Prof H Agustitin: Mencermati Perekonomian Indonesia Menjelang Idul Fitri.

Prof H Agustitin: Mencermati Perekonomian Indonesia Menjelang Idul Fitri.

Perekonomian Indonesia menjelang Idul fitri, saat ini masuk kondisi lumayan berat. Hal ini karena jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dan di-PHK sudah mencapai 6 juta lebih.

Yang terpenting adalah solusi dan strategi agar tekanan ekonomi tidak semakin berat. Apa yang terjadi dan bagaimana strategi yang dibutuhkan?

Kemungkinan ekonomi Indonesia saat saat masuk dalam kondisi lumayan berat. Kondisi yang sangat berat ini diperkuat dengan jumlah pekerja yang dirumahkan maupun kena PHK mencapai jutaan orang.

“Kalau dari Kemenkeu apabila yang dirumahkan sudah lebih dari 5,2 juta orang, ekonomi kita sudah sangat berat. Menurut Kemenkeu juga pertumbuhan ekonomi kita minus 0,,4%,.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 2,97%. Sebuah angka yang membuat kaget banyak orang.
Beberapa hari sebelumnya pemerintah sempat merilis angka proyeksi ekonomi yakni di level 4,5%-4,7% namun jauh berbeda dengan angka realisasi.Pada kuartal II 2020

Kadin memproyeksi ekonomi nasional akan agak bertambah berat dibanding kuartal I 2020. Ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi 3-5%.
“Angka dii kuartal II ini minus 3-5%, karena pertumbuhan ekonomi kita didominasi oleh konsumsi domestik sekitar 57%, investasi 32%, belanja pemerintah 7-8% dan sisanya ekspor impor. Sekarang yang terganggu itu konsumsi domestiknya,”

Jutaan Pegawai Dirumahkan
Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut ada 6 juta pekerja yang sudah dirumahkan maupun kena PHK. Data tersebut berasal dari berbagai sektor industri.

“Data dari Kemenaker (Kementeriran Ketenagakerjaan) kurang lebih 2 juta.
Angka yang kami terima dari asosiasi itu 6 juta,”. Data yang masuk dari transportasi darat yang melaporkan sudah ada 1,4 juta orang yang dirumahkan. Kemudian perhotelan 430.000 orang, restoran 1 juta orang, tekstil 2,1 juta orang, alas kaki dan sepatu 500.000 orang, ritel 400.000.

Industri otomotif saat ini juga sedang terseok-seok. Kemudian industri farmasi juga mengalami tekanan.

“Dunia Otomotif juga melaporkan bahwa dulu targetnya hingga 1 juta kendaraan terjual, tapi sekarang 400.000 saja sudah bersyukur. Saya tidak bicara perhotelan lagi ya, farmasi kita sangka masih oke ternyata asosiasi lapir ke saya sulit juga,” imbuh Rosan.

BACA JUGA  Mewujudkan Keluarga Samawa Oleh :Prof H Agustitin

Industri farmasi juga terkena dampak. karena harga bahan baku impor yang melambung tinggi, seluruh negara berebut bahan baku, dolar AS naik, apalagi dengan utang obat BPJS.

“KondisinFarmasi sangat tertekan, di tambah lagi bahan baku mahal , dan itupun masih diutang BPJS sampai Rp 6 triliun, dolar naik dan mereka juga dalam kondisi seperti ini tidak bisa menaikkan harga,”.

Sampai saat ini , seluruh sektor di dunia usaha sedang bertahan dengan mengatur cashflow. Apalagi saat ini masih dalam kondisi ketidakpastian.

Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kemnaker Haiyani Rumondang menjelaskan data yang sudah valid sebanyak 1.727.913 pekerja. Data terakhir adalah 1.722.958.

