Nasionalisme di Tanah Rantau: Catatan dari Sanggar Kecil di Kuala Lumpur

Nasionalisme di Tanah Rantau: Catatan dari Sanggar Kecil di Kuala Lumpur

Nasionalisme di Tanah Rantau: Catatan dari Sanggar Kecil di Kuala Lumpur

Pukul 15.30, bersama Adel dan Wafi, kawan saya, kami tiba di Sanggar Bimbingan Klang Lama dengan satu identitas yang kami bawa sejak berangkat: mahasiswa KKM Internasional. Di kepala saya, kunjungan itu adalah bagian dari pengabdian—agenda, program, bahan laporan, sekaligus tanggung jawab akademik yang harus dituntaskan. Semuanya terdengar sistematis, terencana, dan formal.

Namun bayangan itu berubah begitu saya melangkah masuk ke ruang sanggar yang sederhana. Entah mengapa, suasananya terasa seperti pintu menuju pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan pengabdian. Dinding-dindingnya dipenuhi stiker berbahasa Indonesia, potret para pahlawan nasional tersusun rapi, dan foto Presiden Republik Indonesia terpajang jelas di salah satu sisi kelas. Di ruang kecil itu, nuansa Indonesia terasa begitu hidup, seakan-akan sepotong tanah air sengaja dihadirkan di sudut Kuala Lumpur.

Ketika pembelajaran dimulai, ruangan mendadak ramai oleh suara anak-anak. Suasananya hangat, riuh, dan akrab. Tawa mereka pecah tanpa canggung. Namun di tengah keriuhan itu, ada satu hal yang membuat saya terdiam: bahasa yang mereka gunakan.

“Cikgu, saya nak ke tandas.”
“Eh, tak boleh laa.”

Logat mereka fasih; pilihan kata dan susunan kalimatnya sepenuhnya bernuansa Malaysia. Saya tersenyum melihatnya. Mereka adalah anak-anak Indonesia—dan mereka sendiri mengatakannya dengan yakin. Saat kami bertanya, “Kalian orang Indonesia dari mana?”, jawaban mereka mengalir penuh kebanggaan: “Saya orang Madura,” “Saya orang Jawa,” “Saya orang Bali,” “Saya orang Aceh.”

Namun cara mereka berbicara menghadirkan rasa asing yang sulit dijelaskan. Secara darah dan keturunan, mereka berasal dari bangsa yang sama dengan saya. Tetapi secara kultural, mereka tumbuh dalam lanskap yang berbeda. Di titik itulah saya sadar: saya tidak hanya datang untuk mengajar, saya datang untuk belajar tentang Indonesia yang hidup jauh dari tanahnya sendiri.

Anak-anak di SB Klang Lama tumbuh dari latar belakang yang tidak sederhana. Ada yang lahir di Malaysia dan belum pernah sekali pun menjejakkan kaki di Indonesia. Ada pula yang lahir di Jawa, Aceh, atau Madura, tetapi sejak bayi sudah dibawa orang tuanya merantau dan menjalani seluruh masa kecil di negeri jiran. Sebagian merupakan anak dari keluarga campuran—ibu dari Aceh dengan ayah dari Bangladesh, ibu dari Bali dengan ayah dari Arab—atau kombinasi latar belakang lain yang mencerminkan pertemuan berbagai dunia. Ada juga yang kedua orang tuanya sama-sama Indonesia, tetapi seluruh pengalaman hidup mereka dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya Malaysia.

Melihat mereka, saya tak bisa menahan diri untuk bertanya dalam hati: jika seseorang tinggal di Malaysia sejak lahir, apakah ia masih merasa Indonesia?

Kita sering memahami nasionalisme sebatas kelengkapan dokumen kewarganegaraan. Padahal identitas tidak pernah dibentuk oleh kertas resmi. Ia tumbuh dari bahasa yang kita gunakan, cerita yang kita dengar, simbol yang kita kenal, serta ingatan kolektif yang kita warisi. Jika bahasa Indonesia bukan bahasa dominan mereka, jika budaya Indonesia hanya hadir lewat cerita orang tua, jika tanah air hanya dikenal melalui gambar di buku pelajaran—maka apa arti menjadi Indonesia bagi mereka? Apakah Indonesia hanya sebatas tempat asal orang tua? Ataukah sebuah kesadaran yang hidup di dalam diri?

Saya tidak menemukan jawaban yang hitam-putih. Yang saya temukan justru kenyataan bahwa identitas mereka berada di ruang antara: tidak sepenuhnya Malaysia, tetapi juga tidak sepenuhnya Indonesia. Dan justru di ruang antara itulah nasionalisme diuji.

Di tengah situasi tersebut, SB Klang Lama hadir bukan sekadar tempat belajar. Ia menjadi ruang kecil yang menjaga nilai dan identitas keindonesiaan. Di ruangan sederhana itu, anak-anak belajar menggunakan bahasa Indonesia, menyanyikan lagu nasional, mendengar cerita rakyat, dan memainkan permainan tradisional. Mereka dikenalkan pada sebuah tanah air yang mungkin belum pernah mereka pijak, tetapi tetap menjadi bagian dari diri mereka.

Sebagai mahasiswa yang tumbuh dan besar di Indonesia, saya terbiasa melihat nasionalisme dalam bentuk upacara, simbol, dan seremoni. Di tanah air, nasionalisme terasa mapan, seolah tidak pernah terancam. Namun di Kuala Lumpur, saya melihat wajah lain: nasionalisme yang rapuh, diuji jarak, dan bergantung sepenuhnya pada kesadaran.

Menariknya, justru anak-anak inilah yang tampak paling jujur dalam mencari identitas. Mereka bertanya tentang Indonesia dengan rasa ingin tahu yang tulus. Mereka ingin tahu seperti apa kampung halaman orang tuanya. Mereka ingin tahu mengapa mereka berbeda. Dari mereka saya belajar bahwa mungkin Indonesia tidak selalu soal tanah tempat kita lahir, melainkan tentang nilai yang terus dijaga meski jarak memisahkan.

Anak-anak diaspora bukan sekadar angka dalam statistik pekerja migran. Mereka adalah generasi yang membawa masa depan Indonesia, meski tumbuh di luar batas geografisnya. Negara perlu memandang mereka bukan hanya sebagai warga negara yang tinggal di luar negeri, tetapi sebagai identitas yang sedang dibentuk. Pendidikan harus menjadi jembatan utama untuk menjaga keterikatan itu—bukan sekadar formalitas administratif, melainkan proses pewarisan bahasa, sejarah, dan kebudayaan.

Di era globalisasi, batas negara memang semakin cair. Namun identitas tidak boleh dibiarkan larut begitu saja. Di sebuah sudut Kuala Lumpur, Indonesia masih berusaha bertahan melalui tawa anak-anak yang sedang belajar mengeja namanya sendiri.

Penulis : Muhammad Rizqiman

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA