Semangat Perjuangan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam Perspektif Visi Kebangsaan Religius
Dalam buku Visi Kebangsaan Religius, Dr. H. Muslihan Habib, M.A menguraikan bahwa semangat perjuangan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bukan hanya tercermin pada kiprahnya sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga pada konsistensinya membangun jembatan kokoh antara agama dan kebangsaan. Pemikiran besar beliau menjadikan Islam sebagai kekuatan moral yang menghidupkan rasa cinta tanah air, memperkuat identitas bangsa, dan menumbuhkan karakter masyarakat yang beradab.
Muslihan Habib menekankan bahwa gagasan kebangsaan Maulana Syaikh tumbuh dari spiritualitas yang matang, kemampuan membaca zaman, serta kecintaan beliau kepada persatuan umat. Kombinasi inilah yang membentuk apa yang disebut sebagai “kebangsaan religius”—konsep yang selaras dengan nilai keislaman sekaligus menjunjung tinggi keutuhan NKRI.
1. Kebangsaan yang Berakar dari Keimanan
Dalam kajian Muslihan Habib, semangat utama perjuangan Maulana Syaikh adalah keyakinan bahwa:
“Agama harus menjadi sumber motivasi untuk membangun bangsa, bukan alat perpecahan.”
Maulana Syaikh memandang iman sebagai kekuatan yang melahirkan kesadaran kolektif untuk: mencintai tanah air, menjaga persatuan, menghormati keragaman, dan memajukan peradaban.
Oleh karena itu, pendidikan yang beliau bangun melalui wadah —NWDI, NBDI, dan NW—tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter kebangsaan yang kuat.
2. Pendidikan sebagai Poros Perjuangan Kebangsaan
Buku Visi Kebangsaan Religius menjelaskan bahwa Maulana Syaikh menjadikan pendidikan sebagai alat paling efektif menanamkan kesadaran kebangsaan. Melalui metode pembinaan adab, kedisiplinan, dan penguatan akhlak, beliau melahirkan generasi yang: religius, cinta tanah air, berakhlak mulia, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Inilah yang oleh Muslihan Habib disebut sebagai “transformasi nilai melalui lembaga pendidikan”—strategi perjuangan yang jauh lebih kokoh daripada sekadar perlawanan fisik.
3. Keteladanan Moral sebagai Sumber Pengaruh
Muslihan Habib menggambarkan bahwa kekuatan Maulana Syaikh bukan hanya pada wawasannya yang luas, tetapi terutama pada keteladanan moral yang membuat masyarakat memercayainya sebagai figur pemersatu.
Beliau menunjukkan bahwa perjuangan sejati adalah: sabar, ikhlas, konsisten, rendah hati, dan tidak lelah melayani umat.
Nilai-nilai akhlak inilah yang menjadi magnet dakwah dan sumber inspirasi yang tidak lekang oleh waktu.
4. Kebangsaan yang Tidak Bertentangan dengan Keislaman
Dalam pemikiran Maulana Syaikh—sebagaimana diuraikan oleh Muslihan Habib—agama dan kebangsaan bukan dua kutub yang saling bertentangan. Justru, keduanya merupakan kesatuan nilai: Islam memberi landasan akhlak, Kebangsaan memberi wadah perjuangan, Indonesia menjadi ruang pengabdian. Karena itu, semangat perjuangannya selaras dengan prinsip:
“Hubbul wathan minal iman” — cinta tanah air adalah bagian dari iman.
5. Menghadapi Zaman dengan Kebijaksanaan
Salah satu poin penting dalam buku Visi Kebangsaan Religius adalah kemampuan Maulana Syaikh membaca tantangan zaman. Beliau menghadapi: ketertinggalan pendidikan, tekanan kolonial, rendahnya kesadaran berbangsa, dan lemahnya persatuan umat, dengan kebijaksanaan, bukan sekadar emosi perjuangan. Beliau memilih jalur dakwah, pendidikan, dan peradaban karena yakin bahwa perubahan paling langgeng adalah perubahan mental dan moral.
6. Semangat Berjuang Sepanjang Hayat
Muslihan Habib menyatakan bahwa Maulana Syaikh memiliki prinsip dasar perjuangan:
“Berjuang tidak mengenal usia, waktu, dan keadaan.” Ini tampak dari: ketekunan beliau membina santri hingga usia lanjut, mendirikan lembaga di masa perang,mengajar tanpa henti meski dalam keterbatasan, serta tidak pernah berhenti mengajak umat bersatu. Semangat inilah yang diwariskan kepada generasi NW hingga kini.
7. Warisan Kebangsaan yang Tetap Hidup
Muslihan Habib menegaskan bahwa perjuangan Maulana Syaikh bukanlah sejarah diam, tetapi arus nilai yang terus mengalir: melalui madrasah dan pesantren, melalui masjid dan dakwah, melalui organisasi NWDI–NBDI–NW, melalui karakter warga NW yang religius dan nasionalis. Warisan ini membuat beliau tetap relevan bagi Indonesia modern.
Penutup
Melalui pembacaan dalam Visi Kebangsaan Religius, terlihat jelas bahwa Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah simbol ulama pejuang yang menjadikan agama sebagai fondasi peradaban, dan kebangsaan sebagai ruang pengabdian. Semangat perjuangannya yang religius, nasionalis, moderat, dan penuh akhlak mulia menjadi kompas moral bagi generasi bangsa, terutama dalam menjaga Indonesia tetap kokoh dan bermartabat.
Penulis : Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, Penulis Khutbah, Penyair, dan Jurnalis media Sonar5News.com)
Sumber rujukan:
Buku “Visi Kebangsaan Religius TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid” oleh Dr. H. Muslihan Habib, MA (Ketua PW NWDI DKI Jakarta)



