Renungan seorang Musafir :Obat amal yang rusak

Renungan
Renungan
banner post atas

 

ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ

(Juga bagi) orang-orang yang berkeadaan riak (bangga diri dalam ibadat dan bawaannya). Sesungguhnya yang paling aku takutkan terjadi pada kalian (ummatku) al-syikr al-ashghar (syirik kecil) yakni al-riya’.

Iklan

Allah Subhanahu wata’ala memberikan solusinya dengan menjalankan ibadah dengan ikhlash.

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Ugama yang benar.

Antara perkara maksiat bathin yang paling ditakuti Rasulullah akan terjadi pada setiap ummatnya ialah perilaku syirk kecil yakni riya’ (pamer) terhadap segala ibadah yang sudah dan sedang ia lakukan. Seharusnya ibadah hanya dipersembahnya kepada Allah semata tanpa tujuan-tujuan selainNya, ikhlash merupakan lawan kata dari sifat ini, ikhlash dalam beribadah bermakna tiada lain tujuan ibadah kita hanya kepadaNya semata, setelah kita lakukan ibadah tidak pula dipamerkan kepada manusia lain.

Ketahuilah bahwa amalan manusia yang diterima disisi Allah, hanyalah amalan yang dijalankan semata-mata karena Dia Yang Maha Kuasa, lainnya tidak. Kondisi dan perilaku seperti ini telah ditegaskan Allah melalui hadits Qudsi yang artinya:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Rabb yang tidak memerlukan sekutu, karena itu siapa saja yang melakukan suatu perbuatan, kemudian Aku disekutukan padanya, maka aku pastikan bahwa amalnya tidak akan ‘Aku terima, ketahuilah bahwa amalan yang ‘Aku terima hanyalah yang dipersembahnya semata-mata untukKu”.

Dan orang-orang yang berlaku riya’ dalam segala aktivitasnya, nanti di hari kiyamat akan dipanggil dengan empat nama panggilan, hai kafir (ayyuhal kâfirȗn) , hai pendosa (ayyuhal ‘Âshî), hai penghianat (ayyuhal khiyânah) dan hai orang yang merugi (ayyuhal Khâsir). Lalu dilanjutkan dengan khitab (panggilan) Allah kepadanya; ”telah sesat usahamu dan batal pahalamu, karena itu, pada hari ini tiada bagian untukmu, carilah pahala (bagianmu) dari orang-orang yang engkau beramal karenanya”.

BACA JUGA  Ucapan Selamat Dari Pengurus Wilayah NW DKI (SMA NW Tetap Akreditasi A)

Al-syaikh Mathraf telah menegaskan dalam perkataannya bahwa Sesungguhnya aku lebih suka tertidur sepanjang malam dan bangun pagi-pagi dalam keadaan menyesal karena tidak melakukan ibadah malam (qiyamullail) daripada sepanjang malam aku lakukan ibadah namun ketika bangun pagi aku berbangga hati karena telah melakukan ibadah (qiyamullail).

Dari ucapan al-Syaikh dapat dilihat bahwa amalan qiyâmullail yang begitu dahsyat derajatnya disisi Allah, jika dilakukan lalu disebarkan dengan tujuan untuk pamer kepada khalayak ramai, maka tiada mendapatkan pahala disisi Allah, rugi dan muflis akan didapatkan. Tiada upah berupa surga Allah di akhirat, karena itulah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wasallam dalam hadits beliau (artinya) bersabda;
“Surga berkata; Aku diharamkan terhadap setiap orang yang bakhil (pelit) dan mereka yang bersikap riya’ dalam beramal”.

Kata pelit (bakhil) dalam hadits tersebut ialah mereka yang malas mengucapkan sebaik-baik perkataan yakni;”Laa Ilaaha Illallah Muhammadurrasulullah”. Dan yang diinginkan dari kata riya’ ialah mereka yang beramal dengan tujuan makhluk dan seburuk-buruk riya’ ialah mereka yang memperlihatkan iman dan ketauhidannya, namun hatinya terdapat dusta.
Orang-orang yang memelihara sikap riya’ dalam dirinya akan mendapatkan kerugian jauh dari rahmat Allah, jauh dari Surga, jauh dari kasih sayangNya. Dekat dengan murka Allah dan dekat dengan azab Allah.
Semoga kita semua terhindar dari sikap dan sifat al-riya’ dan berharap Allah memasukkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang ikhlash dalam berbuat taat kepadaNya