Tafsir Pendekatan Syair Al-Baqarah 243 “Kaum Yang Lari Karena Gelisah”
Karya : Abu Akrom
Prolog – Sebab Turunnya Ayat
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menceritakan tentang sekelompok kaum dari Bani Israil yang keluar dari kampung halaman mereka karena takut mati. Sebagian riwayat menyebutkan mereka lari karena wabah tha’un (penyakit menular), sebagian lagi menyebutkan karena takut menghadapi peperangan. Jumlah mereka ribuan. Mereka mengira dengan melarikan diri, mereka bisa menyelamatkan diri dari takdir Allah. Maka Allah mematikan mereka sekaligus, kemudian menghidupkan mereka kembali sebagai pelajaran besar tentang kekuasaan-Nya dan tentang hakikat hidup serta mati. Ayat ini turun sebagai ibrah (pelajaran) agar manusia tidak lari dari ketentuan Allah dan agar kaum mukminin berani berjihad serta bertawakal.
(Irama Sholawat Badar)
Tidakkah engkau perhatikan kisah,
Kaum yang lari karena gelisah,
Takut mati tinggalkan rumah,
Padahal jumlah mereka melimpah.
Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan yang menggugah kesadaran. Seakan Allah mengajak kita berpikir dan merenung. Mereka adalah kaum yang jumlahnya besar, memiliki kekuatan dan kebersamaan. Namun ketika rasa takut menguasai hati, semua kekuatan itu runtuh. Ini pelajaran bahwa keberanian sejati bukan karena banyaknya jumlah, tetapi karena kokohnya iman di dalam dada.
Ribuan banyaknya mereka pergi,
Meninggalkan kampung dan negeri,
Takut ajal datang menghampiri,
Lari menjauh tak ingin mati.
Ketakutan membuat mereka meninggalkan tanah kelahiran. Mereka menyangka bahwa dengan berpindah tempat, mereka dapat menghindari kematian. Padahal ajal tidak terikat ruang dan waktu. Di mana pun manusia berada, jika waktunya tiba, ia tak akan bisa menunda. Ayat ini mengingatkan bahwa yang perlu dihindari adalah murka Allah, bukan ketetapan-Nya.
Lalu Allah berfirman pasti,
“Matilah kamu!” seketika terjadi,
Kuasa-Nya tiada terperi,
Hidup dan mati di tangan Ilahi.
Satu perintah Allah cukup untuk mengakhiri semuanya. Tanpa proses panjang, tanpa negosiasi. Ini menunjukkan betapa mutlak kekuasaan Allah. Manusia boleh merancang, tetapi keputusan akhir tetap milik-Nya. Ayat ini menanamkan keyakinan bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam genggaman Allah, sehingga tidak layak bagi manusia untuk sombong atau merasa paling aman.
Kemudian Allah hidupkan lagi,
Sebagai tanda bagi insani,
Agar manusia sadar diri,
Takdir tak dapat dihindari.
Setelah dimatikan, mereka dihidupkan kembali. Peristiwa ini menjadi bukti nyata tentang kekuasaan Allah membangkitkan manusia. Ini juga menjadi isyarat tentang hari kebangkitan kelak. Jika Allah mampu menghidupkan kembali suatu kaum di dunia, maka membangkitkan seluruh manusia di akhirat tentu bukan hal yang sulit. Di sini ada pelajaran agar manusia sadar bahwa hidup ini bukan kebetulan dan bukan tanpa tujuan.
Sungguh Allah Maha Pemurah,
Karunia-Nya tercurah indah,
Namun manusia sering lengah,
Jarang bersyukur atas anugerah.
Allah menutup kisah ini dengan penegasan tentang karunia-Nya. Meskipun manusia sering takut, lemah, bahkan keliru dalam menyikapi takdir, Allah tetap melimpahkan rahmat-Nya. Namun banyak manusia yang kurang bersyukur. Mereka lebih sibuk menghindari apa yang ditakuti daripada memperbaiki iman dan amal. Padahal syukur adalah kunci ketenangan dan keberanian dalam menghadapi kehidupan.
✨ Hikmah besar ayat ini:
Takdir tidak bisa dihindari, tetapi bisa dihadapi dengan iman.
Kematian bukan sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan diingat sebagai penguat amal.
Dan tawakal kepada Allah adalah benteng terbaik dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

