Prof H Agustitin: Situadi Dan Kondisi Perbankan RI Versi OJK Hingga Bulan Mei

0
110
banner post atas

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan kondisi perbankan dalam negeri hingga saat ini dalam kondisi normal, kendati perekonomian diprediksi akan mengalami penurunan sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Kondisi likuiditas perbankan saat ini berada dalam kondisi yang baik, terbantu dengan Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menurunkan giro wajib minimum (GWM)
.”Jadi bank masih aman, sekarang seperti kondisi sebelum Covid-19, masih sama kondisinya. Jumlah bank sama, likuiditas empel cukup,karena BI menurunkan GWM jadi ada Rp 50 triliun lebih flushing guyur ke market jadi likuiditas terjaga,”

Untuk risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL), Wimboh mengatakan saat ini masih terjaga mengingat adanya relaksasi restrukturisasi yang dikeluarkan OJK.
“Mudah-mudahan karena sudah ada kebijakan restrukturisasi kan gak bertambah NPL, jadi ga ada masalah. Ini tetap watch out,.

Iklan

Perkembangan dari sektor perbankan dan lembaga keuangan di tengah pandemi yang berimbas pada terganggunya perekonomian nasional seiring dengan langkah Pembatasan Sosial Berskala Khusus (PSBB).

“Nanti bagaimana kami melihat detail, mulai dalam beberapa hari, kami melihat individu lembaga keuangan dan bank dan bagaimana likuiditasnya dalam 1, 2, 3 bulan akan sudah kelihatan dampaknya,”

“Bidang usaha memang sudah tidak mampu lagi bayar, suku bunga dan pokok [utang di bank]. Kalau nggak dapat [pembayaran utang], nggak dapat pendapatan akan profit [laba], and loss akan rugi Kalau cepat persoalan ini nggak teratasi bisa jadi masalah..

Perkembangan yang ada, sehingga dengan sejumlah stimulus dan relaksasi bisa memberikan ketahanan yang panjang bagi sektor perbankan dan lembaga keuangan.

Bank Indonesia (BI) menegaskan perlambatan ekonomi akibat penyebaran virus corona tidak mempengaruhi kesehatan perbankan nasional. Sebab, kondisi perbankan saat ini sudah jauh lebih kuat ketimbang kala krisis multi-dimension 98.

Covid-19 adalah masalah kemanusiaan, kesehatan,” tegas , Gubernur BI, dalam briefing perkembangan ekonomi terkini,. Kondisi perbankan Indonesia sangat sehat. Saat ini rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) berada di 23%. kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) terjaga rendah di 2,5% gross atau 1,3% nett. “Ketahanan industri perbankan kita masih relatif kuat,”.

Saat ininMasih ada beberapa isu yang perlu menjadi perhatian. Misalnya risiko NPL karena perlambatan ekonomi membuat kinerja perusahaan dan UMKM ikut menurun.

“UMKM tidak bisa berjalan dan pendapatan berkurang. Debitur kecil mengalami gangguan kerana Covid-19, bukan karena mereka ngemplang tetapi karena mereka tidak bisa bekerja. Ini yang harus jadi perhatian,.

Pemerintah telah menyiapkan stimulus fiskal. Salah satunya adalah bantuan sosial (bansos) bagi mereka yang membutuhkan.

“Hal Inilah yang sudah dipikirkan pemerintah melalui. stimulus fiskal. Bagai mana mengatasi masalah kesehatan, membayar dokter, obat, dan lain-lain. Kedua, memastikan masyarakat bebannya dibantu melalui bansos, yang disebut jaring pengaman sosial.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan di tengah pandemi Covid-19 masih belum ada bank yang mengajukan rencana konsolidasi (merger dan akuisisi), baik bank lokal maupun bank asing, begitu juga lembaga keuangan lainnya. Namun OJK tetap membuka kesempatan bagi perusahaan tetap melakukan aksi korporasi.

