Renungan Subuh (Edisi 16) Teman yang Mengingatkan

Renungan Subuh (Edisi 16) Teman yang Mengingatkan

Hampir sebulan renungan subuh tidak hadir dalam bentuk tulisan biasa atau makalah sederhana. Ada sahabat yang bertanya : “Kenapa?’. Ya..saya jawabnya: :lagi ingin tampil beda..he he”. Ada juga yang mengatakan: “ kok bisa ada ide nulis renungan religi dengan gaya pantun…saya malah tidak terpikirkan untuk itu.” Makanya tampilan renungan subuh akhirnya berubah seperti pantun. Hal ini saya lakukan karena yang pertama, ya itu tadi mencoba tampilan baru—meminjam bahas iklan “ Berani tampil beda”. Kedua, saya ingin melatih diri untuk bisa mengungkapkan pesan dalam bentuk yang sederhana dan akrab di tengah kita, maka lahirlah pantun. Ketiga, ingin melihat dan melatih kemampuan bahasa, karena mau tidak mau saat menulis pantun kita harus mencari kata yang akhir hurufnya sama dengan akhir huruf pada kata sampiran bait syair sebelumnya. 

Mengungkapkan pesan religi dalam bentuk pantun ternyata membutuhkan energi tersendiri. Kita harus mengungkapkan pesan yang sarat makna dalam uraian kata singkat dan bersajak dengan pola a-b, a-b. dan tiap larik terdiri atas 8-12 suku kata. Ribet kan… tapi itulah seni dan tantangannya. He he. Semisal pantun berikut ini :

Masa kecil dikenang indah
Hampir tidak mengenal susah
Ingin gampang masuk Jannah
Modalnya takwa dan beribadah

Renungan subuh tampil beda
Dari makalah ke pantun biasa
Bila ingin jauh dari neraka
Makanya peduli dengan sesama

Masih ingat empat golongan
Yang dijauhkan dari neraka
Hayyan layyan samhah qoriban
Muaranya hubungan antar sesama

Interaksi sesama jangan remehkan
Bisa jadi penyebab masuk neraka
Cari yang soleh tuk jadikan teman
Karna bisa bantu kita masuk surga

Pantun di atas sebenarnya saya susun untuk contoh saja. Entah mengapa temanya seperti mengarah kepada interaksi kita dengan sesama. Oleh karenanya agar afdhol, tulisan renungan kali ini mencoba mengangkat satu nasihat dari al-Hikam yang terkait dengan interaksi kita tersebut, namun lebih spesifik pada aspek kehati-hatian dalam berteman/bersahabat.
لاَ تَصْحَبْ مَنْ لاَ يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلاَ يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ

“Janganlah anda bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak menggerakkan/membangkitkan —untuk dekat kapada Allah— dan perkataan-perkataannya tidak menunjukkan anda menuju kepada Allah”.
Rasa pertemanan dan butuh orang lain adalah fithrah insaniyah.Pada dasarnya kita butuh orang lain baik sebagai teman, sahabat bahkan sebagai pendamping hidup kita.Itulah dalam Bahasa Arab kita disebut insan, karena pada insan itu ada uns — Sumiya al-Insan li unsihi, Kita disebut insan karena adanya rasa ‘uns” —-yang berarti jinak, harmonis dan tampak (lihat Quraish Syihab, *Wawasan al-Qur-an* dibagian ketiga) dan dalam kamus al-Munawwir juga bisa bermakna ramah (dalam pergaulan) dan senang. Dari makna-makna tersebut menunjukkan bahwa kita butuh orang lain. Makanya kita butuh teman dan sahabat. Hanya dalam memilih pertemanan dan persahabatan ini kita hendaknya hat-hati sehingga tidak salah jalan. Dalam satu hadits Rasululllah Shollallahu ‘alaihi wasaallam mengibaratkan teman yang baik itu seperti penjual minyak wangi.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori).

Hadits di atas setidaknya memberikan ibrah kepada kita untuk hati-hati dalam hal pertemanan/persahabatan, kita harus bijak dalam memilih. Jangan sampai ketika kita berteman kita menyangka bahwa kita sudah baik padahal sesungguhnya bekum baik. Terkait hal ini Syaikh mengingatkan:

رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَرَاكَ الْإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ مَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالاً مِنْكَ
“Barangkali engkau adalah seseorang yang buruk, kemudian kebaikan nampak dari dirimu karena kamu bersahabat dengan orang yang keadaannya lebih buruk darimu”
Maksud dari hikam di atas, boleh jadi keadaan lahir dan batin kita kurang baik—-mudah-mudahan tidak—-, namun karena kita bersahabat dengan orang-orang yang keadaannya lebih buruk dari kita, maka kita merasa lebih baik dan hebat dari teman-teman kita, padahal sesungguhnya kita masih berada dalam ketidakbaikan. Oleh karenanya berhati-hatilah dengan keadaan seperti ini. Jika tidak waspada, maka kita bisa terjebak pada sifat merasa lebih baik dari orang lain yang mana orang lain tersebut sesungguhnya lebih buruk dibanding kita.
Akhir kata , bertemanlah dengan orang yang bisa mengingatkan kita untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah sehingga dengan demikian pertemanan/persahabatan kita barokah dan diridhoi Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Subuh ke 72, 270902020)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA