Oleh: Badrul Jihad
“Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo Mesir”
Dari sejak sebelum kemerdekaan hingga saat ini, Indonesia memiliki santri-santri yang dominan beraliran Ahlussunnah wal Jamaah (disingkat Aswaja, atau sering juga disebut Sunni). Dominasi ini tak terlepas dari sejarah masuknya Islam di Nusantara, juga ajaran-ajaran moderat dari Aswaja sendiri yang membuat masyarakat tertarik.
Hal ini tercermin dalam ormas-ormas yang ada di Tanah Air, semisal NW (yang cikal bakalnya adalah madrasah NWDI yang terbentuk pada tahun 1937), ormas terbesar di NTB, atau juga NU (terbentuk tahun 1926), ormas terbesar di Indonesia. Keduanya sama-sama berpaham Aswaja yang moderat, dan sekarang sudah memiliki santri-santri yang tersebar di hampir seluruh pelosok daerah.
Dengan ini para santri sebagai pembawa bendera Aswaja punya tanggung jawab yang cukup besar, selain belajar dan mengajar tentang Aswaja, juga mempertahankan diri dari serangan-serangan kelompok lain yang ekstrem dan radikal, serta mereka yang ingin merusak citra Aswaja.
Mengenai yang tersebut terakhir itu, memang sudah lama terjadi dan semakin marak akhir-akhir ini. Fenomena yang bisa kita lihat adalah, sebagian orang senantiasa menuduh saudaranya sendiri (sesama manusia dan sesama muslim) sebagai kafir lalu membunuhnya dengan sengaja atas nama Islam (seperti para teroris). Ada lagi mereka yang ingin mengubah-ubah ajaran Islam dan aturan-aturan umum yang berlaku, seperti menyerukan tidak usah bermazhab, mengharamkan tawasul dan ziarah kubur, dan seterusnya.
Semua yang tersebut di atas itu bukanlah ciri-ciri Aswaja yang toleran. Terorisme misalnya, telah dikutuk oleh hampir seluruh umat manusia (bukan hanya kaum muslimin saja), dan di garda terdepan ada al-Azhar, lembaga Islam Aswaja terbesar di dunia. Teroris pada dasarnya bertindak atas nama diri mereka sendiri, karena sungguh agama-agama yang menjadi legitimasi para teroris itu berlepas diri dari mereka, begitu kira-kira kata pimpinan tertinggi al-Azhar, Grand Imam Ahmad al-Thayyib. Tak ada pula agama yang mengajarkan kekerasan dan teror, apalagi seperti Islam yang asasnya adalah kasih sayang untuk semesta _(rahmatan lil alamin)._
Sama dengan kelompok Wahabi (kalau boleh kita sebut secara gamblang), yang mengubah-ubah tatanan keilmuan Islam yang sudah mapan. Mengenai sikap mereka yang menganggap maksiat orang-orang yang ziarah kubur, Yusuf al-Nabhani (ulama Aswaja, w. 1932) sangat keras menentangnya. Dalam buku _Syawahid al-Haqq_ karangannya, beliau membongkar kesalahan-kesalahan kaum Wahabi yang disangkanya adalah bidah dan kekafiran, semacam tawasul dan ziarah kubur.
Dan sekarang, terkhusus di Indonesia, kelompok-kelompok yang tersebut di atas masih saja berkeliaran. Dengan itu, santri sebagai pemegang tanggung jawab keaswajaan, memiliki peran penting dalam mengurangi pemahaman-pemahaman menyimpang dari kelompok-kelompok tersebut. Hal ini demi kebaikan kaum muslimin sendiri (terkhusus di Indonesia), dan merupakan salah satu langkah penting untuk menuju masa depan Islam yang lebih baik.
Wallahu a’la wa a’lam.



