Renungan Subuh : Kebetulan ….?

banner post atas

 

Dalam kehidupan ada peristiwa
Yang tidak bisa dinalar logika
Kita memprediksi dari awal mula
Yang terjadi di luar rencana

Mungkin sahabat pernah alami
Kejadian yang tidak masuk logika
Logika mengatakan harusnya begini
Yang terjadi malah sebaliknya

Iklan

Ada juga yang disebut kebetulan
Begitulah dalam pandangan kita
Bagi Allah tidaklah demikian
Karena DIA maha tahu segala
Kebetulan, di luar nalar kita
Amat tak layak bagi Sang Pencipta
Allah Tuhan yang Maha sempurna
Tak satupun hal yang terluput dari-Nya

Kadang dalam hidup ini ada kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, kejadian yang mendeskripsikan seperti ada “keberuntungan” atau kebetulan dalam hidup ini. Ingat peristiwa langka yang dialami Ali al-Awadhi —warga negara Bahrain—pada tahun 1941 yang mungkin tidak akan terulang lagi dalam sejarah. Di mana pada tahun tersebut saat ia hendak melakukan tawaf, Ka’bah dilanda banjir kurang lebih setinggi 6 kaki. Dan saat jamaah yang lain menghentikan tawaf karena diperintah oleh syurthoh (polisi penjaga), ia malah meneruskan tawafnya dengan berenang. Memang ada yang mengikuti jejaknya untuk tawaf sambil berenang, namun hanya ia yang berhasil sampai tujuh putaran ( *https://www.arabiaweather.com/en/content/بالفيديو-قصة-البحريني-الذي-طاف-سباحة-حول-الكعبة-خلال-فيضان-مكة-عام-1941هـ dan https://ar.wikipedia.org/wiki/علي_العوضي*) Apakah Ka’bah yang kebanjiran dan saudara kita Ali al-Awadhi yang pas tawaf saat itu lalu nekat berenang merupakan suatu peristiwa kebetulan? Sebelum menjawab, saya akan mengisahkan kejadian yang saya alami sendiri yang sampai saat ini saya juga bertanya-tanya kok bisa ya.

Beberapa tahun lalu saat saya bertugas ke Palangkaraya, kondisi penerbangan kurang baik karena dampak kebakaran hutan yang melanda Kalimantan Tengah. Tapi alhamdulillah saya bisa sampai ke sana dan melaksanakan tugas. Sebelum kembali ke Jakarta, saya teringat seorang sahabat lama waktu belajar di Ma’had Fath al-Islami, Damaskus Suriah yaitu KH. Rusmadi yang sejak kembali ke Indonesia belum pernah bertemu kembali. Ya kurang lebih hampir dua belas atau tiga belas tahun. Satu hari sebelum pulang, saya menghubungi, KH. Rusmadi mengatakan: “ Gimana ya syaikh Rusdi….ana di Pangkalan Bun lokasinya ya masih sangat jauh dari Palangkaraya, kurang lebih 450-an kilo meter. Kalau naik mobil ya paling cepat kisaran 4-5 jam…”. Saya jawab : “Ane pikir ente di Palangkaraya..ya udah..mudah-mudahan di lain waktu kite ade kesempatan bertemu…amiin.”
Pagi hari jelang kepulangan ke Jakarta saya dapat message dari maskapai penerbangan, bahwa keberangkatan pesawat ditunda karena asap tebal. Diundur jadi jam 18.00 WIT. Kemudian saya kabarkan ke teman yang akan antar saya ke bandara bahwa pesawat diundur jadwal keberangkatannya. Teman saya mengatakan: “ Ustaz…kan pulangnya jadi sore..ini saya baru dapat informasi bahwa salah seorang guru kita yang juga dewan juri MTQ, yaitu KH. Kasyful Anwar meninggal dunia. Gimana kalau nanti kita takziyah dan mensholatkan jenazah beliau, setelah itu kita ke bandara.” Saya jawab : “ Baik…kalau gitu..Insya Allah kita ikut mensholatkan jenazah beliau.”
Saat saya tiba di masjid, tiba-tiba HP saya berdering. Saya angkat, ternyata suara sahabat saya, KH. Rusmadi : “ Syaikh Rusdi…antum sudah sampai Jakarta ya…?” Saya jawab : “Belum.. pesawat ditunda karena asap.” “Sekarang antum di mana? Masih di Palangkaraya?” Tanya beliau selanjutnya. “ Masih….ini saya lagi di masjid Darussalam dekat rumah almarhum KH. Kasyful Anwar..ane mau ikut sholat jenazah beliau, sebelum ke bandara.” KH. Rusmadi melanjutkan, “ Masya Allah…ane juga lagi di tempat almarhum…almarhum kan paman saya…Jadi semalam setelah dapat info beliau meninggal dunia..ana langsung ke Palangkaraya dengan beberapa santri untuk menemani. Sekarang saya di masjid nih.” Subhanallah…saya langsung gembira luar biasa. Harapan tipis tidak bertemu sahabat lama karena jarak yang tidak memungkinkan ke Pangkalan Bun, akhirnya Allah pertemukan.

