Cerpen ke-15: Pelajaran dari Perjalanan yang Sunyi

Cerpen ke-15: Pelajaran dari Perjalanan yang Sunyi

Cerpen ke 15: Pelajaran dari Perjalanan yang Sunyi

Hari ini, Sabtu, 17 Januari 2026, saya bersama istri berangkat seperti biasa. Niat kami sederhana namun penuh kasih: mengantarkan baju-baju bersih untuk anak kami tercinta, Maulidia Fakhma Hayati, yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al Fath Jalen. Setiap hari Sabtu, rutinitas ini hampir tak pernah terlewat. Mengantar pakaian bersih, membawa pulang pakaian kotor, dan yang paling kami tunggu, bertemu sejenak dengan Maulidia untuk menanyakan kabar serta menyemangatinya agar terus istiqamah menuntut ilmu.

Namun, pagi itu terasa berbeda.

Ketika kami tiba di lingkungan pondok pesantren, suasananya lengang dan sunyi. Tidak tampak para santri, tidak terdengar hiruk-pikuk kegiatan belajar mengajar. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Fath Jalen, mulai dari TK IT, SD IT, SMP IT, hingga SMK IT, terlihat sepi tanpa aktivitas. Perasaan heran mulai menyelimuti hati kami.

Kami pun bertanya kepada beberapa orang yang kami jumpai, di antaranya penjaga toko dan kantin di sekitar pondok. Dari merekalah kami mengetahui bahwa hari ini pondok dan sekolah sedang libur. Rupanya, libur tersebut berkaitan dengan libur tanggal merah kemarin, Jumat, 16 Januari 2026, dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad ﷺ, sehingga diberlakukan libur bersama.

Istri saya sempat menyampaikan kegundahannya. Di grup wali murid, khususnya kelas 8 SMP IT Al Fath Jalen, tidak ada informasi libur yang kami terima. Padahal, informasi seperti ini sangat penting bagi para orang tua dan wali santri. Setidaknya, sebuah pemberitahuan sederhana dapat menghindarkan kebingungan dan perjalanan yang sia-sia.

Alhamdulillah, setelah istri saya berulang kali menghubungi Ustadzah Rizqoh melalui perangkat HP, akhirnya Allah memudahkan. Istri saya diperkenankan bertemu sejenak dengan Maulidia. Meski singkat, pertemuan itu sangat berarti. Rindu terobati, kabar tersampaikan, dan doa serta nasihat dapat diselipkan dari orang tua kepada anak tercinta.

Dalam kesempatan itu pula, istri saya membawa pulang pakaian-pakaian kotor Maulidia yang telah disiapkan di dalam tas, sebagaimana rutinitas yang biasa kami lakukan setiap pekan.

Dari perjalanan yang sempat terasa sunyi ini, kami memetik pelajaran berharga. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya kami lebih teliti dan memastikan terlebih dahulu informasi kegiatan pondok atau sekolah, terutama ketika berdekatan dengan hari besar atau tanggal merah. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa komunikasi dan klarifikasi sangatlah penting.

Walaupun pertemuan hari itu hanya berlangsung sebentar, kami bersyukur karena Allah tetap memberi kesempatan. Kami belajar untuk lebih sabar, lapang dada, dan bijak dalam menyikapi keadaan.

Semoga kisah sederhana ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar ke depan komunikasi semakin terjaga, informasi semakin jelas, dan setiap langkah yang kita tempuh senantiasa diliputi rasa syukur.

Karena dalam setiap perjalanan, selalu ada hikmah yang Allah titipkan, meski terkadang hadir melalui kejadian yang tak terduga.

Penulis:
Marolah Abu Akrom / Ust. Amrullah
(Jurnalis Media SinarLIMA dan guru BK SMP Laboratorium Jakarta)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA