MUTIARA HIKMAH (31) KEJANGGALAN RUU HIP DAN SIKAP KITA Oleh : Abu Akrom

banner post atas

Hari-hari ini kita digemparkan oleh satu produk rancangan undang-undang yang mau dijadikan sebagai suatu ketentuan dalam memahami dan mengamalkan dasar Negara yaitu Pancasila yang sudah dianggap final dan tidak boleh diotak-atik lagi. Rancangan tersebut bernama Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Sebenarnya RUU HIP ini bermaksud ingin menegaskan bagaimana seharusnya memahami nilai-nilai pancasila yang terdiri dari 5 dasar yang ada. Tetapi setelah ditelaah lebih jauh secara umum nilai-nilai pancasila yang sudah final dan sempurna itu mau disempitkan nilainya, dari pancasila menjadi trisila dan dari trisila menjadi ekasila.

Salah satu pasal yang dinilai sangat kontroversi, janggal dan meresahkan masyarakat adalah pasal 7 yang terdiri dari tiga butir ayat, yaitu:

Iklan

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan.

(2) Ciri Pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.

(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Kalau kita mengkaji dengan akal yang jernih dari setiap butir ayat pada pasal 7 ini, terlihat ada indikasi untuk mengurangi lima dasar yang sudah disepakati oleh para pendiri dan pendahulu bangsa yang telah susah payah merumuskan 5 nilai pancasila yang agung itu.

Ketahuilah bahwa para pendiri dan pendahulu kita, ketika merumuskan ke-5 dasar nilai pancasila ini terinspirasi dari ajaran agama yang sangat luhur, untuk menyatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang memiliki latar belakang ras, suku, bahasa, agama dan budaya yang berbeda-beda. Kita tidak bisa membayangkan kalau Pancasila ini tidak ada, mungkin NKRI tidak akan pernah ada, karena betapa sulitnya menyatukan seluruh rakyat dengan keanekaragaman yang dimiliki.

BACA JUGA  TANGGAPAN LOGIS TGB (Terkait Polemik Penamaan Bandara di Lombok)

Karena demikian pentingnya Pancasila ini, maka kita sebagai rakyat wajib membela dan mempertahankannya. Jangan sampai 5 sila dasar yang sudah final ini, malah dikurangi maknanya. Sungguh ini jangan sampai terjadi, karena pasti akan menimbulkan gejolak yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat.

Sikap kita terhadap RUU HIP ini adalah menolak dengan tegas, jangan sampai disahkan oleh wakil rakyat kita di DPR, demi menjaga stabilitas keamanan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih baik sekarang kita focus pada penanganan covid 19, agar cepat pulih dan terbebas dari corona, sehingga seluruh aktifitas kegiatan kita sehari-hari, dapat terlaksana dengan lancar dan maksimal.

Jakarta, 28 Syawwal 1441 H/20 Juni 2020 M