BACA JUGA  MT. Al-Abror Nahdlatul Wathan Kampung Cibolang Ciawi Bogor Berhizib

Begitulah bila Allah sudah berkehendak, Fa’alu lima yurid. Entah rasanya seperti kebetulan semuanya. Keberangkatan pesawat yang ditunda karena ada asap, lalu ada paman sahabat saya yang meninggal dunia dan beliau juga tokoh ulama di Palangkaraya. Kemudian sahabat saya setalah mendapat info langsung menuju ke Palangkaraya. Dan saya juga kok ya diajak teman yang akan mengantar ke bandara untuk ikut takziah dan sholat jenazah. Semua sepertinya kebetulan-kebetulan. Tapi itulah Qoddarallahu ‘alaiyya wa shodiqiy. Takdir Allah yang menentukan segalanya sehingga kami bisa bertemu yang tadinya dirasa sudah tidak mungkin. Saya kira para sahabat juga pernah mengalami hal yang sama yang biasa kita sebut dengan kebetulan.
Kebetulan adalah realita yang benar adanya, dan hal tersebut tidak bisa kita pungkiri. Hal tersebut terjadi tanpa disadari, tanpa rencana dan tidak ada dalam prediksi kita. Karena memang kita tidak mengetahui hal yang gaib. Bukahkah kejadian masa yang akan datang itu adalah hal yang gaib bagai kita? Bila sudah berbicara masalah yang gaib tentu berkaitan dengan perbuatan Allah Ta’ala. Dan kita tidak bisa bahkan tidak boleh mengatakan kebetulan bila terkait dengan Allah, tentu hal tersebut mustahil terjadi pada Allah SWT. Mengapa? Karena segala sesuatu pasti telah diketahui oleh Allah SWT yang maha tahu.

Ada sebuah ilustrasi cukup menarik yang disampaikan oleh Prof. Dr. Quraisy Shihab sebagaimana dikutip dalam Liputan 6: “Kalau ada dua orang yang ditugaskan untuk menuju ke stasiun kereta api, lalu tanpa keduanya ketahui ada satu rekan lainnya yang juga diberikan tugas yang sama. Di saat keduanya bertemu di stasiun kereta, mereka anggap itu sebuah kebetulan. Dia benar mengatakan pertemuan tersebut adalah kebetulan, karena tidak mengetahui bahwa rekannya ditugaskan juga ke stasiun kereta. Tetapi buat yang menugaskan, itu bukan kebetulan, karena dia mengetahui keduanya menjalankan tugas yang sama. Allah SWT Maha Mengetahui. Bukti bahwa Allah Maha Mengetahui adalah kehebatan, keteraturan, dan keserasian segala ciptaan-Nya. Jadi adalah tidak mungkin semua yang dimiliki Allah ini terjadi karena kebetulan.” ( *https://www.liputan6.com/ ramadan/read/4243164/quraish-shihab-saat-allah-menciptakan-alam-raya-bukan-kebetulan -semua-wujud-keesaannya*).
Lalu bolehkah kita mengatakan kebetulan atas suatu kejadian? Mengucapkan hal yang demikian boleh saja bila itu terkait dengan diri kita, karena memang kejadian tersebut terjadi di luar rencana dan prediksi kita. Jadi kebetulan tersebut dalam sudut pandang kita sebagai manusia yang memang terbatas. Yang tidak boleh adalah bila kita mengaitkannya dengan perbuatan Allah SWT. Karena tidak ada sesuatu yang kebetulan di sisi Allah SWT.
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia Sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (Q.S. al-An’am; 59)

BACA JUGA  Porsadinas 2019: DKI Meraih peringkat 1 Cerdas Cermat.

Wallahu a’lam.
Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Subuh ke 73, 290902020)