Renungan Seorang Musafir : Imam al- Syubli Berguru pada 400 Orang Guru

Renungan
Renungan
banner post atas

Oleh Harapandi Dahri 

Diceritakan bahwa Imam Al-Syubli telah menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu dari banyak guru. Tercatat untuknya 400 orang guru dan beliau berkata aku telah membaca 4000 (empat ribu buah Hadits), namun aku memilih satu dari empat ribu Hadits tersebut dan dengan yang satu ini aku beramal dan aku pun meninggalkan 3.399 buah Hadits.

Setelah aku telaah dan pelajari dari satu buah Hadits ini, akupun mendapatkan jawaban kehidupan darinya, dengan satu Hadits ini kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan akhirat dapat dihasilkan, ilmu-ilmu para ulama besar bersumber pada satu Hadits ini, karena itulah aku memfokuskan diri pada Hadits tersebut. Hadits dimaksud ialah Sabda Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wasallam.
Artinya:“ Beramallah untuk duniamu sebatas waktu (tinggal) yang engkau miliki, berbuatlah untuk akhiratmu mengikut lama (waktu tinggalmu) di dalamnya, bekerjalah untuk Tuhanmu seberapa perlu engkau kepadaNya dan berkaryalah untuk (menghindari) neraka seberapa sabar engkau dari pada panasnya”.

Iklan

Ketahuilah, kata Imam al-Ghazali, kepada murid beliau, jika engkau mengetahui dan beramal dengan Hadits tersebut, maka kamu tidak lagi memerlukan Hadits lain sebagai panduang kehidupanmu.
Empat poin utama yang dipesankan dari Hadits yang juga dimanfaatkan oleh al-Syaikh Al-Syibly dalam memelihara kehidupan duniawi untuk menggapai kebahagiaan ukhrawinya. Keempat perkara tersebut adalah orang yang ingin hidup di atas dunia dengan tenang dan bahagia, maka hendaklah menjadikan dunia bukan tujuan tetapi perantara untuk sampai kepada akhirat yang telah dijanjikan. Kehidupan dunia sebagai media beramal hingga waktunya Allah menjemput kita. Dikatakan dalam sebuah ungkapan populis “al-Dunia Darul Amali wal akhiratu Darul Jaza’“ (dunia adalah tempat berkarya dan bekerja sementara akhirat tempat memetik hasil kerja).

BACA JUGA  Komandan KKB Wilayah Kosiwo Mantapkan Diri Kembali ke NKRI

Hal kedua ialah akhirat; kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal (baqa’) sepertimana firman Allah Azza Wajalla; bagi seorang hamba kehidupan akhirat jauh lebih baik dan lebih kekal dibandingkan kehidupan duniamu. Siapa yang mencari kehidupan akhirat, maka Allah akan memberikan kehidupan akhirat dan dunia sekaligus, tetapi siapa yang hanya mencari kehidupan dunia tanpa melakukan amalan akhirat, maka akan diberikan kehidupan dunia semata tanpa ditambahkan kehidupan akhirat.
Perkara ketiga yang ditegaskan dalam Hadits Rasulullah tersebut ialah siapa saja yang menjalankan ibadah hanya hanya kepada Allah, sangat tergantung kepada seberapa berhajat kita denganNya. Ketahuilah bahwa manusia tidak akan pernah tidak tergantung kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah, sedih maupun bahagia, kaya maupun miskin. Karena tidak ada peluang bagi kita untuk tidak berhajat kepada Allah, maka segala ibadah yang kita lakukan mestinya hanya karenaNya, bukan yang lain.

Dan perkara terakhir yang ditegaskan dalam Hadits tersebut ialah berbuatlah untuk menghindari neraka, karena tidak ada manusia bahkan makhlukpun yang kuat menahan pedih dan panasnya api neraka. Sebagai gambaran bahwa siksaan yang paling ringan akan diberikan Allah adalah seseorang yang ditaruhkan di bawah telapak kakinya barak api neraka yang sangat kecil, maka akan terasa bahwa tiada siksa terberat yang akan didapati manusia melainkan siksaannya tersebut.