Prof H Agustitin: TABAH DAN SABAR TEHADAP COBAAN MERUPAKAN JALAN MENUJU SUKSES

0
293
banner post atas

Nabi SAW, ia bersabda: “Seorang Muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun kedukacitaan, walaupun hanya tertusuk duri, niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya.” 

(HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengabarkan bahwa setiap cobaan yang Allah berikan selalu mengandung hikmah dan kebaikan. Siapa yang ditimpa cobaan hendaknya ia merenungkan apa arti semua itu. Ketika Allah mendatangkannya kepada kita, tiada lain merupakan bukti kecintaan-Nya dan Dia sungguh ingin mengangkat derajat kita.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR Bukhari). Kehilangan orang tercinta, ditimpa penyakit, hartanya diambil orang, atau musuh-musuhnya melecehkan, semua itu sangatlah menodai hidup dan menggoyahkan hati. Dalam menyikapinya, tak ada jalan lain selain bersabar dan berserah diri secara total kepada Allah serta terus memohon kepada-Nya jalan keluar.  
Dunia ini merupakan panggung cobaan dan ujian. Berbagai cobaan hidup datang dari Allah untuk mengukur seberapa besar keimanan dan kesabaran kita. Semua cobaan akan menjadi ringan jika tahu pahala yang terselip di baliknya. Beruntunglah bagi kita yang mau bersabar dan ridha atas apa yang ditetapkan-Nya. 
Ada sebuah kisah tentang Basyir al-Thabari. Suatu ketika tentara Romawi merampas kerbau-kerbaunya yang berjumlah sekitar 400 ekor. Para hamba sahaya menemuinya dan berkata, “Tuan, kerbau-kerbau itu hilang.” Basyir pun berkata, “Kalau begitu, pergilah kalian. Karena kalian telah merdeka di hadapan Allah.” Mendengar hal itu, anaknya ber kata, “Ayahku, kita jatuh miskin!” Basyir menjawab, “Biarlah, anakku. Sesungguhnya Allah sedang mengujiku dan aku ingin menambahnya.” 
Dari kisah itu, kita bisa belajar bahwa mukmin sejati akan selalu memantapkan imannya. Tegar menghadapi cobaan-cobaan besar. Tak terdengar dari mulutnya keluhan-keluhan mengiba. Hatinya tenang tidak menggerutu. Ia yakin cobaan itu pasti segera hilang dan diganti dengan kebaikan. 
Allah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS al-Zumar:10). Kesabaran pulalah yang membuat para nabi dan rasul mendapatkan derajat yang mulia dan menjadi ke kasih Allah. Oleh sebab itu, jika kita paham pasang dan surutnya lautan kehidupan, tentu tahu bagaimana harus bersabar.

Iklan

MAQAM SABAR MENURUT SUFI

Sabar (Ash-Shabru) dalam
adalah maqam yang harus ditempuh bagi tiap salik. Hal ini karena dalam laku tasuwuf (orang sufi) akan mengalami banyak hambatan, cobaan dan ujian, maka laku sabar adalah tahapan yang harus ditempuh dengan baik.

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Sabar adalah upaya menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah, serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, lalu berusaha untuk konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.

Sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidaksabaran untuk berusaha, ketidaksabaran untuk berjuang dan lain sebagainya. Sabar bukanlah sesuatu yang harus diterima seadanya, bahkan sabr adalah usaha kesungguhan yang juga merupakan sifat Allah yang sangat mulia dan tinggi. Sabar ialah menahan diri dalam memikul sesuatu penderitaan baik dalam sesuatu perkara yang tidak diingini mahupun dalam kehilangan sesuatu yang disenangi.

Rasulullah SAW bersabda, “Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.”

Sabar dapat dibagi menjadi beberapa macam: sabar terhadap apa yang diperoleh si hambah (melalui amalan-amalanya), misalnya sabar menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Dan sabar terhadap apa yang diperoleh tanpa upaya, misalnya kesabaran dalam menjalankan ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.

Al-Junayd menegaskan, “perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang yang beriman, tetapi menghindari makhluk demi allah adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah SWT adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bersabar terhadap Allah.”
Ketika ditanya tentang sabar, Al-Junaid menjawab, ”sabar adalah meminum kepahitan tanpa wajah cemberut.” Dan Ali bin Abi Thalib ra, menyatakan,”hubungan antara sabar dengan iman seperti hubungan antara kepala dengan badan.”

Al-Jurairi menjelaskan,
“sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita, disertai dengan ketentraman pikiran dalam keduanya. Ketabahan yang sabar adalah mengalami kedamaian ketika menerima cobaan, meskipun dengan adanya kesadaran akan beban penderitaan.”

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan,”kebenaran hakiki tentang sabar adalah jika si hamba keluar dari cobaan dalam keadaan seperti ketika ia memasukinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ayub as pada Akhir cobaan yang menimpanya, ‘sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah tuhan yang maha penyayang diantara semua yang penyayang’(QS.Al-Anbiya’:83).

Nabi Ayyub memperlihatkan sikap berbicara yang layak dengan ucapanya,’Dan Engkau adalah Tuhan yang maha penyayang diantara semua yang menyayangi’ tetapi dia tidak bicara secara eksplesit , ‘Limpahkanlah kasih saying-Mu kepadaku’.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:

Pertama. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah

Kedua. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah

Ketiga. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain.