Pantun renungan (edisi 14)) Adab dan Ilmu

Pantun renungan (edisi 14)) Adab dan Ilmu

 

Dalam satu riwayat dikisahkan
Ibunda Imam Malik berkata
Datangi Robi’ah bin Abi Abdirrahman
Belajar adab sebelum ilmu darinya

Belajar Adab dulu kemudian ilmu
KIsah dari ulama salafus solih
Begitulah hendaknya menuntut ilmu
Sebab dengan adab ilmu kan barokah

Kisah Imam Malik baru satu contoh
Tidak sedikit kisah yang hampir sama
Bila kita belajar dari sejarah
Hendaknya kita mencontohnya

Saat ini sebaliknya yang terjadi
Ilmu dahulu, adab dikesampingkan
Orang berilmu banyak di zaman ini
Sayangnya adab kurang diperhatikan

Hasan al-Bishri menasihati kita
Man La adaba lahu la ‘ilma lahu
Yang tiada adab pada dirinya
Sejatinya ia tidak berilmu

Melihat fenomena yang ada
Baik di medsos maupun televisi
Semua masalah dijawab olehnya
Padahal dia tak punya kompetensi

Syaikh ibnu Athoillah mengatakan
Yang slalu menjawab apa yang ditanya
Mengungkapkan apa yang disaksikan
Tanda kejahilan ada didirinya

*Penjelasan*

Dalam tradisi keilmuan ulama salaf, adab bukan hanya sekedar suplemen dan selingan yang diajarkan di sela-sela ilmu atau mata pelajaran yang dialokasikan hanya beberapa jam dalam seminggu. Ketika kita sibuk membicarakan pendidikan karakter, sesungguhnya ulama-ulama salaf telah memberikan contoh, yaitu pentingnya penanaman adab dalam mendidik dan proses menuntut ilmu. Bisa jadi hal ini berangkat dari hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini antara lain hadits-hadits tersebut:

أَدَّبَنِى رَبِّى اَحْسَنَ تَأْدِيْـبِى

“Tuhanku telah mendidikku, maka ia menjadikan pendidikanku menjadi baik”(HR.Ibnu Hibban)

أدبوا أولادكم على ثلاثة خصال : حب نبيكم ، وحب آل بيته ، وتلاوة القرآن

“ Didik anak kalian tentang tiga hal : Cinta nabi, Cinta keluarganya dan cinta membaca al-Qur-an.” (HR. al-Thabrani).

أدّبوا اولادكم و احسنوا ادابهم

“Didiklah anak-anak kamu dengan pendidikan yang baik. (HR. Ibnu majah).

Hadits-hadits di atas menggunakan diksi Addaba dan addibu yang dalam derivasi katanya berkembang menjadi ta’dib yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar.
Dalam satu riwayat Imam Malik rahimahullahu mengisahkan:

قال مالك: قلت لأمي: ” أذهب، فأكتب العلم؟ “، فقالت: ” تعال، فالبس ثياب العلم “، فألبستني ثياب مسمرة، ووضعت الطويلة على رأسي، وعممتني فوقها، ثم قالت: ” اذهب، فاكتب الآن “، وكانت تقول: ” اذهب إلى ربيعة، فتعلًّمْ من أدبه قبل علمه

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian beliau memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (Ibnu Farhun al-Maliki, *al-Dibaj al-Madzhab Fi Ma’rifah A’yan ‘Ulama al-Mazhab*, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1996, cet.1, hal. 63)

Dua faktor penting agar ilmu menjadi kokoh, barokah dan bermanfaat dunia akhirat adalah niat ikhlas karena Allah SWT semata dan menjaga adab-adabnya. Sehingga, dalam Islam, orang yang berilmu sudah sepatutnya beradab.
Adab demikian penting kedudukannya dalam Islam karena, nilai-nilai ketaatan kepada Allah SWT dan cinta kepada Rasulullah shollalllaahu ‘alaihi wasallam itu biasanya tergantung pada adabnya. Dalam menjalankan ketaatan yang berupa ibadah seseorang butuh ilmu sekaligus adab. Bahkan bisa jadi orang yang tidak peduli adab, ia tidak akan mampu mencapai derajat kesalihan. Dengan adab orang akan memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial. Ia tahu menempatkan dirinya sebagai hamba Allah terkait hubungan vertikalnya kepada-Nya, dan juga tahu untuk memposisikan dirinya sebagai makhluk sosial dan ini terkait hubungan horisontalnya kepada makhluk Allah yang lain.

Untuk itu tidak perlu heran bila kita belajar fiqh misalnya, ada ajaran-ajaran yang terkait dengan adab. Sebab adab merupakan bagian dari keseluruhan kegiatan ibadah. Ketika kita mau sholat, kita diperintahkan menutup aurat, berwudhu, mandi, bersuci, memakai wangi-wangian bila sholatnya bersama orang lain (berjamaah) bukankah itu merupakan bagian dari adab. Oleh karena itulah Imam Hasan al-Bishri mengatakan: “Orang yang tidak beradab sejatinya tidak punya ilmu”.
Ungkapan Imam Hasan al-Bishri sejalan dengan ungkapan yang dinyatakan oleh syaikh Ibnu Athoillah al-sakandari dalam hikamnya:

من رأيته مجيباً عن كل ما سئل ومعبراً عن كل ما شهد وذاكراً كل ما علم فاستدل بذلك على وجود جهله

“Orang yang kau lihat menjawab segala pertanyaan, mengungkapkan segala yang disaksikan, dan menyebutkan semua yang diketahuinya, maka jadikan itu sebagai tanda ‘kebodohannya’.”

Dari hikam di atas, salah satu adab orang berilmu adalah berbicara apa yang ia ketahui dan yang ia miliki. Bila tidak tahu maka ia akan diam dan itulah orang berilmu yang beradab. Bahkan ketika ia mengungkapkan segala hal supaya dianggap sebagai orang berilmu padahal ia tidak tahu, maka kata syaikh Ibnu Athoilllah al-Sakandariy, hal tersebut mengindikasikan bahwa ia sebenarnya sedang memperlihatkan kebodohannya. Wa al- ‘iyadzu billah.

Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi*, 230902020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA