Renungan Seorang Musafir : Ilmu & Ulama

Renungan
Renungan
banner post atas

Ilmu itu cahya tidak akan dapat masuk dan tinggal pada kegelapan (al-Duzlmah), kerana itu sucikan hatimu dalam mencarinya, maka ia akan tinggal bersamamu selama-lamanya.

 
إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ )فاطر/٣٥:٢٨(
Allah berfirman bahwa ulama ialah mereka yang takut (semakin dekat) kepadaNya, bukan mereka yang berilmu tanpa taqwa, bukan pula mereka yang hanya pandai berargumentasi tanpa makna. Ulama ialah mereka yang lihai  memberi contoh bukan kata-kata dan retorika, ulama ialah mereka yang menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, menghormati sesama bukan menjadi agen surga dan menjual kavling-kavling neraka.

Ulama bukan pula yang menghiasi tubuhnya dengan sorban, namun hatinya dibaluti dengan kotoran (hasad, riya dan sum’ah), ulama tidak berhenti pada kata al-nahyi wa al-munkar, namun ia terus berjalan walau seluruh dunia menghina dan menghardiknya.

Iklan

Untuk mengetahui hakikat seorang ulama seperti diungkapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Kata ulama berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak daripada kata ‘aalim. ‘Alim adalah isim fa’il dari kata dasar ‘ilmu, jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu dan ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu dalam bidang agama Islam. 

Imam Hâtim al-Asham berkata; “Janganlah engkau melihat kepada orang yang berbicara tetapi lihatlah apa yang dibicarakan”. (Tanbîh al-Mughtarrîn:81). Ucapan yang bermaksud sama ditegaskan Imamuna al-Syafi’i mengutip kata-kata gurunya Imam Malik; “Wahai Muhammad (ibn Idris:Imam al-Syafi’i) jadikanlah ilmumu seperti garam (makanan tidak akan pernah nyaman tanpa garam) dan adab (akhlakmu) bagaikan tepung”. (al-Fawaid al-Mukhtarah: 68).

‘Abdurrahman ibn Qasim membuat kesaksian terkait dengan pentingnya adab dalam pengajaran; “Aku telah bersama imam Malik selama dua puluh tahun, dari duapuluh tahun itu, aku mendapati beliau delapan belas tahun diisi dengan pengajaran adab dan dua tahun saja mengajarkan ilmu (selain adab), maka alangkah pentingnya mengutamakan pengajaran adab bagi setiap pelajar”. (al-Minhaj al-Sawi:198, Tanbih al-Mughtarrin:13 dan al-Fawaid al-Mukhtarah: 69).

BACA JUGA  Buletin Jum'at HAMZANWADI Edisi 05

Para pelaku tasawuf sangat mengutamakan adab dalam kehidupan mereka, hal ini dapat dilihat dari pelbagai komentar yang mereka berikan. Imam al-Syubli berkata; “Tanda-tanda orang yang dekat dengan Allah ialah menjauhkan diri dari suul adab kepada semua manusia”. Abu Husain al-Nuuri berkata; “sesiapa yang tiada memelihara adab (etika) bersama orang lain, maka tiada kebajikan baginya”. Dzunnun al-Mishri memberikan komentarnya; “Sesiapa yang meringan-ringankan adab, maka akan kembali menjadi orang jahil”. Sedangkan al-Syaikh Tajuddin ibn ‘Athaillah al-sakandari berkata;”” “Belumlah dikatakan murid yang beradab sebelum ia merasa malu dari perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah siang mahupun malam”. (al-Anwar al-Qudsiyyah:37).

Diceritakan bahawa Imam al-Syafi’i mendirikan salat subuh di dekat kubur imam Abi Hanifah, lalu beliau tidak mengeraskan bacaan basmalahnya dan tiada membaca doa Qunut sebagai penghormatan beliau kepada Imam Hanafi”. (al-Fawaid al-Mukhtarah:75).
Al-Syaikh Zurnuji dalam kitab syarh Ta’lim al-Muta’allim; ”Ketahuilah bahawa tiada akan diperolehi (keberkatan) ilmu pengetahuan jika tidak disertakan adab kepada ilmu dan juga pengajar ilmu (guru;mudarrits), tiada keberhasilan tanpa memberikan penghormatan dan tiada kegagalan akan datang melainkan dengan meninggal adab”.

Lanjut al-Syaikh; “memberi penghormatan lebih utama daripada ketaatan itu sendiri, tidakkah kalian melihat bahawa kekufuran (iblis) tidaklah disebabkan karena perbuatan maksiatnya kepada Allah, melainkan karena ia meninggalkan (tidak mentaati perintah) ketika diminta memberi penghormatan kepada Nabi Adam Alaihissalam”. (Ta’lim al-Muta’allim:34).
Al-Syaikh Imam Sadid al-Din al-Syairazi berkata;” Sesiapa yang menginginkan anaknya menjadi seorang ahli ilmu (‘Alim), hendaklah ia memberikan perhatian terhadap ahli ilmu yang dijumpainya, memberikan penghormatan kepadanya dan memberikan kepadanya sesuatu, jika bukan anaknya yang (menjadi) ahli ilmu (‘Alim), maka cucunya akan mendapatkan kedudukan tersebut.

BACA JUGA  Lembaga Persahabatan Ormas Islam Bicara Dengar Pendapat Bersama Mentri Polhukam

Antara adab kepada ahli ilmu seperti dijelaskan al-Syaikh Zurnuji ialah tidak berjalan di hadapan guru, tiada duduk ditempat duduk gurunya, tidak berbicara terlebih dahulu sebelum diizinkan, menjaga agar tidak banyak berbicara, tidak bertanya tentang sesuatu saat gurunya sudah (terlihat) letih, menjaga waktu bersama gurunya, tidak mengetuk pintu sehingga gurunya keluar, secara kesimpulannya bahwa mencari ridla gurunya dengan meninggalkan perkara-perkara yang tidak disenangi gurunya”. (Ta’lim al-Muta’allim:36).

Adab penuntut ilmu seperti dijelaskan oleh Habib Abdullah ibn ‘Alawy al-Haddad al-Hadramy al-Syafi’i ialah mempercantik  dan memelihara taubatnya kepada Allah dari semua khilaf kecil apalagi besar, kemudian seorang murid hendaklah menjaga hatinya agar selalu husnuzhon kepada Allah dan juga makhluk Allah, berikutnya seorang murid mestilah memelihara seluruh anggota tubuhnya agar tidak terjatuh dalam perbuatan dosa dan maksiat zohir mahupun bathin. (Risalah Adab  Suluk al-murid:19-23).

Lanjutnya al-Habib seorang murid hendaklah memelihara wudlu’nya, senantiasa menjauhkan diri sejauh mungkin dari prasangka buruk dan perbuatan maksiat, seorang murid hendaklah menjaga hati dan lisannya untuk tidak memperkatakan apapun yang dilihatnya “salah” daripada gurunya, kerana belum tentu yang dilihatnya “salah” adalah salah dalam ilmu gurunya, hendaklah menjaga salat yang lima waktu, salat jumat tiada pernah ditinggalkannya dan seorang murid mestilah menjaga agar selalu menjalankan (sesuai kemampuannya) segala perintah Allah dan menjauhkan dirinya dari segala larangan Tuhan. (Risalah Adab  Suluk al-murid :24-30).