BACA JUGA  Hadist hari ini Rabo 16 Romadhon Mubarok

“Total pekerja yang dirumahkan dan pekerjaan di-PHK, yang formal dan informal ini sejumlah 1.727.913 orang. Data ini adalah data hasil cleansing,dengan rincian sbb: Pekerja formal yang dirumahkan sekitar 1.033.000 orang, kemudian yang di-PHK sekitar 377.249 orang. Untuk pekerja informal yang terdampak sekitar 316.976. Mereka tersebar di berbagai perusahaan.

“Jumlah perusahaan i seluruh Indonesia , PHK hingga sekitar 41 ribu perusahaan, dan untuk yang dirumahkan ini ada sekitar 44 ribu perusahaan,” jelasnya.
Sampai saat ini masih ada data 1,2 juta pekerja yang diproses tahap verifikasi dan validasi. Hal itu dilakukan untuk menghindari data ganda dan data tidak jelas

Para Ekonom mengingatkan pemerintah mengenai bahaya gelombang kedua pandemi virus Corona (COVID-19) yang bakal merambat perekonomian Indonesia.
Untuk itu, pemerintah perlu memperhitungkan secara matang dalam memutuskan kebijakan, termasuk relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi alasan ekonomi.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menjelaskan jika sampai terjadi gelombang kedua virus Corona maka anggaran yang sudah digelontorkan pemerintah sejauh ini sia-sia.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Umumkan Perpanjangan PPKM Level-4

“Di tambah lagi dari Statement Gubernur DKI Jakarta,17- 5 -2020 situasinya dikhawatirkan kembali ke situasi Maret. Kan berarti semua ongkos secara ekonominya, hitung-hitungannya ongkos yang sudah dikeluarkan selama ini untuk membuat PSBB itu menjadi kayak nggak berarti kan,”

Apabila kasus positif Corona bertambah parah, otomatis biaya yang harus dikeluarkan pemerintah pun juga lebih besar dari yang sebelumnya.

“Apabila angkanya besar, probabilitas satu orang yang positif bisa menularkan katakanlah 3-10 orang, itu kan kalau kita kalkulasi secara statistik saja itu berarti kan case-nya malah tambah gede lagi. Itu biayanya nambah lagi. Secara ekonomi itu harus dipertimbangkan banget,” dan kondisi tersebut akan meningkatkan ketidakpastian terhadap Indonesia. Itu juga akan berimplikasi negatif terhadap perekonomian.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE). gelombang kedua virus Corona bisa menyebabkan krisis kesehatan karena ketidaksiapan kapasitas rumah sakit dan dokter, serta kebutuhan obat-obatan untuk menangani pasien yang bertambah signifikan.

“Krisis kesehatan ini lebih buruk, anggaran yang digunakan pemerintah harus lebih besar lagi. Nah makanya ketika krisis ini terjadi bisa saja anggaran yang diajukan akan lebih besar dibandingkan anggaran yang diajukan pemerintah sebelumnya,”.

Banyaknya pasien yang meninggal dalam kasus COVID-19, menurutnya bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional yang ditopang oleh pengeluaran masyarakat.

Seandainya orangnya meninggal, lalu sumber untuk melakukan kegiatan ekonomi dari mana? Inilah kerugian yang bisa terjadi kalau terjadinya gelombang kedua ini. Jadi anggaran kesehatan bisa lebih besar, kemudian kehilangan manusia yang lebih banyak yang sebenarnya kita tidak harapkan,”. Erick Thohir Minta Pegawai BUMN segera Ngantor Lagi, Pengamat: Bisnis Salon Segera Operasi Lagi, Cek Protokol Kesehatannya di Sini
Mal Mau Dibuka Lagi, Pembayaran Uang Cash Dibatasi, PSBB Mau Dilonggarkan, Bahaya Gelombang Kedua COVID-19 Mengintai, Pegawai BUMN Ngantor Lagi Usai Lebaran, Ini Skenarionya Menuju Normal
Rencana Dibuka 8 Juni, Aktivitas Mal Akan Beroperasi.lagi.

BACA JUGA  Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta Menerima Wakaf Tanah dan Bangunan dari Bapak Cristianto

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA