Prof H Agustitin: KONTEMPELASI

Prof H Agustitin: KONTEMPELASI

*Bagi orang orang yang sangat mencintai kenikmatan sesaat duniawi, maka apa yang dipikirkan dan diperbuatnya hanyalah yang dapat memuaskan nafsu kedinginan saja.Mereka sangat tidak senang pada kemampuan orang lain, dan selalu berkata bahwa kemampuannyalah yang lebih baik. 

Sementara Kesalahannya sendiri yang besar ,selalu disembunyikan dalam dirinya dan disimpan rapat-rapat, hingga tak bisa terlihat.
Tetapi bila ada kesalahan orang lain, walau cuma sedikit, maka dicari-carinya dan juga diungkapkan ke muka umum tanpa rasa malu.*

Selain itu, hatinya sangat senang bila melihat orang lain ada dalam kesusahan. Ia iri hati terhadap orang yang mendapatkan kenikmatan dan bahkan ia menjerumuskan orang yang sedang susah itu dalam kecelakaan. Orang-orang yang sangat baik dan sangat berbudi juga di fitnahnya. Ia sangat marah bila ada yang mencelanya – meskipun itu benar adanya, namun senang sekali andai disanjung. Lalu dengan berbagai cara itu ia menghina orang dan dengan rasa dengki hatinya memperkecil orang yang telah berjasa besar. Tiada sungkan-sungkan lagi ia mengecam segala perbuatan orang yang sedang asyik melaksanakan perbuatan baik.

Sungguh, demikianlah pikiran orang yang jahat karena ia suka mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal belum ada bukti yang dapat ia perlihatkan kepada umum, dan belum tentu ia lebih baik daripada orang yang ia persalahkan. Kata-katanya sajalah yang hebat, dan ia seperti burung enggang dengan patuknya yang sangat besar. Ia sendiri tak dapat terbang, ia diam saja dalam sarangnya, sebab kemampuannya tak sepadan dengan kata-katanya sendiri. Dan sungguh demikian jadinya dengan orang yang tak henti-hantinya memperturutkan segala kehendak nafsunya. Ia tak peduli ditertawakan orang lain, sebab khawatir dan takut dikatakan kalah bijaksana. Dan karena selalu ingin dipuji dan disanjung, maka ia berkata; “Tentulah saya akan menyelamatkan dunia, karena sayalah yang terbaik” Padahal jangankan ia berhasil, karena malah sebaliknya, ia terbawa masuk ke dalam Neraka akibat dosa-dosanya sendiri.

Untuk itulah, tutur kata yang jujur, halus, manis dan hati-hati akan dihargai orang lain. Begitu pula menjaga kesopanan bisa mengawetkan persahabatan. Karena ada pepatah lama yang berbunyi “Ajining dhiri soko lathi” yang berarti harga diri itu berasal dari ucapan.
Sehingga,l kata-kata yang manis disertai kejujuran akan menyenangkan orang lain, dan sebaliknya, kata-kata yang kasar mudah melukai perasaan orang lain, yang tentunya tidak akan pernah disukai siapapun.

Karena itu berusahalah untuk selalu berteman dengan orang-orang yang baik budi bahasanya dan sabar hatinya. Dan jangan berteman dengan orang yang jahat serta tidak dapat dipercaya, sebab tentu saja akan membawa pada musibah dan bencana. Lihatlah si angsa yang berteman dengan burung gagak, seluruh keluarganya habis mati. Demikian pula dengan orang yang tidak berhati-hati akan menemui bencana yang amat tak terhingganya.

Untuk itu perlulah menambah ilmu hikmah, yaitu ilmu tertang:
*pertama* adalah ilmu kamanungsan (kemanusiaan) yang lahir dari jalan inderawi dan melalui laku kamanungsan (perilaku manusiawi). Yang *kedua* adalah ilmu kesempurnaan yang lahir melalui pembelajaran langsung dari Sang Khalik. Untuk jenis kedua ini, ia terjadi melalui dua cara, yaitu dari luar dan dari dalam diri. Yang dari luar dilalui dengan belajar, sedangkan yang dari dalam dilalui dengan cara menyibukkan diri dengan jalan ber-tafakur (suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap sesuatu).

Oleh sebab itu berusahalah untuk selalu berteman dengan orang-orang yang baik budi bahasanya dan sabar hatinya. Dan jangan berteman dengan orang yang jahat serta tidak dapat dipercaya, sebab tentu saja akan membawa pada musibah dan bencana. Lihatlah si angsa yang berteman dengan burung gagak, seluruh keluarganya habis mati. Dengan demikian perlu diketahui bahwa sikap-sikap khas yang perlu ditanamkan oleh setiap pribadi di antaranya yaitu:

1. Sabar (kesabaran)
Sikap penuh kehati-hatian, tenang dan berpikiran jernih, serta tidak mudah menyerah dengan keadaan.

2. Nrimo (menerima apa adanya)
Mampu bereaksi secara rasional ketika mengalami kesulitan hidup ataupun kekecewaan, tidak roboh dan menentang secara percuma.

3. Rilo (Ikhlas)
Bersedia melepaskan keakuan dan menyesuaikan diri dengan alam semesta sebagaimana sudah ditentukan.

4. Temen (jujur)
Sikap yang tidak berpura-pura dan berbohong. Karena siapa yang dapat mengandalkan janjinya. Siapa yang bersikap jujur juga akan bersikap adil dan hatinya berani dan tenteram.

5. Prasojo (sederhana)
Hidup yang merasa cukup dan sederhana, serta bersedia menganggap diri sendiri lebih rendah (andapasor) dari orang lain alis rendah hati.

Untuk itulah, siapa yang memiliki sikap-sikap di atas tentunya akan berbudi luhur. Budi luhur adalah kebalikan dari semua sifat yang buruk dan dibenci, seperti kebiasaan mencampuri urusan orang lain (open, dahweh), budi yang rendah atau iri (srei), dengki, suka main intrik (jail) dan kasar (methakil). Budi luhur berarti mempunyai perasaan tepat bagaimana cara bersikap terhadap orang lain, apa yang bisa dan apa yang tidak bisa di lakukan dan dikatakan. Siapa yang berbudi luhur akan bersikap baik tidak hanya kepada orang baik, tetapi juga kepada orang yang tidak baik. Sebagaimana kata pepatah lama; “Sopo becik den beciki, sopo olo den beciki“.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA