Otw Pendidikan Keluarga oleh :Zulkarnaen

banner post atas

Entah, mungkin banyak dari kita yang baru ketemu sama dunia nyata. Kemarin ada salah seorang teman yang post fotonya di fb. Captionnya kurang lebih “alhamdulillah ujian skripsi lancar”. Di bawahnya ada orang komentar “selamat datang di dunia nyata, dunia yang butuh kerja nyata bukan teori belaka”. Tulisan ini tidak akan menanggapi komentar itu.

Bicara tentang dunia nyata. Setiap kita mungkin sepakat bahwa apa yang dipelajari orang di dalam kampus adalah semacam imajinasi, ini kata Wakil Rektor Universitas Hamzanwadi atau sesuatu yang sangat ideal. Untuk mengerucutkan maksud tulisan ini, kita fokus tentang Pendidikan Keluarga. Bagi kita yang dewasa ini, pasti setuju soal pentingnya Pendidikan Keluarga. Entah, kok dulu kita gak melihat pentingnya Pendidikan Keluarga. Realitas itu kemana dulu pas kita masih anak-anak, remaja?
Beberapa waktu lalu kita sudah melewati hari-hari penting untuk anak-anak.

Misalnya Hari Anak Nasional dan Hari Anak Internasional. Dalam momentum-momentum itu, kalau konteks Indonesia dalam waktu-waktu terahir, satu dua tiga tahun lalu, ia tak pernah jauh dari kampanye pentingnya Pendidikan Keluarga. Sepertinya memang usaha yang dilakukan selama ini tidak berdampak signifikan atau memang usahanya kurang wkwk.

Iklan

Ternyata kampanye pentingnya Pendidikan Keluarga perlu saya lakukan juga di desa sendiri. Cuman terkadang mikir lembaga pemerintah apa yang ngurus soal ini? Ini kan masalah Nasional, setiap desa di Nusantara ini pasti memiliki masalah dalam Pendidikan Keluarga. Bahkan Keluarga di kota pun butuh wawasan soal Pendidikan Keluarga. Berpendidikan tak menentukan orang tahu betul cara mendidik anak.

Informasinya telah banyak komunitas di Nusantara ini yang konsentrasi Parenting. Namun di Lombok tak pernah terdengar atau memang saya aja yang gak tahu. Banyak hal yang kemudian muncul dalam pikiran, tak hanya mikir lembaga Pemerintah yang mana, namun sampai nanyak apakah benar Pendidikan Keluarga juga menggunakan pemikiran Liberalisme, harus lemah lembut, anak-anak adalah manusia yang lahir dengan paket kemanusiaannya serta hak dan kewajibannya. Saya pikir ini liberal an sich, integrasi pendekatan agamanya gak ada.
Yang jelas, kita sudah akrab dengan kampanye Pendidikan Keluarga.

BACA JUGA  Sepuluh Pasar  Di Lotim Akan Jadi Contoh Penerapan Protokol Kesehatan Menuju New Normal

Pendidikan Keluarga ini yang sebut sebuah imajinasi atau sesuatu yang ideal. Banyak dari kita mengidealkan setiap orang tua meluangkan waktunya untuk mendidikan anaknya. Kalau boleh tahu sejarah kampanye Pendidikan Keluarga itu gimana?
Saya adalah orang yang bilang sabar. Kita butuh kesabaran jika mengharapkan keluarga melakukan Pendidikan Keluarga. Di lapangan atau di desa seperti desa saya, ada banyak infrastruktur yang belum ada atau supaya lebih jelas banyak orang tua yang baru ketemu anaknya selesai Isya. Mereka ke sawah seharian. Mau gak mau, ini harus diselesaikan dulu bagaimana. Hehe.

Salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah memastikan guru ngajinya. Eh ini untuk di desa saya, karena setiap Magrib sampai Isya anak ngaji di Musholla. Harus dipastikn guru ngaji membantu melakukan Pendidikan Keluarga untuk membantu para orang tua. Sembari suatu hari orang tua mampu melakukan hal ideal itu. Jadi, perlu diperluas peran guru ngaji tak hanya membantu membaca Quran tetapi melakukan Pendidikan untuk anak orang. Oh ya Pendidikan Keluarga itu gimana sih?