Silahkan corporate action silahkan jalan sendiri,” kata Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK dalam diskusi virtua.

Konsolidasi perbankan ini ditujukan untuk menjaga agar kondisi bank tetap aman, sehingga ketika pemegang saham tak mampu lagi menyetorkan modal, ada baiknya untuk mencari mitra strategis.

“Itu kan corporate action silahkan ajalah, pemilik ga bisa setor kan suruh cari partner

Yang erkaitan dengan mulai adanya aksi korporasi akuisisi perbankan RI oleh investor asing. Bank yang baru-baru mengumumkan rencana akuisisi adalah dua bank asal Thailand, yakni Bangkok Bank dan Kasikornbank. Masing-masing bank ini akan mengakuisisi bank dalam negeri yakni PT Bank Permata Tbk (BNLI) dan PT Bank Maspion Tbk.

Dari dalam negeri PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah mengakuisisi dua bank sekaligus. Pertama adalah PT Bank Royal Indonesia yang dirampungkan pada November 2019. Bank BCA akan menguasai 99,99% saham Bank Royal dan sisanya BCA Finance.

Bank milik grup Djarum ini juga mengakuisisi PT Rabobank Indonesia. Akuisisi ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales purchase agreement/CSPA) antara kedua pihak pada 11 Desember 2019.

OJK saat ini memiliki kewenangan tambahan sebagaimana termaktub dalam Perppu Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Perppu yang terdiri dari 29 pasal ini ditetapkan dan diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM .
Salah satu ketentuan baru yakni OJK diberikan kewenangan untuk memberikan perintah tertulis kepada lembaga jasa keuangan untuk melakukan penggabungan, peleburan, pengambilalihan (akuisisi), integrasi dan/atau konversi.

“OJK diberikan kewenangan merestrukturisasi lebih awal dengan melakukan merger.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pasar saham sudah mulai pulih kembali setelah beberapa waktu lalu sempat turun tajam dan menyentuh level terendahnya di 3.911,71. Pemulihan ini tak hanya terjadi di pasar dalam negeri, namun juga terjadi secara global.

Komisioner OJK.mengatakan pasar saham sudah mulai menunjukkan tren rebound.
“Hampir seluruh dunia, IHSG dalam satu bulan terakhir ini sudah mulai ada recovery. Jadi trennya tidak turun sudah ada poin yang mulai recover. Rebound itu 26-27 Maret sudah mulai seluruh dunia, jadi sudah sentimen positif terjadi,”
Adapun dalam kondisi pasar yang terus berfluktuasi tajam beberapa waktu lalu, OJK telah mengeluarkan sederet kebijakan untuk pasar modal. Tujuannya adalah untuk menjaga kondisi pasar agar tak terus mengalami penurunan tajam.

Kebijakan yang dikeluarkan adalah memangkas jam perdagangan bursa selama 1,5 jam dari jam perdagangan normal. Kebijakan ini berlaku sejak Senin, 30 Maret 2020 hingga waktu yang diumumkan selanjutnya oleh otoritas pasar modal..Selain itu, OJK juga memberikan keleluasaan kepada emiten untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut data OJK, 60 emiten telah menyampaikan rencana tersebut dengan outstanding dana yang disiapkan senilai Rp 20,03 triliun untuk aksi korporasi.

OJK dan bursa juga telah menerapkan kebijakan untuk menghentikan perdagangan sementara (halt) selama 30 menit jika indeks turun sebanyak 5% dalam perdagangan intraday. Sejak kebijakan ini dikeluarkan pada 10 Maret, IHSG mengalami halt sebanyak enam.kali.
“Seluruh dunia sudah ada sentimen positif, kalau recover kan gak bisa straight line, tapi trennya sudah positif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,71% di level 4.603,30 dengan nilai transaksi Rp 2,73 triliun. Sebulan terakhir IHSG naik 6,27