam hal ini durasinya akan berbeda-beda sesuai kecepatan membaca 50 ayat Al-Qur’an.

BACA JUGA  Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 20

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ ذَلِكَ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Yahya bin Musa Abu Daud Ath-Thayalisi menceritakan kepada kami, Hisyam Ad-Dastawa’i memberitahukan kepada kami dari Qatadah, dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami mendirikan shalat.” Ia berkata, “Aku bertanya, ‘Berapa lama kira-kira?’ Ia menjawab, ‘Kira-kira 50 ayat’.” Shahih: Muttafaq ‘alaih.

Soal : Bolehkah orang yang batal puasa untuk makan ?
Jawab : orang yang batal puasanya wajib menahan diri seperti orang yang berpuasa, dan puasanya wajib diqadha’. Oleh karena itu membatalkan puasa secara sengaja adalah salah satu perbuatan sia-sia dan menyiksa diri, karena harus menahan diri seperti halnya orang yang berpuasa.

Soal : Bagaimana hukum puasa orang yang tidak memasang niat puasa, akan tetapi pada malamnya dia makan sahur, dan dalam makan sahurnya dia bermaksud biar kuat berpuasa.
Jawab : Makan sahur adalah hal Sunnah dalam berpuasa, bukan syarat sah puasa. Dan sekalipun dia bermaksud dalam sahurnya supaya kuat puasa, yang demikian itu tidak mencukupi sahnya puasa. Selama tidak tergores niat untuk melakukan puasa Ramadhan, maka puasanya tidak dianggap sah. Demikianlah penjelasan dalam kitab Fathul Mu’in dalam bab puasa, dipembahasan masalah niat.

Soal : Si Fulan berbuka puasa karena menyangka Maghrib telah tiba, tahunya belum. Bagaimanakah hukum puasanya ?
Jawab : Puasanya batal, dan wajib baginya mengqadha’ puasa.

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ أَفْطَرْنَا يَوْمًا فِي رَمَضَانَ فِي غَيْمٍ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ طَلَعَتْ الشَّمْسُ قَالَ أَبُو أُسَامَةَ قُلْتُ لِهِشَامٍ أُمِرُوا بِالْقَضَاءِ قَالَ وَبُدٌّ مِنْ ذَلِكَ

Dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata, “Pada masa Rasulullah SAW, kami pernah berbuka puasa Ramadhan pada saat hari sedang mendung. Namun tiba-tiba matahari muncul.”

Abu Usamah (perawinya) berkata, “Aku bertanya kepada Hisyam, ‘Apakah mereka disuruh menqadha?’ Hisyam berkata, ‘Ya, harus diqadha!’.” (Shahih: Bukhari)

Fath